Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Cerita Mantan Pekerja Migran asal Blitar usai Pulang Merantau Kembangkan Bisnis Interior Premium, Seperti Apa Perjuangannya?

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 12 Juni 2026 | 15:12 WIB
Bagus Anggi, dari Pekerja Migran di Taiwan Modal Mandiri
Pulang Kampung Pilih Bangun Bisnis Interior Premium
Bagus Anggi, dari Pekerja Migran di Taiwan Modal Mandiri Pulang Kampung Pilih Bangun Bisnis Interior Premium

BLITAR KAWENTAR - Bagus Anggi Satriyo Mandiri membuktikan bahwa pengalaman menjadi pekerja migran bukan sekadar cerita merantau.

Ilmu, jaringan, dan pengalaman yang didapat selama bertahun-tahun di Taiwan kini dibawa pulang untuk membangun bisnis interior modern dari kampung halamannya di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo.

Baca Juga: Review Infinix GT 50 Pro: Main Mobile Legends 144 FPS Sejam Penuh Tanpa Drop, Benarkah Jadi Raja HP Gaming ?

Bagi sebagian orang, menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) mungkin hanya dipandang sebagai perjalanan mencari nafkah di negeri orang. 

Namun, bagi Bagus Anggi Satriyo Mandiri, masa-masa perantauan justru menjadi ruang belajar yang membentuk karakter, wawasan, sekaligus mimpi besar yang kini berhasil ia wujudkan.

Baca Juga: Kasus Korupsi BPR Kota Blitar Segera Disidangkan, Kejaksaan Kebut Pemberkasan Penyidikan

Pria yang kini menetap di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, itu pernah menghabiskan masa produktifnya di Taiwan. Dia bekerja di salah satu perusahaan interior berskala besar. 

Dari tempat itulah, Bagus mengenal disiplin industri, ketelitian dalam produksi furnitur, hingga standar kualitas internasional yang kemudian menjadi bekal berharga ketika kembali ke Indonesia.

Baca Juga: Review Infinix GT 50 Pro Setelah Seminggu Dipakai, Trigger Button Jadi Senjata Rahasia yang Bikin Gamer Ketagihan

"Taiwan bukan hanya tempat saya bekerja, tetapi juga tempat saya belajar tentang profesionalitas, kedisiplinan, dan bagaimana sebuah produk dibuat dengan standar tinggi," ujar Bagus.

Namun, perjalanan Bagus di Negeri Formosa tidak berhenti sebagai pekerja industri.

Baca Juga: Infinix GT 50 Pro Bikin Geger Gamer, Hydroflow Liquid Cooling Diklaim Mampu Jaga FPS 144 Tetap Stabil Berjam-jam

Di tengah-tengah aktivitas kerja yang padat, dia tetap menempuh pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Manajemen dari Universitas Terbuka Taiwan.

Semangat belajarnya juga berjalan beriringan dengan jiwa kepemimpinan dan kepedulian terhadap sesama warga Indonesia di perantauan.

Baca Juga: Infinix GT 30 Pro vs Poco X7 Pro, Adu Performa Gaming dan Kamera di Kelas Menengah, Mana yang Lebih Layak Dibeli ?

Bagus pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan.

Nama Bagus semakin dikenal luas setelah menggagas kegiatan budaya "Indonesia Tempo Dulu 1" di Taiwan.

Baca Juga: Infinix GT 30 Pro vs Poco X7 Pro, Siapa Raja HP Gaming Mid Range ? Desain Futuristik dan Trigger Button Jadi Pembeda

Festival tersebut berhasil mempertemukan ribuan warga negara Indonesia dan menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya tanah air di negeri orang.

Kecintaannya terhadap Indonesia juga membawanya terlibat dalam proyek penelitian bersama Museum Nasional Taiwan.

Baca Juga: Infinix GT 30 Pro Bikin Poco X7 Pro Ketar-Ketir ? HP Gaming Murah Ini Punya Trigger Button dan Lampu Futuristik yang Bikin Penasaran

Dia dipercaya membantu proses identifikasi, kurasi, serta dokumentasi berbagai koleksi bersejarah asal Indonesia yang tersimpan di museum tersebut.

"Di mana pun berada, saya selalu percaya bahwa kita tetap membawa nama Indonesia. Karena itu saya ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik melalui komunitas maupun kegiatan budaya," ungkapnya.

Baca Juga: Masih Layak Dibeli di 2025 ? Infinix GT 30 Pro Tawarkan Fitur Flagship dan Performa Gaming yang Sulit Ditandingi di Kelasnya

Setelah menuntaskan perjalanan panjangnya di Taiwan, Bagus memilih kembali ke tanah kelahirannya di Blitar. 

Alih-alih memulai dari nol tanpa arah, dia membawa pulang pengalaman industri, kemampuan manajemen, serta jejaring internasional untuk membangun usaha interior bernama Disma House.

Baca Juga: Review Infinix GT 30 Pro Setelah 2 Bulan Pemakaian, Performa Gaming Monster Tapi Punya Sejumlah Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan

Disma House digagasnya sebagai vendor interior yang menawarkan konsep fully custom atau pembuatan furnitur sesuai kebutuhan pelanggan.

Mulai dari kitchen set, lemari pakaian, ruang keluarga, hingga interior kantor dapat dirancang berdasarkan ukuran ruangan, konsep desain, serta anggaran konsumen.

Baca Juga: Infinix Hot 60 Pro Plus Resmi Hadir, HP 2 Jutaan Paling Tipis di Dunia dengan Baterai 5.160 mAh dan Layar AMOLED 144Hz

Salah satu pasar utama yang ia bidik adalah para PMI yang ingin mengubah hasil kerja keras mereka selama di luar negeri menjadi aset nyata berupa rumah dengan interior berkualitas.

"Saya memahami perjuangan teman-teman PMI. Mereka bekerja bertahun-tahun di luar negeri dan tentu ingin memiliki rumah impian ketika kembali. Di sinilah, kami hadir untuk membantu mewujudkannya," kata Bagus.

Baca Juga: Review Infinix Hot 60 Pro Plus, HP 2 Jutaan dengan Layar AMOLED 144Hz, Kamera Sony dan Update Android Sampai 5 Tahun

Selain melayani pelanggan pribadi, Disma House juga mulai dipercaya mengerjakan berbagai proyek interior di sektor pemerintahan. 

Bagus menyebut seluruh pekerjaan dilakukan dengan membawa standar yang dia pelajari selama bekerja di industri interior Taiwan.

Baca Juga: Infinix Hot 60 Pro Plus Resmi Hadir, Smartphone 2 Jutaan Paling Tipis di Dunia dengan Baterai 5.160 mAh dan Layar AMOLED 144Hz

“Kunci sebuah produk interior bukan hanya soal tampilan yang menarik, tetapi juga kualitas, ketahanan, dan fungsi ruang yang nyaman digunakan,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : Riftanta Yuna Fellanda
#Bagus Anggi Satriyo Mandiri #Disma House #Bisnis Interior Blitar #Universitas Terbuka Taiwan #pekerja migran indonesia