Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sambut Panen Raya, Wisata Kebun Kopi De Karanganjar Blitar Gelar Ritual Manten Kopi Joko dan Sri Gondel

Fajar Rahmad Ali Wardana • Minggu, 14 Juni 2026 | 19:40 WIB
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR
KHIDMAT: Pemuka adat menyatukan tangan sepasang muda mudi pembawa biji kopi lanang dan wadon yang sudah dikawinkan dalam upacara temanten kopi di perkebunan Kopi De Karanganjar, Minggu (14/6/2026).
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR KHIDMAT: Pemuka adat menyatukan tangan sepasang muda mudi pembawa biji kopi lanang dan wadon yang sudah dikawinkan dalam upacara temanten kopi di perkebunan Kopi De Karanganjar, Minggu (14/6/2026).

BLITAR KAWENTAR - Suasana Wisata Kebun Kopi Karanganyar terlihat berbeda dari biasanya di Minggu (14/6) pagi. Wisatawan ramai memasuki loket di destinasi perkebunan kopi tersebut.

Tidak jauh dari pintu masuk, rombongan arak-arak temanten kopi bersiap untuk memulai acara yang dimulai pukul 08.00 WIB.

Dari pintu masuk, barisan manten lanang berjalan mengelilingi perkebunan kopi yang berada di belakang Kafe dan Museum Kopi De Karanganjar. Rombongan berjalan sejauh 200 meter hingga dipertemukan dengan manten wadon di timur perkebunan. Lalu, pemuka adat memilih dan memetik buah kopi untuk tradisi upacara Temanten Kopi.

Baca Juga: Chery Tiggo 9 CSH AWD CKD Resmi Mengaspal, SUV Plug-in Hybrid 537 HP Ini Bisa Tempuh 1.400 Km dan Punya Kursi Pijat

Kopi yang telah dipetik dibalut dengan kain putih. Lantas, pemuka adat menuntun sepasang temanten, yakni biji kopi lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan) yang sudah dikawinkan. Lalu diberikan kepada kedua temanten untuk dibawa menuju pengelola perkebunan.

Setelah itu, petani dipersilakan memetik kopi untuk dipanen.

Pemuka adat memilih biji kopi lanang dan wadon yang berkualitas untuk dikawinkan, Minggu (14/6/2026).
Pemuka adat memilih biji kopi lanang dan wadon yang berkualitas untuk dikawinkan, Minggu (14/6/2026).

“Kopi itu rupanya memang ada kelaminnya. Ada biji lanang dan perempuan. Nah, Joko Gondel dan Sri Gondel inilah yang dikawinkan sebagai simbol rasa syukur," ujar Direktur Utama Kebun Kopi Karanganyar, Wima Brahmantya, sembari tersenyum menceritakan keunikan tradisi tersebut.

Baca Juga: Menikmati Sajian Kopi di Kedai Kopi Kereta Klasik Lantai Dua Pasar Legi Kota Blitar

Menariknya, Wima yang merupakan cucu dari pendiri perusahaan perkebunan legendaris ini mengaku baru mengetahui eksistensi tradisi tersebut pada 2015, tepat ketika dirinya mulai memimpin perusahaan.

Selama puluhan tahun, ritual Manten Kopi sengaja digelar tertutup dan hanya menjadi konsumsi spiritual internal para pekerja kebun.

Dia meyakini ritual ini lahir dari rahim budaya para pekerja Jawa di perkebunan tersebut, bukan atas perintah komandan atau sinder Belanda kala itu. Tentu tidak mungkin komandan Belanda yang memulai tradisi se-Jawa ini.

Baca Juga: VinFast VF6 Eco Dibanderol Rp384 Jutaan, SUV Listrik dengan Jarak Tempuh 470 Km Ini Tawarkan HUD dan Kabin Modern

Dia bersyukur tradisi ini sekarang tetap lestari dan sudah dibuka untuk publik sebagai daya tarik wisata edukasi.

"Saya cari tahu, ternyata akarnya sudah ada sejak era kolonial. Namun, siapa persisnya yang memulai ritual ini, sekarang masih menjadi misteri," ungkap Wima.

Bagi masyarakat perkebunan, Manten Kopi bukan sekadar pertunjukan teatrikal tanpa makna.

Di balik arak-arakan dan pakaian adat yang dikenakan para pemuda-pemudi pendukung acara, bahkan beberapa di antaranya setia mendukung ritual ini sejak masa sekolah hingga bangku kuliah, ada doa dan harapan besar yang disisipkan.

Baca Juga: Kedai Kopi di Kota Blitar Ini Hadirkan Sentuhan Vintage dan Chinese

“Pemeran manten lanang dan wadon ini sudah empat kali berperan dan beberapa kali dikawinkan,” canda Wima.

Melalui ritual ini, terselip sebaris doa agar proses pemetikan kopi berjalan lancar, hasil panen melimpah, serta seluruh pekerja kebun diberikan keselamatan dan kesejahteraan yang kelak berputar membawa berkah bagi masyarakat Blitar secara luas.

Lebih jauh, Wima menilai Manten Kopi memiliki potensi branding kebudayaan yang luar biasa berat jika dikemas dengan kekuatan narasi yang kuat.

Baca Juga: VinFast VF6 Eco Dibanderol Rp384 Jutaan, SUV Listrik dengan Jarak Tempuh 470 Km Ini Tawarkan HUD dan Kabin Modern

Dia mencontohkan festival lempar tomat La Tomatina di Spanyol yang mendunia hanya karena konsistensi merawat narasi tradisinya. Blitar pun dinilai tidak kekurangan modal kebudayaan semacam itu.

"Kita punya Manten Kopi, ada ritual di kebun tebu, ada jamasan pusaka, hingga perayaan Pradah. Tugas kita bersama, termasuk teman-teman pariwisata, adalah menguatkan narasinya. Blitar punya potensi sangat besar untuk menembus panggung wisata budaya skala nasional," pungkasnya.(jar/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Museum Kopi De Karanganjar #panen raya #blitar #Manten Kopi #tradisi