Tidak jauh dari pintu masuk, rombongan arak-arak temanten kopi bersiap untuk memulai acara yang dimulai pukul 08.00 WIB.
Dari pintu masuk, barisan manten lanang berjalan mengelilingi perkebunan kopi yang berada di belakang Kafe dan Museum Kopi De Karanganjar. Rombongan berjalan sejauh 200 meter hingga dipertemukan dengan manten wadon di timur perkebunan. Lalu, pemuka adat memilih dan memetik buah kopi untuk tradisi upacara Temanten Kopi.
Kopi yang telah dipetik dibalut dengan kain putih. Lantas, pemuka adat menuntun sepasang temanten, yakni biji kopi lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan) yang sudah dikawinkan. Lalu diberikan kepada kedua temanten untuk dibawa menuju pengelola perkebunan.
Setelah itu, petani dipersilakan memetik kopi untuk dipanen.
“Kopi itu rupanya memang ada kelaminnya. Ada biji lanang dan perempuan. Nah, Joko Gondel dan Sri Gondel inilah yang dikawinkan sebagai simbol rasa syukur," ujar Direktur Utama Kebun Kopi Karanganyar, Wima Brahmantya, sembari tersenyum menceritakan keunikan tradisi tersebut.
Baca Juga: Menikmati Sajian Kopi di Kedai Kopi Kereta Klasik Lantai Dua Pasar Legi Kota Blitar
Menariknya, Wima yang merupakan cucu dari pendiri perusahaan perkebunan legendaris ini mengaku baru mengetahui eksistensi tradisi tersebut pada 2015, tepat ketika dirinya mulai memimpin perusahaan.
Selama puluhan tahun, ritual Manten Kopi sengaja digelar tertutup dan hanya menjadi konsumsi spiritual internal para pekerja kebun.
Dia meyakini ritual ini lahir dari rahim budaya para pekerja Jawa di perkebunan tersebut, bukan atas perintah komandan atau sinder Belanda kala itu. Tentu tidak mungkin komandan Belanda yang memulai tradisi se-Jawa ini.
Dia bersyukur tradisi ini sekarang tetap lestari dan sudah dibuka untuk publik sebagai daya tarik wisata edukasi.
"Saya cari tahu, ternyata akarnya sudah ada sejak era kolonial. Namun, siapa persisnya yang memulai ritual ini, sekarang masih menjadi misteri," ungkap Wima.
Bagi masyarakat perkebunan, Manten Kopi bukan sekadar pertunjukan teatrikal tanpa makna.
Di balik arak-arakan dan pakaian adat yang dikenakan para pemuda-pemudi pendukung acara, bahkan beberapa di antaranya setia mendukung ritual ini sejak masa sekolah hingga bangku kuliah, ada doa dan harapan besar yang disisipkan.
Baca Juga: Kedai Kopi di Kota Blitar Ini Hadirkan Sentuhan Vintage dan Chinese
“Pemeran manten lanang dan wadon ini sudah empat kali berperan dan beberapa kali dikawinkan,” canda Wima.
Melalui ritual ini, terselip sebaris doa agar proses pemetikan kopi berjalan lancar, hasil panen melimpah, serta seluruh pekerja kebun diberikan keselamatan dan kesejahteraan yang kelak berputar membawa berkah bagi masyarakat Blitar secara luas.
Lebih jauh, Wima menilai Manten Kopi memiliki potensi branding kebudayaan yang luar biasa berat jika dikemas dengan kekuatan narasi yang kuat.
Dia mencontohkan festival lempar tomat La Tomatina di Spanyol yang mendunia hanya karena konsistensi merawat narasi tradisinya. Blitar pun dinilai tidak kekurangan modal kebudayaan semacam itu.
"Kita punya Manten Kopi, ada ritual di kebun tebu, ada jamasan pusaka, hingga perayaan Pradah. Tugas kita bersama, termasuk teman-teman pariwisata, adalah menguatkan narasinya. Blitar punya potensi sangat besar untuk menembus panggung wisata budaya skala nasional," pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah