Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Antisipasi Dampak Musim Kemarau Panjang, Petani Blitar Selatan Pilih Tunda Tanam Cabai

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 16 Juni 2026 | 16:05 WIB
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR
DAMPAK KEMARAU: Pasokan cabai di pasaran diperkirakan berkurang karena stok dari petani menipis.
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR
DAMPAK KEMARAU: Pasokan cabai di pasaran diperkirakan berkurang karena stok dari petani menipis.

BLITAR KAWENTAR – Ancaman kelangkaan pasokan komoditas hortikultura membayangi pasar tradisional di Blitar Raya. Memasuki musim kemarau panjang, sejumlah petani di wilayah Blitar khususnya bagian selatan dipastikan tidak bisa melakukan penanaman cabai.

Kondisi ini mulai memicu penyusutan stok di tingkat pedagang.

Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, membenarkan adanya tren penurunan produksi tersebut.

Baca Juga: Kepolisian Siagakan 578 Personel Amankan Malam Satu Suro di Blitar, Pantau Ketat Kelompok Penggembira 

Minimnya ketersediaan barang di pasar saat ini terjadi akibat siklus tanaman yang mulai habis. Maka dari itu, harga cabai mulai tinggi pasca berakhirnya masa panen raya.

”Sebagian besar tanaman cabai yang ditanam pada musim sebelumnya sudah memasuki akhir masa panen. Akibatnya, hasil yang masuk ke pasar mulai berkurang sehingga pasokan tidak sebanyak beberapa bulan lalu," ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Dia melanjutkan, suhu udara yang menyengat dan minimnya pasokan air akibat kemarau panjang memukul sektor pertanian di wilayah selatan.

Baca Juga: Mahasiswa Magang UMM Saksikan MoU Kejari Kabupaten Blitar dan PLN UP3 Kediri, Belajar Langsung Peran Jaksa Pengacara Negara

Karakteristik geografis lahan pertanian di Blitar selatan mayoritas masih berupa lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada pergantian musim. Karena kondisinya kering, para petani memilih untuk menunda masa penanaman.

Mandeknya aktivitas tanam baru inilah yang memicu kepanikan pasar terkait stabilitas pasokan harian. Berkurangnya stok secara otomatis mengerek grafik harga jual cabai di tingkat konsumen menjadi lebih mahal.

”Tertundanya musim tanam berpotensi memengaruhi ketersediaan cabai dalam beberapa bulan ke depan. Sebab, belum adanya tanaman pengganti membuat pasokan baru dari petani belum bisa masuk ke pasar dalam waktu dekat," tuturnya. 

Baca Juga: Realiasi Pajak MBLB Kabupaten Blitar Tembus Rp 2,3 Miliar pada Semester Pertama 2026, Pemkab Siap Naikkan Target

Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim penghujan di wilayah Jawa Timur bagian selatan baru diperkirakan mulai terjadi pada November 2026 mendatang. Artinya, fluktuasi harga diprediksi bakal bertahan cukup lama.

"Kemungkinan tanam baru bisa dilakukan setelah memasuki musim penghujan nanti. Artinya masih perlu waktu lagi sampai tanaman tersebut siap panen dan menambah pasokan ke pasar," ungkapnya.

Baca Juga: Samsung S26 Ultra Resmi Dijajal, Ini Perbedaan Drastis dari S25 Ultra: Privacy Display Canggih, Kamera Lebih Tajam, Tapi Apakah Worth It?

Pantauan di sejumlah pasar tradisional Blitar menunjukkan dampak kemarau ini langsung memicu lonjakan harga yang cukup signifikan. Harga komoditas cabai rawit saat ini sudah bertengger di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram. Naik cukup tajam dari harga normal sebelumnya.(jar/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#petani #cabai #bmkg #musim kemarau #blitar selatan