BLITAR KAWENTAR - Teka-teki temuan benda purbakala di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, tepatnya di bawah septik tank rumah warga pada awal Juni lalu, akhirnya terpecahkan.
Benda kuno tersebut dipastikan merupakan sebuah jobong atau bagian atas pengaman sumur kuno yang berbahan batu andesit yang diperkirakan berasal dari era Kerajaan Kediri.
Artefak berangka tahun 1033 Saka ini sempat terpendam di bawah fondasi dapur warga sebelum akhirnya dievakuasi secara bertahap.
Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim, Nugroho Harjo Lukito, meluruskan bahwa artefak tersebut sebenarnya bukan temuan yang benar-benar baru.
Bagian separo dari jobong batu ini sudah lebih dulu ditemukan warga pada tahun 2017 silam saat menggali saluran septic tank di luar fondasi rumah.
”Saat itu, bagian separonya langsung kami amankan ke Museum Penataran. Namun, separo sisanya terpaksa ditinggal di lokasi karena posisinya terjepit di bawah fondasi dapur rumah warga yang masih berdiri," katanya, kemarin (16/6).
Usai lama terpendam, lanjut dia, kelanjutan evakuasi pecahan batu kuno ini mencuat kembali setelah adanya kunjungan kerja dari jajaran kementerian.
Mantan menteri bersama Direktur Warisan Budaya, Agus Udarmanto, saat meninjau Museum Penataran, mempertanyakan keberadaan sisa pecahan jobong tersebut yang tampak terpotong.
Atas instruksi pusat untuk menyelamatkan aset sejarah secara utuh, BPK Wilayah XI Jatim langsung bergerak melakukan penggalian susulan.
Bersyukur, saat tim kembali ke Desa Modangan, rumah warga yang sempat menghalangi ekskavasi sudah dibongkar total oleh pemiliknya pada 4 Juni lalu.
Petugas pun tidak perlu merusak struktur bangunan dan hanya perlu membongkar lapisan plesteran lantai tanah berdasarkan petunjuk pemilik rumah.
Sayangnya, ekspektasi petugas untuk menyatukan jobong menjadi utuh harus terganjal realitas di lapangan.
Batu andesit pengaman sumur itu rupanya telah pecah menjadi tiga bagian.
”Kami gali kembali, tapi yang ditemukan bukan separo utuh, melainkan hanya seperempat bagian saja karena batunya sudah pecah tiga. Saat ini pecahan kedua sudah kami bawa ke museum dan disatukan, jadi posisinya sekarang kurang seperempat bagian lagi," ungkapnya.
Dia mengaku kesulitan melacak sisa pecahan terakhir karena nihilnya informasi sekecil apa pun di sekitar lokasi, meski radius pencarian sempat diperluas.
Nugroho memaparkan, keberadaan jobong batu era Kediri ini terbilang sangat istimewa dan langka.
Pada umumnya, sumur pemukiman kuno masyarakat biasa di zaman dulu hanya menggunakan pengaman berbahan tanah liat atau susunan bata, bahkan dibiarkan rata dengan permukaan tanah.
Penggunaan batu andesit ukir berangka tahun menunjukkan bahwa sumur ini milik tokoh penting atau kaum bangsawan pada masanya.
Letak temuan yang berada di sebelah timur Situs Bale Kambang dan Situs Arca Wara ini memperkuat dugaan adanya kompleks pemukiman elite lintas zaman.
Meski Situs Bale Kambang diidentifikasi berasal dari era Majapahit dengan karakteristik 36 umpak batu segi delapan berukuran besar mirip Paseban Agung, temuan jobong ini membuktikan bahwa wilayah Modangan sudah menjadi kawasan penting sejak masa Kediri.
"Artefak peninggalan era Kediri di kawasan ini rata-rata memang ditemukan dalam kondisi terpendam lebih dalam di bawah lapisan tanah, mendahului struktur pemukiman era Majapahit yang berada di atasnya. Kini seluruh pecahan yang berhasil diselamatkan sudah tersimpan aman di museum," pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda