Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Realisasi PAD Retribusi Pasar Tradisional Kota Blitar Masih Seret, Rendahnya Minat Masyarakat Belanja Disebut Jadi Faktornya

M. Luki Azhari • Rabu, 17 Juni 2026 | 12:25 WIB
Realisasi PAD Retribusi Pasar Seret
Masih 31 Persen, Belanja Lesu
Realisasi PAD Retribusi Pasar Seret Masih 31 Persen, Belanja Lesu

BLITAR KAWENTAR - Pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pasar di Kota Blitar masih jauh dari target yang ditetapkan untuk tahun 2026.

Hingga akhir Mei lalu, realisasi retribusi pasar baru menyentuh angka 31, 39 persen.

Baca Juga: Aparat Kawal Ketat Pengesahan Warga Baru PSHT di Blitar

Sepinya aktivitas belanja di pasar tradisional hingga penarikan retribusi yang belum maksimal ditengarai menjadi pemicu utamanya.

Data yang dihimpun dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar mencatat, target PAD pasar tahun ini dipatok Rp 2.183.988.800.

Baca Juga: Polisi Mulai Selidiki Empat Kasus Hukum Libatkan Anak di Blitar, Sebut Dampak Buruk dari Medsos

Namun, realisasi yang masuk kantong daerah belum menyentuh separonya.

Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto mengungkapkan, ada beberapa kendala klasik yang membuat capaian PAD belum meroket.

Baca Juga: Tahun Baru 1 Muharram, MUI Kabupaten Blitar ajak Umat Muhasabah dan Berhijrah

Salah satunya adalah tren penurunan minat masyarakat untuk berbelanja langsung ke pasar tradisional.

"Selain masalah eksternal seperti menurunnya minat belanja masyarakat, dari sisi fasilitas juga masih ada pelataran pasar yang belum digunakan secara maksimal oleh pedagang," ujarnya kepada Koran ini, kemarin (12/6).

Baca Juga: Kursi Dua Direktur BUMD di Kota Blitar Kosong, Pemkot Gelar Seleksi Terbuka

Kendala lain juga muncul dari sistem pembayaran sewa toko. 

Menurutnya, banyak pedagang yang memilih membayar retribusi sewa di akhir tahun atau menjelang jatuh tempo.

Baca Juga: Panen Emas dari BRImo, Ini Cara BRILink Agen Mendapatkan Reward dari BR

Padahal, tarif retribusi per hari yang dibebankan terhitung harian, yakni Rp 6 ribu untuk kios A, Rp 4 ribu untuk kios B, dan Rp 2 ribu untuk los. 

Kondisi ini membuat arus kas masuk untuk PAD melambat di pertengahan tahun.

Baca Juga: ⁠Tahapan Pilkades Serentak di Kabupaten Blitar Dimulai Juli, DPMD Minta BPD Segera Bentuk Panitia

Di sisi lain, potensi pendapatan dari keberadaan pedagang kaki lima (PKL) saat ini juga belum tersentuh pungutan retribusi.

Parminto menambahkan, sebagai langkah konkret mengatasi sepinya aktivitas pasar dan menggenjot PAD, dia mengalokasikan anggaran sekitar Rp 800 juta untuk merevitalisasi lantai dua Pasar Legi dengan konsep modern-fleksibel.

Baca Juga: Siap-siap 2.685 NIK Warga Kabupaten Blitar Bakal Dinonaktifkan Akhir Juni Ini Jika Tak Segera Perekaman KTP Elektronik

Proyek penyegaran fisik tahun ini juga menyasar Pasar Pahing dan Pasar Pusat Kuliner.

"Kami siapkan anggaran kurang lebih Rp 800 juta untuk merealisasikan revitalisasi lantai dua Pasar Legi tersebut agar aktivitas perdagangan di sana bisa kembali bergeliat," imbuhnya.

Baca Juga: BPK Wilayah XI Jatim Amankan Temuan Sisa Jobong Sumur Kuno Peninggalan Era Kadiri di Candi Penataran Blitar, Begini Kondisinya

Menyikapi capaian yang masih minim tersebut, disperindag menyiapkan sejumlah strategi percepatan untuk mengejar sisa target dalam tujuh bulan ke depan. 

Langkah awal yang akan diambil adalah mengoptimalkan fungsi pelataran pasar dan menertibkan pemanfaatan los.

Baca Juga: Suzuki Karimun 2026 Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp120 Jutaan dengan Fitur Hybrid, AC Digital, dan Apple CarPlay, Bikin Mobil LCGC Ketar-Ketir

"Kami akan memberikan peringatan tegas kepada para pengguna los pasar agar benar-benar memanfaatkan lapaknya untuk berjualan. Tidak dibiarkan kosong," tegasnya.

Selain penertiban internal, disperindag juga akan mengandalkan teknologi untuk menekan kebocoran PAD, salah satunya dengan segera memfungsikan sistem one gate (pintu satu arah).

Baca Juga: Kisah Geri Salim Mengawali Karier Balap: Dari Suzuki Smash Milik Kakak hingga Jadi Juara Asia, Semua Berawal dari Dukungan Orang Tua

“Soal potensi PKL, dalam waktu dekat bakal melakukan pendataan menyeluruh untuk ditindaklanjuti dengan pemungutan retribusi resmi,” tandasnya.

Untuk diketahui, tahun lalu target PAD pasar dipatok Rp 2.150.888.800.

Baca Juga: Kisah Geri Salim: Dari Suzuki Smash, Juara Asia AP250 hingga Nyaris Raih Poin Moto3, Kini Prediksi Marc Marquez Juara MotoGP

Dari target tersebut, disperindag berhasil mengumpulkan realisasi Rp 1.981.242.575 atau mencapai 92,11 persen. (mg1/c1/ady)

Editor : Riftanta Yuna Fellanda
#Retribusi Pasar #Revitalisasi Pasar #pasar tradisional #disperindag Kota Blitar #PAD Kota Blitar