BLITAR KAWENTAR - Panas matahari yang menyengat dan tangan yang dipenuhi tanah kini menjadi bagian dari keseharian Azis Subasri.
Pemandangan itu sangat berbeda dengan kehidupan yang pernah dijalaninya beberapa tahun lalu saat masih bekerja sebagai buruh pabrik pengolahan kelapa.
Namun dari perubahan itulah, pemuda asal Keras, Kabupaten Blitar, ini menemukan jalan baru menuju kehidupan yang lebih baik.
Sebelum terjun ke dunia pertanian, Azis menghabiskan waktunya sebagai pekerja borongan di pabrik kelapa.
Selama hampir dua tahun, dia mengandalkan tenaga untuk mengupas ratusan hingga ribuan butir kelapa setiap hari.
Pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan utama yang menopang kebutuhan hidupnya.
Baca Juga: Aparat Kawal Ketat Pengesahan Warga Baru PSHT di Blitar
Kala itu, Azis mampu mengupas hingga seribu butir kelapa dalam sehari.
Namun, kondisi mulai berubah ketika pabrik tempatnya bekerja mendatangkan mesin pengupas kelapa modern.
Baca Juga: Polisi Mulai Selidiki Empat Kasus Hukum Libatkan Anak di Blitar, Sebut Dampak Buruk dari Medsos
Kehadiran teknologi tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja manual berkurang drastis.
Pendapatan yang sebelumnya cukup stabil perlahan menurun.
Baca Juga: Tahun Baru 1 Muharram, MUI Kabupaten Blitar ajak Umat Muhasabah dan Berhijrah
Dalam sehari, dia hanya mampu mengupas sekitar 300 hingga 500 butir kelapa dengan penghasilan yang berkisar Rp 85 ribu.
“Waktu itu pabrik beli mesin, otomatis pacak manual jadi tersisihkan. Hasil borongan menyusut drastis, sehari paling meleset hanya dapat Rp 85 ribu. Kalau bagi bujang mungkin cukup buat ngopi dan rokok. Tapi saya berpikir ke depan, kalau sudah berumah tangga, punya anak, bayar listrik dan kebutuhan dapur, uang segitu jelas tidak akan bisa mencukupi,” kenang Azis.
Baca Juga: Kursi Dua Direktur BUMD di Kota Blitar Kosong, Pemkot Gelar Seleksi Terbuka
Di tengah kebingungan mencari arah baru, kesempatan datang dari orang yang kini menjadi mertuanya.
Azis ditawari untuk mengelola lahan kosong di kawasan Padangan Balong dan mencoba peruntungan di sektor pertanian.
Baca Juga: Panen Emas dari BRImo, Ini Cara BRILink Agen Mendapatkan Reward dari BR
Tawaran itu sempat membuatnya ragu. Selama hidupnya, dia tidak pernah bersentuhan dengan dunia pertanian.
Bahkan, memegang cangkul pun belum pernah ia lakukan.
Baca Juga: Tahapan Pilkades Serentak di Kabupaten Blitar Dimulai Juli, DPMD Minta BPD Segera Bentuk Panitia
“Awalnya saya mikir, ke sawah itu pasti capek, panas, nanti kulit saya hitam. Saya ini modalnya nol putul, memegang cangkul saja seumur hidup belum pernah,” ujarnya sambil tertawa mengenang masa lalu.
Namun, satu kalimat dari calon mertuanya mengubah cara pandangnya.
“Masak kamu mau ikut kerja sama orang terus sampai tua?” Kalimat sederhana itu menjadi titik balik yang mendorongnya keluar dari zona nyaman.
Dengan bimbingan sang mertua, Azis mulai belajar dari nol.
Dia diajari cara mengolah tanah, memasang mulsa plastik, menanam bibit, hingga merawat tanaman dan memberikan pupuk.
Proses belajar tersebut tidak selalu mudah, tetapi dijalaninya dengan tekun.
Komoditas pertama yang dipilihnya adalah kemangi.
Tanaman yang banyak digunakan sebagai lalapan itu ternyata memberikan hasil yang cukup menjanjikan.
Kerja kerasnya mulai terbayar saat memasuki masa panen perdana.
Dari lahan seluas sekitar 40 ru, Azis mampu memperoleh pendapatan hingga Rp 2 juta hanya dalam waktu satu minggu panen.
Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan penghasilan yang pernah diperolehnya saat menjadi buruh pabrik.
Keberhasilan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa pertanian memiliki masa depan yang menjanjikan jika dikelola secara serius.
Kini, Azis tidak lagi melihat sektor pertanian sebagai pekerjaan yang identik dengan keterbatasan, tetapi peluang usaha yang mampu memberikan kemandirian ekonomi.
Perjalanan hidup Azis menjadi bukti bahwa keberanian mengambil langkah baru dapat membuka peluang yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Dari seorang buruh yang terdampak modernisasi mesin, dia kini tumbuh menjadi petani muda yang mengelola lahannya sendiri dan menikmati hasil dari kerja kerasnya.
Bagi Azis, pertanian bukan sekadar profesi.
Pertanian telah menjadi jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik, sekaligus membuktikan bahwa anak muda juga bisa sukses dari sawah dan ladang jika mau belajar, berani mencoba, dan tidak takut memulai dari nol. (*/c1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda