⁠Poltekkes Kemenkes Malang Bekali Kader Kesehatan Warga Desa Karangrejo Blitar dengan Literasi Pencegahan Diabetes Lewat Digital

Fajar Rahmad Ali Wardana • Dipublikasikan Kamis, 18 Juni 2026 | 11:30 WIB
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR 

EDUKASI: Prof Suprajitno memberikan peningkatan kapasitas tentang Peran dan Tugas Kader Kesehatan, Teknik Edukasi dan Komunikasi serta Monitoring dan Evaluasi, kemarin (17/6/2026).
FAJAR RAHMAD AW/RADAR BLITAR EDUKASI: Prof Suprajitno memberikan peningkatan kapasitas tentang Peran dan Tugas Kader Kesehatan, Teknik Edukasi dan Komunikasi serta Monitoring dan Evaluasi, kemarin (17/6/2026).
Foto bersama Poltekes.
Foto bersama Poltekes.

 

BLITAR KAWENTAR – Arus informasi kesehatan yang deras di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Di tengah maraknya hoax, kemampuan memilah sumber informasi kesehatan yang kredibel menjadi kebutuhan penting, terutama dalam upaya mencegah diabetes melitus (DM).

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi kegiatan Literasi Masyarakat Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) yang digelar Poltekkes Kemenkes Malang melalui Program Studi D-3 Keperawatan Kampus III Blitar bekerja sama dengan Unit Perpustakaan Terpadu pada Rabu (17/6) di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum.

Kepala Unit Perpustakaan Poltekkes Kemenkes Malang, Bastianus Doddy Riyadi SKM MM mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan minat baca sekaligus literasi kesehatan warga.

Baca Juga: Update Harga HP Xiaomi Juni 2026 Resmi Terbaru, Redmi Note 15 Series hingga Xiaomi 17T Dijual Mulai Rp1 Jutaan

Menurutnya, masyarakat khususnya kader kesehatan saat ini perlu dibekali kemampuan untuk membedakan informasi kesehatan yang benar dan yang menyesatkan.

“Kami ingin meningkatkan literasi masyarakat, terutama di bidang kesehatan. Sekarang zamannya media sosial, sehingga masyarakat harus memahami bagaimana memperoleh informasi kesehatan yang benar dan tidak mudah percaya pada informasi hoax,” ujar Doddy.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari Prodi D-3 Keperawatan Kampus III Blitar yang membahas berbagai aspek pencegahan penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus (DM), yang saat ini menjadi salah satu penyakit dengan angka kasus terus meningkat.

Baca Juga: 5 HP Xiaomi Terbaru Juni 2026 yang Paling Diburu, Xiaomi 17 Ultra hingga Poco C81 Pro, Ada Kamera Leica dan Baterai 7.000 mAh

Dosen Prodi D-3 Keperawatan Kampus III Blitar, Prof Dr Suprajitno SKp MKep MKes, menekankan pentingnya peran kader kesehatan sebagai penghubung antara tenaga kesehatan dan masyarakat.

Baginya, kader memiliki posisi strategis dalam membantu keluarga mengenali dan mengelola penyakit kronis seperti diabetes. ”Kader adalah jembatan antara pelayanan kesehatan dengan masyarakat. Mereka yang paling memahami kondisi warga di lingkungannya,” katanya.

Dia menjelaskan, kader memiliki tiga fungsi utama. Pertama sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan di masyarakat, kedua sebagai motivator yang mendorong keluarga menerapkan perilaku hidup sehat, dan ketiga sebagai edukator yang memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah pengendalian penyakit.

Sementara itu, dosen Prodi D-3 Keperawatan Kampus III Blitar, Ns Dewi Rachmawati MKep, mengajak kader untuk lebih aktif melakukan deteksi dini risiko diabetes melitus di lingkungan masing-masing.

 Menurutnya, identifikasi risiko diabetes dapat dilakukan dengan cara sederhana tanpa pemeriksaan laboratorium.

Baca Juga: Warga Kota Serang Banten Sukses Kembangkan Usaha Peyek Rumahan hingga Tepung Ayam Goreng Berkat BRI

”Pemeriksaan ini tidak membutuhkan cek gula darah. Cukup mengetahui berat badan, tinggi badan, lingkar perut, aktivitas fisik, dan riwayat keluarga yang memiliki diabetes.

Metode tersebut dinilai mudah diterapkan kader saat melakukan pemantauan kesehatan masyarakat,” ungkap Dewi.

Dalam kesempatan yang sama, dosen Prodi D-3 Keperawatan Kampus III Blitar, Ns Arif Mulyadi MKep, memberikan pemahaman dasar mengenai diabetes melitus kepada para peserta.

Baca Juga: ⁠Petani harus Lebih Berhemat, DKPP Kota Blitar Sebut Kuota Pupuk Bersubsidi Mulai Menipis

 Dia menilai peningkatan kasus diabetes di Indonesia tidak terlepas dari perubahan pola hidup masyarakat yang cenderung kurang aktif bergerak dan mengonsumsi makanan berlebihan.

Arif menambahkan, penyebab utama peningkatan diabetes adalah pola makan yang tidak sehat dan aktivitas fisik yang kurang.

Makannya berlebihan, tetapi geraknya semakin sedikit. Meski faktor usia menjadi salah satu risiko, obesitas dan pola hidup tidak sehat justru kini banyak ditemukan pada kelompok usia produktif hingga remaja.

Baca Juga: Turun ke Jalan, Ratusan Relawan SPPG Blitar Raya Gelar Aksi Damai Minta Program MBG Tetap Berlanjut

“Dengan pengetahuan yang diperoleh hari ini, kader diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk melakukan pencegahan diabetes dan penyakit tidak menular lainnya di lingkungan masing-masing,” pungkasnya.(jar/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
poltekes kemenkes malanng kampus III blitar kader ptm diabetes