BLITAR KAWENTAR - Di tengah gempuran produk tekstil modern dan perubahan tren fesyen, Damang Panggih Priandana memilih tetap bertahan menekuni usaha batik yang dirintis keluarganya. Pemuda asal Kota Blitar itu melanjutkan usaha batik milik sang ibu yang mulai berkembang sejak lebih dari satu dekade lalu.
Damang menuturkan, mulai terlibat secara langsung dalam usaha batik keluarga tersebut sejak 2014 silam. Saat itu, usaha batik yang dirintis ibunya baru memperoleh legalitas usaha dan mulai berkembang menjadi UMKM.
“Saya mulai ikut sekitar tahun 2014. Sebelumnya ibu yang belajar membatik sejak 2010, lalu saat usaha mendapat legalitas, saya ikut meneruskan dan mengembangkan,” ceritanya.
Baca Juga: Cerita Finalis Putri Batik Remaja Indonesia 2026 asal Blitar dari Panggung Kecil ke Ajang Nasional
Menurut dia, mempertahankan usaha batik bukan perkara mudah. Terlebih batik tulis membutuhkan proses yang lebih panjang, mulai dari membuat pola hingga pewarnaan.
Proses tersebut membuat harga batik tulis relatif lebih tinggi dibandingkan batik cap.
“Kalau batik tulis memang lebih lama. Mulai membuat pola, mencanting, lalu pewarnaan. Sedangkan batik cap lebih cepat karena tidak perlu melalui proses itu semua,” ungkapnya.
Baca Juga: Dianggap Kuno, Begini Cara Putri Batik Kota Blitar Ini Gaungkan Batik di Kalangan Anak Muda
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, dia juga memproduksi batik cap yang dinilai lebih terjangkau bagi masyarakat. Langkah itu dilakukan agar konsumen memiliki pilihan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.
“Kalau ada yang ingin batik dengan harga lebih ekonomis biasanya kami arahkan ke batik cap. Kalau batik tulis memang cenderung lebih mahal karena prosesnya panjang,” jelasnya.
Selain mengembangkan usaha, Damang aktif bergabung dalam organisasi dan komunitas perajin batik.
Dari sana, dia mendapatkan banyak informasi terkait pameran, pelatihan, hingga peluang pemasaran produk ke luar daerah.
“Banyak informasi yang kami dapat, mulai pameran, kurasi produk sampai kesempatan memperluas jaringan. Itu cukup membantu perkembangan usaha,” ungkapnya.
Meski tantangan industri batik terus berubah, Damang berharap generasi muda tetap bangga menggunakan batik dan mau meneruskan warisan budaya tersebut. Baginya, batik bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan identitas budaya yang perlu dijaga.
“Harapannya ada generasi penerus yang tetap bangga memakai batik. Batik ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga punya nilai budaya yang harus dilestarikan,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan