Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jadi Magnet Wisata Blitar, Pemkab Siap Kemas Tradisi Larung Sesaji dengan Lebih Atraktif

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 19 Juni 2026 | 11:04 WIB
Warga membawa sesaji yang akan dilarung saat Upacara tradisi larung sedekah laut di Pantai Serang, kemarin (18/6).
Warga membawa sesaji yang akan dilarung saat Upacara tradisi larung sedekah laut di Pantai Serang, kemarin (18/6).

BLITAR KAWENTAR – Tradisi Larung Sesaji Pantai Serang di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, direncanakan dikemas lebih inovatif. Ritual budaya yang telah berlangsung ratusan tahun itu tidak hanya menjadi wujud syukur masyarakat pesisir, tetapi juga terus didorong sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan.

 Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar Eko Susanto mengatakan, Larung Sesaji Pantai Serang telah menjadi agenda rutin daerah yang masuk dalam kalender event wisata Kabupaten Blitar.

”Ini sudah menjadi agenda rutin dan bahkan masuk agenda kabupaten. Tahun genap di Pantai Serang, tahun ganjil di Pantai Tambakrejo. Tradisi ini harus kita manfaatkan dari sisi pariwisata, dampak ekonomi, sekaligus sebagai branding daerah,” ujar Eko.

Baca Juga: Aset Pemkab Blitar di Jalan Anjasmoro Kota Blitar Disulap Jadi Kafe, BPKAD Beri Penjelasan

Dia melanjutkan, tantangan terbesar saat ini adalah menghadirkan kemasan acara yang selalu menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Karena itu, setiap penyelenggaraan diupayakan memiliki unsur kebaruan agar tetap menjadi magnet bagi wisatawan.

Pemerintah Kabupaten Blitar menilai tradisi yang digelar setiap malam 1 Suro tersebut memiliki potensi besar untuk mendongkrak kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. ”Packing-nya harus dibuat lebih menarik.

Harus ada sesuatu yang baru setiap tahun sehingga sulit ditebak dan tetap menjadi daya tarik wisatawan lokal, luar daerah, bahkan mancanegara,” ungkapnya.

Baca Juga: Turun ke Jalan, Ratusan Relawan SPPG Blitar Raya Gelar Aksi Damai Minta Program MBG Tetap Berlanjut

Sementara itu, Kepala Desa Serang Dwi Handoko menuturkan tradisi Larung Sesaji telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir selatan Blitar.

Tradisi tersebut digelar setiap malam 1 Suro berdasarkan penanggalan Jawa pakem Aboge yang selama ini digunakan masyarakat setempat. Karena itu, pelaksanaannya sering kali berbeda satu hingga dua hari dengan penanggalan 1 Muharam.

“Ini sudah berjalan turun-temurun selama ratusan tahun. Intinya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan, baik dari sektor pertanian maupun hasil laut,” tuturnya.

Baca Juga: Perdana! Blitar NoBar Sambangi UPT SMPN 1 Nglegok, Pelajar Diajak Kenal Lebih Dekat Dunia Film dan Industri Kreatif

Dalam prosesi larung, terdapat sejumlah ubarampe atau perlengkapan sesaji yang memiliki makna simbolis. Di antaranya kembang setaman yang dilarung ke laut, gedang raja atau pisang ayu, serta tumpeng agung yang menjadi simbol harapan akan kesejahteraan dan keberkahan bagi masyarakat. 

”Setiap ubarampe memiliki makna tersendiri. Semua menjadi bagian dari tradisi yang terus kami jaga dan lestarikan sampai sekarang,” pungkasnya.(jar/sub)

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
#kabupataen blitar #Tradisi Blitar #Pemkab Blitar #wisata #pantai serang