TELATEN: Megarani Rosnadia mengajar di SLBN 3 Kota Blitar untuk jenjang TK dan SD.
BLITAR KAWENTAR - Di balik dinding Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 3 Kota Blitar, sosok pendidik muda, Megarani Rosnadia, menyuarakan kegelisahan yang selama ini mungkin luput dari diskusi publik.
Ya, terkait arah nasib anak-anak berkebutuhan khusus setelah lulus sekolah.
Pendidikan bagi anak istimewa tidak boleh berhenti hanya sampai pada pemberian ijazah.
Baca Juga: Pemkot Salurkan Ribuan Paket Tambahan Gizi Bagi Bumil, Satu Warga Alami Alergi
Selama ini, tantangan terbesar bagi lulusan SLB adalah minimnya wadah yang mampu menyerap kemampuan mereka di dunia kerja atau pengembangan diri lebih lanjut.
Mega mencatat bahwa banyak siswanya yang sebenarnya memiliki kompetensi baik di bidang seni maupun keterampilan praktis, tetapi sering kali terbentur oleh stigma masyarakat dan ketiadaan sistem yang menjembatani mereka dengan dunia luar.
Menurut Mega, pendidikan inklusif di Blitar membutuhkan sinergi yang lebih kuat antara sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah.
Di tingkat sekolah, guru seperti Mega sudah berupaya maksimal melakukan pendampingan personal dan komunikasi intens dengan orang tua.
“Namun, upaya ini akan sia-sia jika setelah lulus para siswa ini kembali di rumah karena tidak ada perusahaan atau instansi yang bersedia membuka ruang bagi mereka,” ujar perempuan 28 tahun ini.
Stigma masyarakat yang memandang penyandang disabilitas sebagai sosok yang "terbatas" menjadi tembok tebal yang harus diruntuhkan.
Mega menekankan bahwa anak-anak ini hanya butuh kesempatan. “Di beberapa daerah, mungkin sudah ada inisiatif pemberdayaan, namun di Blitar sendiri, wadah yang secara spesifik mengarahkan lulusan SLB ke dunia kerja masih sangat minim,” katanya.
Baca Juga: Merger 5 BPR Tuntas, PT BPR Bank Nusamba Jatim Resmi Jadi BPR Beraset Terbesar di Wilayah OJK Kediri
Dia berharap agar pemangku kebijakan mulai melirik potensi ekonomi dan sosial dari para penyandang disabilitas. Dia ingin melihat Blitar menjadi kota yang benar-benar ramah inklusi. ”Bukan hanya sekolahnya yang memadai, tapi juga ketersediaan lapangan kerja atau pusat pelatihan kerja yang aksesibel bagi mereka,” pungkasnya. (mg3/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari