BLITAR KAWENTAR - Perempuan itu adalah Wakini, 51, juru pelihara (jupel) cagar budaya yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk menjaga peninggalan sejarah agar tetap lestari. Bagi sebagian orang, candi mungkin hanya tumpukan batu tua yang menyimpan kisah masa lampau. Namun, bagi Wakini, setiap sudut candi memiliki kehidupan yang harus dirawat dan dijaga.
Sudah 24 tahun ia menghabiskan hari-harinya di lingkungan situs bersejarah. Waktu yang tidak singkat untuk pekerjaan yang sering kali luput dari perhatian banyak orang. “Awal mula saya dipercaya jadi jupel itu di Candi Sumbernanas. Awalnya atas nama suami, kemudian saya balik nama ke saya sendiri. Kemudian saya diangkat menjadi honorer pada tahun 2002 sebagai jupel Candi Sumbernanas,” tuturnya.
Perjalanan itu dimulai pada 2002. Saat itu, dia menggantikan sang suami yang sebelumnya bertugas merawat Candi Sumbernanas. Dari keputusan sederhana tersebut, lahirlah perjalanan panjang yang kemudian menjadi bagian penting dalam pelestarian cagar budaya di Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Cara Memecah Sertifikat Tanah di BPN, Simak Syarat, Biaya, dan Tahapan Pengurusannya
Bertahun-tahun Wakini menjaga Candi Sumbernanas. Setelah itu, dia mendapat penugasan di Museum Penataran selama empat tahun sebelum akhirnya ditempatkan di Candi Kali Cilik, tempatnya bertugas hingga sekarang. “Di sana cukup lama, lalu dipindahkan ke Museum Penataran selama empat tahun, dan setelah itu bertugas di Candi Kali Cilik. Di sini sudah sekitar tiga tahun,” ujarnya.
Setiap hari, rutinitasnya dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Saat sebagian orang baru memulai aktivitas, Wakini sudah berada di kawasan candi. Dia memungut daun-daun kering yang berjatuhan, membersihkan sampah, hingga mengendalikan pertumbuhan lumut yang berpotensi merusak batuan candi. Pekerjaan itu terus dilakukan berulang setiap hari tanpa mengenal musim.
Ketika hujan datang, lumut tumbuh lebih cepat. Saat kemarau tiba, debu dan dedaunan kering menjadi tantangan tersendiri. Namun, semua itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Baca Juga: Jangan Langsung Dijual, Begini Cara Menjual Tanah Warisan agar Aman dan Tidak Menimbulkan Sengketa
Tak hanya menjaga kebersihan, Wakini juga bertanggung jawab mengawasi kawasan situs dari berbagai ancaman. Mulai dari aksi vandalisme, pencurian benda bersejarah, hingga aktivitas yang berpotensi merusak kawasan cagar budaya.
Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelatenan dan kesabaran tinggi. Sebab, hasil kerja seorang jupel tidak selalu terlihat dalam sehari atau sebulan. Dampaknya baru terasa setelah bertahun-tahun ketika bangunan bersejarah tetap berdiri kokoh dan terawat.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Wakini memilih tetap setia menjalani profesinya. Baginya, menjaga candi bukan sekadar pekerjaan yang menghasilkan penghasilan bulanan.
Ada tanggung jawab moral yang lebih besar. “Alasan saya mau dan bertahan menjaga candi ini sebenarnya sederhana, supaya perawatan candinya semakin baik dan juga untuk menjaga keamanan serta kelestarian lingkungannya,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Sebab di balik batu-batu kuno yang berdiri ratusan tahun, ada sosok-sosok seperti Wakini yang bekerja dalam kesunyian.
Mereka bukan arkeolog yang meneliti sejarah. Bukan pula pejabat yang meresmikan kawasan wisata. Namun, tanpa kehadiran para jupel, banyak situs bersejarah mungkin tidak akan terawat seperti saat ini.
Pengabdian Wakini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui proyek besar atau anggaran miliaran rupiah. Kadang, warisan leluhur justru tetap hidup berkat tangan-tangan sederhana yang setiap hari membersihkan halaman, mengawasi lingkungan, dan menjaga sejarah agar tidak hilang ditelan waktu.
Selama 24 tahun terakhir, Wakini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang cagar budaya di Kabupaten Blitar. Di tengah sunyi kawasan candi, dia terus menjalankan tugasnya dengan tekun, memastikan setiap jejak masa lalu tetap terjaga untuk dikenal dan dipelajari oleh generasi yang akan datang. (*/c1/ady)
Editor : Regina Gavin Agata