Blitar – Poltekkes Kemenkes Malang Program Studi D-3 Keperawatan Kampus Blitar kembali menggelar kegiatan pengabdian masyarakat berupa kampanye perawatan mandiri dan program CERDIK bagi penderita diabetes melitus (DM). Kader kesehatan antusias mengikuti praktik langsung bagaimana mencegah penyakit DM dengan sejumlah gerakan khusus.
Kegiatan yang merupakan rangkaian pengabdian masyarakat ketiga tersebut difokuskan pada peningkatan kemampuan kader dalam melakukan deteksi dini faktor risiko diabetes serta mencegah munculnya komplikasi penyakit.
Dosen Poltekkes Kemenkes Malang Program Studi D-3 Keperawatan Kampus Blitar, Ns Agus Khoirul Anam MKep mengatakan, kader kesehatan memiliki peran penting sebagai ujung tombak pencegahan diabetes di masyarakat. Karena itu, mereka dibekali keterampilan melakukan sejumlah pemeriksaan mandiri.
”Pengabdian masyarakat kali ini bertujuan meningkatkan kemandirian kader dalam melakukan pemeriksaan sederhana terkait diabetes melitus. Ada empat pemeriksaan yang kami ajarkan agar bisa diterapkan langsung di masyarakat,” ujarnya.
Dia melanjutkan, empat pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran indeks massa tubuh (IMT), pemeriksaan gula darah menggunakan alat digital, pemeriksaan neuropati atau gangguan saraf akibat diabetes, serta pengukuran tekanan darah.
Pemeriksaan IMT dilakukan melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut untuk mengetahui tingkat risiko seseorang terhadap diabetes. Sementara pemeriksaan gula darah bertujuan membantu kader memahami prosedur penggunaan alat ukur secara benar.
Selain itu, kader juga diajarkan mendeteksi gejala neuropati diabetik menggunakan alat monofilamen. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui adanya gangguan saraf yang umumnya ditandai dengan berkurangnya sensitivitas pada telapak kaki. ”Jika seseorang sudah mengalami neuropati, risiko luka pada kaki menjadi lebih tinggi. Karena itu, perlu deteksi dini agar komplikasi seperti ulkus diabetikum bisa dicegah,” jelasnya.
Sementara itu, dosen Poltekkes Kemenkes Malang Kampus 3 Blitar lainnya, Dr Ns Sri Mugianti MKep, memberikan materi terkait pengaturan nutrisi dan aktivitas fisik sebagai bagian dari penerapan perilaku hidup sehat. Menurutnya, pengendalian diabetes tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan, tetapi harus dibarengi dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang rutin.
Mugianti menyebut, dalam konsep CERDIK ada unsur diet sehat dan aktivitas fisik yang harus diterapkan secara konsisten. Kuncinya bukan melakukan olahraga berat sesekali, melainkan aktivitas ringan yang dilakukan terus-menerus.
Dia menjelaskan, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu dianjurkan tidak hanya bagi penderita diabetes, tetapi juga masyarakat umum untuk menjaga kebugaran tubuh. Salah satu bentuk latihan yang diperkenalkan kepada kader adalah senam kaki diabetik yang bermanfaat meningkatkan sirkulasi darah serta mencegah komplikasi pada kaki.
Sri menambahkan, kader diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat dalam menerapkan gaya hidup sehat. Dengan memberi teladan secara langsung, masyarakat akan lebih mudah menerima dan meniru kebiasaan positif tersebut.
Selain menjaga pola makan dan aktivitas fisik, kader juga diingatkan pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh. Orang dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar 2 liter air atau setara delapan gelas setiap hari guna menjaga kebugaran dan kesehatan secara menyeluruh.
”Kalau kader sudah melakukannya lebih dulu, masyarakat akan melihat manfaatnya dan terdorong mengikuti. Yang paling penting adalah konsistensi atau istiqomah dalam menjalankan pola hidup sehat,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Fajar Rahmad Ali Wardana