Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dolar Melambung Tinggi, Apoteker di Kota Blitar Angkat Bicara Mengenai Kondisi Harga Obat

M. Luki Azhari • Rabu, 24 Juni 2026 | 13:00 WIB
Warga membeli obat di apotek. Meski dolar AS menguat, harga obat di Kota Blitar masih belum mengalami kenaikan.
Warga membeli obat di apotek. Meski dolar AS menguat, harga obat di Kota Blitar masih belum mengalami kenaikan.

BLITAR KAWENTAR - Gejolak nilai tukar dolar Amerika Serikat yang sempat menembus Rp 18.200 memicu kecemasan warga Bumi Bung Karno. Beruntung, konsumen dipastikan tak perlu merogoh kocek lebih dalam waktu dekat. Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PC IAI) Kota Blitar menyebut harga obat-obatan di apotek lokal sejauh ini masih stabil.

Ketua PC IAI Kota Blitar, Umul Fadlilah menegaskan, pergerakan harga obat di tingkat retail sangat bergantung pada faktur pembelian dari distributor. Selama distributor belum menaikkan harga, apotek wajib menjual dengan harga normal. "Kami berhitungnya dari faktur yang masuk. Margin laba juga ada ketentuan maksimalnya. Jadi kalau modalnya masih pakai harga lama, ya otomatis dijual sesuai harga itu," katanya, rabu (24/6)

Menurut dia, mekanisme industri farmasi tidak sekaku yang dibayangkan masyarakat. Meski sekitar 60 persen bahan baku mentah (raw material) obat masih ketergantungan impor dari luar negeri, pabrik farmasi punya sistem mitigasi yang matang.

Setiap industri biasanya sudah melakukan perencanaan produksi jangka panjang. Mereka melakukan booking atau pre-order bahan baku setahun sebelumnya. "Artinya untuk produksi tahun ini, itu belinya sudah pakai harga lama sebelum dolar naik. Jadi tidak serta-merta dolar naik hari ini, besok harga obat di pasaran langsung meroket," bebernya.

Langkah antisipasi booking setahun ke depan ini dinilai ampuh meredam efek kejut kurs mata uang asing. Namun, Umul memberi catatan, dampak riil baru akan terasa jika pelemahan rupiah ini berlangsung kronis dan berkelanjutan hingga masa pre-order berikutnya tiba.

Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebenarnya sudah mengendus potensi ini dan memberikan ruang toleransi kenaikan harga obat di kisaran 10 hingga 20 persen bagi industri. Kendati demikian, lonjakan ugal-ugalan diprediksi minim terjadi. Sebab, masih ada komponen lokal penahan lonjakan seperti biaya upah tenaga kerja, listrik, serta akomodasi logistik domestik yang seluruhnya bermata uang rupiah.

Bagi warga Kota Blitar yang memanfaatkan fasilitas jaminan kesehatan, Kemenkes melalui Dirjen Farmalkes juga menjamin obat-obatan yang di-cover BPJS Kesehatan posisinya tetap aman dari koreksi harga. "Intinya, masyarakat tidak perlu panik. Sampai hari ini belum ada pergerakan harga obat bebas di apotek-apotek Kota Blitar. Semua masih mengacu faktur lama," tandasnya. (mg1/c1/ady)

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
#dolar naik #bumi bung karno #apotek #obat #Kota Blitar