Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bikin Merinding! Ternyata Ini Alasan Banyak Mahasiswa Sengaja Aktifkan Mode Senyap HP, Ada Kaitannya dengan Kesehatan Mental dan Tekanan Produktivitas Kampus?

M. Subchan Abdullah • Kamis, 25 Juni 2026 | 12:46 WIB
REHAT DIGITAL: Mahasiswa mengaktifkan mode senyap gawai demi menjaga kesehatan mental dari tekanan produktivitas kampus.
REHAT DIGITAL: Mahasiswa mengaktifkan mode senyap gawai demi menjaga kesehatan mental dari tekanan produktivitas kampus.

 BLITAR KAWENTAR - Di tengah derasnya arus informasi digital yang tidak pernah berhenti, sebuah fenomena menarik kini tengah melanda generasi muda. Semakin banyak anak muda, khususnya kelompok mahasiswa, yang memilih untuk mengaktifkan mode senyap (silent mode) pada ponsel mereka secara permanen. Bagi sebagian orang tua atau masyarakat awam, kebiasaan mematikan suara notifikasi ini mungkin terlihat sepele atau bahkan dianggap sekadar tren pergaulan biasa. Padahal, di balik keputusan tersebut tersimpan upaya penting untuk menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan kehidupan modern yang kian padat. Memilih mode senyap bukan lagi soal menghindari panggilan, melainkan sebuah benteng pertahanan psikologis. 

Fenomena mengaktifkan mode senyap ini ternyata menjadi salah satu mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang sangat sehat bagi mahasiswa. Dengan mematikan dering gawai, seseorang sebenarnya sedang menunjukkan bahwa mereka memahami batas kapasitas energi serta perhatiannya sendiri. Di era di mana pesan singkat, surel tugas, dan pemberitahuan media sosial masuk setiap detik, jeda sangatlah dibutuhkan. Langkah mengheningkan ponsel ini membantu mereka mengelola tekanan psikologis secara lebih baik dan mengambil kendali atas waktu mereka sendiri. 

Menurut pakar psikologi Laila Nur Afifah, fenomena serupa saat ini memang sangat banyak ditemui di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa saat ini hidup di tengah budaya akademik yang sangat kompetitif, yang menempatkan produktivitas sebagai tolok ukur utama keberhasilan seorang individu. Jagat media sosial setiap hari dipenuhi oleh cerita-cerita sukses tentang magang di perusahaan prestisius, posisi strategis di organisasi bergengsi, kemenangan kompetisi, hingga berbagai pencapaian akademik yang gemilang. Kondisi serba kompetitif tersebut pada akhirnya kerap memunculkan perasaan cemas dan tertinggal (fear of missing out) bagi mereka yang memilih menjalani aktivitas dengan ritme yang lebih tenang. 

Baca Juga: PNM Dukung Festival Penyu Jolosutro 2026 di Blitar, Perkuat Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir 

Di sisi lain, mahasiswa yang terlihat sangat aktif, kompetitif, dan ambisius di kampus juga tidak sepenuhnya terbebas dari jerat tekanan. Kelompok mahasiswa yang ambisius ini justru menghadapi tuntutan internal maupun eksternal yang tidak kalah berat untuk terus mempertahankan pencapaian serta ekspektasi tinggi yang telanjur disematkan kepada mereka. Beban untuk selalu tampil sempurna dan produktif setiap saat menjadi pemicu stres yang konstan.

Akibatnya, dinamika kehidupan kampus menciptakan dua sisi mata uang yang sama-sama rapuh. Baik mahasiswa yang bergerak cepat mengejar prestasi maupun mereka yang secara sadar memilih melambat, sama-sama berpotensi besar mengalami beban psikologis yang berat. Dalam situasi penuh tekanan inilah, mode senyap pada gawai hadir sebagai ruang privasi digital yang paling mudah diakses oleh mahasiswa untuk sekadar bernapas dan terlepas dari ekspektasi dunia luar.  

Menghadapi tantutan zaman digital, lingkungan kampus diharapkan mulai peka terhadap kesehatan mental mahasiswanya. Produktivitas tentu merupakan hal yang positif, namun jika ia berubah menjadi racun (toxic productivity) yang merusak kebahagiaan dan ketenangan jiwa, maka maknanya telah bergeser. Mengaktifkan fitur tanpa suara di ponsel cerdas hanyalah satu dari sekian banyak cara kecil yang bisa dilakukan remaja untuk menjaga kewarasan mereka. Pada akhirnya, kemampuan untuk berani berhenti sejenak dan mengabaikan kebisingan dunia luar termasuk riuhnya dunia digital adalah bentuk kedewasaan emosional yang sangat penting demi mempertahankan kesehatan mental jangka panjang. (kho/c1/sub)

Editor : Azahra Meilisani Salma
#produktivitas #remaja #kesehatan mental #psikologi #mahasiswa