BLITAR KAWENTAR – Fenomena silent mode belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Namun, istilah yang dimaksud bukanlah fitur ponsel yang membuat perangkat tanpa suara. Silent mode yang ramai dibahas saat ini merujuk pada kondisi psikologis ketika seseorang memilih diam, menarik diri dari interaksi sosial, dan enggan menyampaikan pendapat di ruang publik.
Fenomena silent mode banyak ditemukan di kalangan anak muda yang aktif menggunakan media sosial. Mereka cenderung memilih menjadi pengamat dibandingkan terlibat langsung dalam diskusi, baik di dunia maya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran karena dapat memengaruhi pola komunikasi dan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas sosial.
Pengamat sosial asal Blitar, Novitasari, menilai bahwa fenomena silent mode sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Menurutnya, kondisi tersebut sudah lama terjadi, hanya saja kini mendapatkan istilah baru yang lebih populer seiring perkembangan era digital dan budaya media sosial.
Silent Mode Bukan Fenomena Baru
Novitasari menjelaskan bahwa silent mode merupakan kondisi ketika individu atau kelompok memilih untuk tidak mengungkapkan pendapatnya karena berbagai alasan. Salah satunya adalah keinginan untuk menghindari konflik yang berpotensi muncul akibat perbedaan pandangan.
Selain itu, kurangnya rasa percaya diri juga menjadi faktor yang membuat seseorang memilih diam. Mereka merasa pendapat yang dimiliki tidak cukup penting atau khawatir mendapatkan respons negatif dari lingkungan sekitar.
“Ini kondisi saat individu atau kelompok memilih diam karena tidak mau terlibat konflik atau kurang percaya diri,” ungkap Novitasari.
Fenomena tersebut semakin terlihat di tengah derasnya arus informasi dan tingginya intensitas interaksi di media sosial. Banyak orang memilih menjaga jarak dari perdebatan publik untuk menghindari tekanan psikologis maupun serangan verbal yang bisa muncul sewaktu-waktu.
Baca Juga: Pemkab Blitar Kejar Izin Kelola 600 Hektare Pesisir Selatan, PAD Pariwisata Terancam Terus Menurun
Trauma dan Pengalaman Buruk Jadi Pemicu
Lebih lanjut, Novitasari menyebut bahwa pengalaman masa lalu memiliki peran besar dalam membentuk perilaku silent mode. Seseorang yang pernah mengalami penolakan, diremehkan, atau mendapat tanggapan negatif atas pendapatnya cenderung lebih berhati-hati untuk kembali menyampaikan pandangan di ruang publik.
Trauma semacam itu dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berbicara. Akibatnya, mereka lebih memilih diam meskipun sebenarnya memiliki gagasan atau masukan yang penting.
Di era digital saat ini, risiko tersebut semakin besar karena komentar negatif dapat menyebar dengan cepat. Tidak sedikit pengguna media sosial yang menjadi sasaran kritik berlebihan, perundungan daring, hingga serangan personal yang berdampak pada kesehatan mental.
Novitasari menilai media sosial yang semestinya menjadi sarana berekspresi kini justru sering dianggap sebagai ruang yang menakutkan. Kekhawatiran terhadap cyberbullying membuat banyak orang memilih tidak terlibat dalam diskusi atau menyuarakan pendapatnya.
Ada Sisi Positif, Tetapi Dampaknya Perlu Diwaspadai
Meski demikian, silent mode tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam beberapa situasi, memilih diam dapat membantu seseorang menghindari konflik yang tidak perlu dan menjaga ketenangan diri dari berbagai drama sosial.
Namun, jika perilaku tersebut terjadi secara masif dan berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya dapat menjadi persoalan serius. Salah satu risiko terbesar adalah hilangnya ruang kritik dan berkurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial maupun pembangunan lingkungan.
Ketika semakin banyak orang memilih diam, berbagai program atau kebijakan yang dijalankan di lingkungan masyarakat berpotensi tidak mendapatkan masukan yang konstruktif. Akibatnya, keputusan yang diambil hanya diterima begitu saja tanpa proses diskusi yang sehat.
Novitasari mengingatkan bahwa silent mode massal dapat memicu munculnya sikap individualis serta meningkatkan risiko miskomunikasi di tengah masyarakat. Orang menjadi lebih acuh terhadap kondisi sekitar dan enggan menyampaikan ketidaksetujuan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
"Dampaknya bisa memicu sikap individualis dan memicu miskomunikasi. Kita jadi acuh, program di masyarakat hanya diterima jadi, padahal sebenarnya kita tidak cocok,” pungkasnya.
Fenomena silent mode menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat perlu diimbangi dengan lingkungan yang sehat dan aman. Dengan ruang diskusi yang lebih terbuka dan minim intimidasi, masyarakat diharapkan kembali berani menyampaikan gagasan demi terciptanya komunikasi yang lebih baik dan partisipatif.