ANTISIPASI: Pembudidaya saat menyortir koi untuk memastikan mana ikan sehat dan mana yang tidak.
BLITAR KAWENTAR – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar mengingatkan para pembudidaya ikan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan penyakit white spot atau bintik putih yang dapat menyebabkan kematian massal pada ikan budidaya.
Penyakit ini dikenal memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat, terutama apabila kualitas air kolam tidak terjaga dengan baik.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Disnakkan Kabupaten Blitar, Deki Nusa Asmara, mengatakan penyakit white spot menjadi salah satu ancaman serius bagi usaha budidaya ikan.
Karena itu, pembudidaya diminta rutin memantau kondisi ikan sekaligus menjaga kualitas air kolam agar tetap optimal sebagai langkah pencegahan utama.
Menurut Deki, penyakit yang memiliki nama ilmiah Ichthyophthiriasis tersebut disebabkan oleh serangan parasit protozoa Ichthyophthirius multifiliis.
Parasit ini menyerang bagian kulit, sirip, hingga insang ikan sehingga mengganggu kesehatan ikan secara menyeluruh dan dapat memicu kematian apabila tidak segera ditangani.
Deki menjelaskan, gejala awal white spot kerap luput dari perhatian pembudidaya karena hanya tampak seperti butiran garam yang menempel pada tubuh ikan. Padahal, kondisi tersebut merupakan tanda awal infeksi yang dapat berkembang sangat cepat.
"White spot merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pembudidaya. Meski gejala awalnya hanya berupa bintik-bintik putih kecil, penyebarannya sangat cepat dan berpotensi menimbulkan kerugian besar apabila terlambat ditangani," ujarnya.
Ia mengatakan, apabila tidak segera dilakukan penanganan, parasit akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh populasi ikan dalam satu kolam.
Dampaknya tidak hanya menurunkan produktivitas budidaya, tetapi juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi para pembudidaya.
Menurut Deki, ikan yang terserang white spot biasanya memperlihatkan sejumlah gejala klinis yang mudah dikenali.
Selain muncul bintik-bintik putih pada kulit, sirip, dan insang, ikan juga sering menggesekkan tubuhnya ke dinding atau dasar kolam akibat rasa gatal yang ditimbulkan oleh parasit.
Gejala lainnya antara lain nafsu makan yang menurun, kondisi tubuh tampak lemah, serta ikan cenderung berkumpul di sekitar saluran masuk air yang memiliki kadar oksigen lebih tinggi.
"Pada kondisi yang lebih parah, produksi lendir meningkat dan dapat berujung pada kematian massal," katanya.
Karena itu, pembudidaya diminta tidak mengabaikan perubahan perilaku ikan sekecil apa pun. Semakin cepat gejala dikenali, peluang keberhasilan penanganan juga akan semakin besar.
Deki mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu munculnya penyakit white spot.
Di antaranya perubahan suhu air secara mendadak, kualitas air yang buruk, kepadatan tebar ikan yang terlalu tinggi, stres akibat proses penanganan maupun transportasi, hingga menurunnya kualitas lingkungan budidaya.
Untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, pembudidaya disarankan menjaga kualitas air kolam tetap stabil, menghindari kepadatan tebar yang berlebihan, serta melakukan karantina terhadap ikan baru sebelum dicampurkan dengan ikan yang sudah dipelihara.
Selain itu, pengelolaan budidaya yang baik juga diperlukan untuk mengurangi tingkat stres pada ikan.
Pemantauan kesehatan ikan secara berkala menjadi langkah penting agar gejala penyakit dapat diketahui sejak dini.
"Jika ditemukan gejala yang mengarah pada white spot, pembudidaya sebaiknya segera berkonsultasi dengan petugas atau laboratorium kesehatan ikan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat," pungkas Deki.
Disnakkan Kabupaten Blitar berharap para pembudidaya semakin disiplin menerapkan manajemen budidaya yang baik.
Dengan menjaga kualitas air, memantau kesehatan ikan secara rutin, dan melakukan penanganan sejak dini, risiko serangan white spot dapat ditekan sehingga produktivitas budidaya tetap terjaga.(kho/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari