Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bahaya White Spot pada Ikan Budidaya, Disnakkan Kabupaten Blitar Minta Pembudidaya Jaga Kualitas Air Kolam

Akhmad Nur Khoiri • Jumat, 26 Juni 2026 | 15:15 WIB
AKHMAD NUR KHOIRI/RADAR BLITAR
ANTISIPASI: Pembudidaya saat menyortir koi untuk memastikan mana ikan sehat dan mana yang tidak.
AKHMAD NUR KHOIRI/RADAR BLITAR
ANTISIPASI: Pembudidaya saat menyortir koi untuk memastikan mana ikan sehat dan mana yang tidak.

BLITAR KAWENTAR – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar mengingatkan para pembudidaya ikan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan penyakit white spot atau bintik putih yang dapat menyebabkan kematian massal pada ikan budidaya.

Penyakit ini dikenal memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat, terutama apabila kualitas air kolam tidak terjaga dengan baik.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Disnakkan Kabupaten Blitar, Deki Nusa Asmara, mengatakan penyakit white spot menjadi salah satu ancaman serius bagi usaha budidaya ikan.

Baca Juga: Suzuki Karimun 2026 Kembali Jadi Sorotan, City Car Legendaris Ini Tawarkan Kabin Lega, BBM Super Irit dan Harga Mulai Rp150 Jutaan

 Karena itu, pembudidaya diminta rutin memantau kondisi ikan sekaligus menjaga kualitas air kolam agar tetap optimal sebagai langkah pencegahan utama.

Menurut Deki, penyakit yang memiliki nama ilmiah Ichthyophthiriasis tersebut disebabkan oleh serangan parasit protozoa Ichthyophthirius multifiliis.

Parasit ini menyerang bagian kulit, sirip, hingga insang ikan sehingga mengganggu kesehatan ikan secara menyeluruh dan dapat memicu kematian apabila tidak segera ditangani.

Baca Juga: Kiandra Ramadhipa Juara Moto3 Junior Estoril 2026, Pembalap Indonesia Kibarkan Merah Putih Setelah Duel Sengit hingga Tikungan Terakhir

Deki menjelaskan, gejala awal white spot kerap luput dari perhatian pembudidaya karena hanya tampak seperti butiran garam yang menempel pada tubuh ikan. Padahal, kondisi tersebut merupakan tanda awal infeksi yang dapat berkembang sangat cepat.

"White spot merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pembudidaya. Meski gejala awalnya hanya berupa bintik-bintik putih kecil, penyebarannya sangat cepat dan berpotensi menimbulkan kerugian besar apabila terlambat ditangani," ujarnya.

Ia mengatakan, apabila tidak segera dilakukan penanganan, parasit akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh populasi ikan dalam satu kolam.

Baca Juga: Moto3 Ceko Masih Jadi Sorotan, Veda Ega Pratama Terseret Kontroversi Duel Sengit dengan Brian Uriarte dan Maximo Quiles

 Dampaknya tidak hanya menurunkan produktivitas budidaya, tetapi juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi para pembudidaya.

Menurut Deki, ikan yang terserang white spot biasanya memperlihatkan sejumlah gejala klinis yang mudah dikenali.

 Selain muncul bintik-bintik putih pada kulit, sirip, dan insang, ikan juga sering menggesekkan tubuhnya ke dinding atau dasar kolam akibat rasa gatal yang ditimbulkan oleh parasit.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Diuntungkan? Rumor Podium Brian Uriarte Dicabut Usai Dugaan Aksi Tak Sportif di Moto3, Klasemen Terancam Berubah

Gejala lainnya antara lain nafsu makan yang menurun, kondisi tubuh tampak lemah, serta ikan cenderung berkumpul di sekitar saluran masuk air yang memiliki kadar oksigen lebih tinggi.

"Pada kondisi yang lebih parah, produksi lendir meningkat dan dapat berujung pada kematian massal," katanya.

Karena itu, pembudidaya diminta tidak mengabaikan perubahan perilaku ikan sekecil apa pun. Semakin cepat gejala dikenali, peluang keberhasilan penanganan juga akan semakin besar.

Baca Juga: Skandal Brian Uriarte vs Veda Ega Pratama Memanas, Dugaan Aksi Tidak Sportif di Moto3 Bikin Publik Desak Investigasi dan Sanksi Tegas

Deki mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu munculnya penyakit white spot.

Di antaranya perubahan suhu air secara mendadak, kualitas air yang buruk, kepadatan tebar ikan yang terlalu tinggi, stres akibat proses penanganan maupun transportasi, hingga menurunnya kualitas lingkungan budidaya.

Untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, pembudidaya disarankan menjaga kualitas air kolam tetap stabil, menghindari kepadatan tebar yang berlebihan, serta melakukan karantina terhadap ikan baru sebelum dicampurkan dengan ikan yang sudah dipelihara.

Baca Juga: Hasil Moto3 Ceko 2026: Veda Ega Pratama Start dari Posisi 20, Finis 5 Besar dan Bikin Netizen Terdiam, Kans Podium di Belanda Makin Terbuka

Selain itu, pengelolaan budidaya yang baik juga diperlukan untuk mengurangi tingkat stres pada ikan.

Pemantauan kesehatan ikan secara berkala menjadi langkah penting agar gejala penyakit dapat diketahui sejak dini.

"Jika ditemukan gejala yang mengarah pada white spot, pembudidaya sebaiknya segera berkonsultasi dengan petugas atau laboratorium kesehatan ikan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat," pungkas Deki.

Baca Juga: Jadwal Moto3 Belanda 2026 Lengkap: Veda Ega Pratama Bidik Podium di Assen, Simak Jam Kualifikasi, Race, dan Klasemen Terbaru

Disnakkan Kabupaten Blitar berharap para pembudidaya semakin disiplin menerapkan manajemen budidaya yang baik.

 Dengan menjaga kualitas air, memantau kesehatan ikan secara rutin, dan melakukan penanganan sejak dini, risiko serangan white spot dapat ditekan sehingga produktivitas budidaya tetap terjaga.(kho/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#budidaya ikan #White spot ikan #Kualitas air kolam #Penyakit ikan budidaya #disnakkan kabupaten blitar