PROTES: Mahasiswa melakukan aksi demo dengan membakar ban bekas, di depan Gedung DPRD Kabupaten Blitar, kemarin (25/6).
BLITAR KAWENTAR – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kabupaten Blitar, Kamis (25/6).
Aksi yang membawa sejumlah tuntutan tersebut sempat memanas hingga diwarnai pembakaran ban dan aksi dorong pagar sebelum akhirnya berhasil dikendalikan aparat keamanan.
Demonstrasi dimulai sekitar pukul 12.00 WIB. Massa datang mengenakan almamater dari berbagai perguruan tinggi sambil membawa bendera organisasi masing-masing.
Mereka bergantian menyampaikan orasi dan menuntut DPRD Kabupaten Blitar memberikan perhatian terhadap sejumlah isu nasional maupun daerah, terutama evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketegangan mulai terjadi ketika sebagian massa membakar ban di depan gedung DPRD Kabupaten Blitar.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga sempat mendorong pagar gerbang sebagai bentuk protes karena merasa aspirasinya belum mendapat tanggapan. Meski begitu, situasi tidak berlangsung lama setelah aparat keamanan bergerak mengendalikan kondisi.
Saat aksi pembakaran ban berlangsung, petugas kepolisian segera memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Dalam insiden tersebut, seorang mahasiswa sempat diamankan petugas yang berada di sekitar lokasi pembakaran.
Tak lama setelah situasi kembali kondusif, Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi turun langsung menemui massa aksi.
Dialog antara mahasiswa dan pimpinan DPRD pun akhirnya dapat dilaksanakan sehingga aspirasi yang dibawa peserta demonstrasi tetap tersampaikan.
Koordinator lapangan aksi, Santa Febriana, menjelaskan suasana sempat memanas karena mahasiswa merasa kelelahan setelah berulang kali menyuarakan berbagai aspirasi melalui sejumlah forum. Meski demikian, menurutnya, mahasiswa sejak awal tetap mengedepankan jalur dialog.
"Tadi saya sudah meminta teman-teman untuk tetap di luar gedung DPRD dan melakukan audiensi. Karena kami mahasiswa, kami ingin menyampaikan aspirasi dengan baik kepada DPRD," ujarnya.
Santa menegaskan tidak ada niat dari mahasiswa untuk menciptakan kericuhan. Situasi yang sempat memanas disebut sebagai bentuk akumulasi kekecewaan terhadap berbagai persoalan publik yang dinilai belum memperoleh respons memadai.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sedikitnya 11 tuntutan. Salah satu poin utama yang disampaikan ialah perlunya evaluasi terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pelaksanaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Menurut mahasiswa, kedua program tersebut perlu mendapatkan pengawasan yang lebih ketat agar pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.
Mereka juga menyoroti penggunaan fasilitas pendidikan yang mulai dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan program pemerintah.
"Terkait MBG dan KDMP harus ada evaluasi. Seperti terjadi di SDN Tlogo 1 yang mulai digunakan untuk kegiatan KDMP," ungkap Santa.
Selain persoalan tersebut, mahasiswa juga meminta pemerintah dan DPR segera mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Mereka menilai regulasi tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya pemberantasan korupsi.
Menurut massa aksi, sejumlah regulasi lain dapat disahkan dalam waktu relatif cepat, sedangkan RUU Perampasan Aset hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan meski telah lama masuk agenda pembahasan.
Baca Juga: Membangun Smart City Kota Malang Melalui Transparansi Parkir Digital (QRIS)
"RUU Perampasan Aset adalah salah satu kunci untuk mengurangi korupsi dan memberikan keadilan bagi masyarakat kecil," tegasnya.
Sementara itu, Kapolres Blitar AKBP Rivanda membantah adanya tindakan represif terhadap peserta aksi. Ia memastikan pengamanan dilakukan sesuai prosedur agar demonstrasi tetap berjalan aman dan kondusif.
Menanggapi adanya mahasiswa yang sempat diamankan petugas, Rivanda menjelaskan langkah tersebut semata-mata untuk menghindari risiko keselamatan karena mahasiswa tersebut berada sangat dekat dengan titik pembakaran ban.
"Mahasiswa yang bersangkutan berada di dekat lokasi pembakaran ban. Kami khawatir terkena dampak atau mengalami cedera, sehingga kami geser ke tempat yang lebih aman. Tidak ada penangkapan," tegasnya.
Hingga aksi berakhir, situasi di sekitar Gedung DPRD Kabupaten Blitar kembali kondusif.
Dialog antara mahasiswa dan DPRD tetap berlangsung sebagai wadah penyampaian aspirasi, sementara aparat kepolisian bersama petugas terkait terus melakukan pengamanan untuk memastikan demonstrasi berjalan tertib dan tidak menimbulkan gangguan keamanan yang lebih luas.(jar/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari