BLITAR KAWENTAR – Legenda Sungai Lekso di Kabupaten Blitar menjadi salah satu cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat hingga saat ini. Sungai yang mengalir melintasi sejumlah kecamatan tersebut tidak hanya berperan sebagai sumber pengairan pertanian, tetapi juga dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Kahuripan, pembagian wilayah oleh Prabu Airlangga, hingga kisah pelarian pasukan Pangeran Diponegoro.
Sungai Lekso atau Kali Lekso merupakan salah satu sungai penting di Kabupaten Blitar. Aliran utamanya berada di wilayah Kecamatan Gandusari dan Wlingi, dengan sumber mata air berasal dari kawasan lereng Gunung Kawi dan Gunung Kelud. Selain dimanfaatkan untuk mengairi sawah, sungai ini juga menyimpan berbagai kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun.
Cerita mengenai Legenda Sungai Lekso menjadi bagian dari kekayaan sejarah dan budaya lokal. Meski sebagian kisahnya berkembang sebagai cerita rakyat, keberadaan sungai ini tetap memiliki nilai historis yang menarik untuk ditelusuri.
Jejak Pembagian Kerajaan Airlangga
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, asal-usul Sungai Lekso berkaitan dengan masa akhir pemerintahan Prabu Airlangga, Raja Kahuripan di Jawa Timur.
Kala itu, Airlangga menghadapi persoalan perebutan takhta di antara keturunannya. Untuk menghindari konflik berkepanjangan, kerajaan akhirnya dibagi menjadi dua wilayah, yakni Kerajaan Panjalu atau Kediri yang berpusat di Daha dan Kerajaan Janggala yang berpusat di Kahuripan.
Pembagian wilayah tersebut dipercaya dilakukan oleh Empu Barada. Dalam legenda, sang empu menuangkan air dari kendi sakti yang kemudian berubah menjadi aliran sungai sebagai batas kedua kerajaan.
Sejumlah ahli sejarah menduga sungai yang dimaksud dalam kisah tersebut adalah Sungai Brantas atau Sungai Lekso. Dugaan ini muncul berdasarkan kajian etimologi nama sungai yang tercantum dalam sejumlah naskah kuno.
Baca Juga: Harga Honda Brio 2026 Mulai Rp183 Jutaan, DP Rp10 Juta dan Cicilan Rp3 Jutaan Jadi Buruan Pembeli
Menjadi Batas Wilayah Kerajaan
Pendapat mengenai Sungai Lekso sebagai batas wilayah kerajaan diperkuat dengan sejumlah peta kuno yang menggambarkan kawasan Blitar dan Malang.
Dalam peta tersebut, wilayah di sebelah timur sungai merupakan daerah Malang, sedangkan kawasan di sebelah barat menjadi bagian Blitar. Kondisi geografis tersebut dinilai sesuai dengan posisi Sungai Lekso yang berada di jalur alami di antara dua kawasan besar pada masa lampau.
Karena itu, sebagian kalangan meyakini Sungai Lekso memiliki peran penting sebagai batas wilayah antara Kerajaan Panjalu dan Janggala.
Dikaitkan dengan Pasukan Diponegoro
Legenda lain menyebut Sungai Lekso juga memiliki hubungan dengan perjalanan para pengikut Pangeran Diponegoro setelah berakhirnya Perang Jawa pada 1830.
Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, sebagian pengikutnya dikisahkan melarikan diri ke berbagai daerah, termasuk wilayah Blitar.
Di antaranya adalah Ki Ageng Pandanowo dan Ki Tugusari yang kemudian membuka hutan di kawasan timur Sungai Lekso atas izin penguasa setempat. Bersama masyarakat, mereka membangun permukiman, sawah, hingga saluran air untuk mendukung kehidupan warga.
Konon, sungai yang berada di sisi barat permukiman kemudian diberi nama Sungai Lekso. Nama tersebut dipercaya berasal dari kata "rekso" dalam bahasa Jawa yang berarti menjaga atau melindungi.
Makna tersebut dianggap menggambarkan fungsi sungai yang menjadi sumber kehidupan sekaligus pelindung bagi masyarakat dan para pelarian pada masa itu.
Kini Menjadi Destinasi Wisata Arung Jeram
Terlepas dari berbagai legenda yang berkembang, Sungai Lekso kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata petualangan di Kabupaten Blitar.
Aliran sungainya yang memiliki jeram cukup menantang dimanfaatkan untuk kegiatan river tubing dan arung jeram. Salah satu titik favorit berada di kawasan Sumber Dandang yang menjadi lokasi awal aktivitas wisata air tersebut.
Selain itu, Sungai Lekso juga dikenal sebagai jalur lahar dingin Gunung Kelud yang membawa material vulkanik berupa pasir dan batu setiap kali terjadi erupsi.
Hingga kini, keberadaan Sungai Lekso tidak hanya penting sebagai sumber irigasi dan objek wisata, tetapi juga tetap menjadi bagian dari cerita sejarah dan legenda yang memperkaya khazanah budaya masyarakat Kabupaten Blitar.
Editor : Regina Gavin Agata