BLITAR KAWENTAR – Sejarah Candi Penataran menjadi salah satu kisah penting dalam perjalanan peradaban Hindu di Jawa Timur. Kompleks candi yang berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar ini dikenal sebagai candi Hindu terbesar dan termegah di Jawa Timur. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa nama asli bangunan bersejarah tersebut adalah Candi Palah.
Candi Penataran merupakan kompleks percandian bercorak Hindu Siwa yang hingga kini masih berdiri megah di lereng barat daya Gunung Kelud. Selain menjadi destinasi wisata sejarah, kawasan ini juga menyimpan berbagai peninggalan arsitektur dan relief yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa kerajaan Hindu di Nusantara.
Keberadaan Candi Penataran menjadi bukti kejayaan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, khususnya pada masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Beragam bangunan dan relief yang masih terawat menjadi daya tarik wisata sekaligus objek penelitian sejarah.
Nama Asli Candi Penataran
Meski lebih dikenal dengan nama Candi Penataran, kompleks ini sebenarnya bernama Candi Palah. Lokasinya berada sekitar 12 kilometer di utara pusat Kota Blitar, tepatnya di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok.
Kompleks candi ini memiliki area yang cukup luas dan terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang. Masing-masing bagian memiliki bangunan dengan fungsi yang berbeda pada masa lalu.
Halaman Depan Penuh Bangunan Bersejarah
Memasuki kawasan candi, pengunjung akan disambut dua Arca Dwarapala yang berdiri sebagai penjaga pintu gerbang. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Rejo Pentung.
Di kawasan ini juga terdapat sisa pintu gerbang berbahan bata, Bale Agung, Pendopo Teras, serta Candi Angka Tahun.
Bale Agung merupakan bangunan berbahan batu yang diduga digunakan sebagai tempat musyawarah para pendeta. Sementara Pendopo Teras diyakini menjadi lokasi peletakan sesaji dalam berbagai upacara keagamaan.
Salah satu bangunan yang paling menarik perhatian adalah Candi Angka Tahun atau dikenal pula sebagai Candi Brawijaya maupun Candi Ganesha. Pada bangunan tersebut terdapat pahatan angka tahun 1291 Saka atau sekitar 1369 Masehi.
Halaman Tengah dan Candi Naga
Perjalanan menuju halaman tengah memperlihatkan kembali dua Arca Dwarapala serta beberapa sisa bangunan kuno yang hingga kini masih dapat dikenali bentuk dasarnya.
Di kawasan ini juga terdapat Candi Naga yang menjadi salah satu ikon arsitektur Kompleks Candi Penataran. Selain itu, masih ditemukan sejumlah pondasi bata yang diperkirakan merupakan bagian dari bangunan lain yang kini telah rusak.
Susunan bangunan pada halaman tengah menunjukkan bahwa kompleks percandian ini dibangun secara bertahap mengikuti perkembangan kerajaan pada masanya.
Candi Utama Menyimpan Relief Ramayana
Bagian paling sakral berada di halaman belakang yang letaknya lebih tinggi dibanding dua halaman sebelumnya. Di lokasi inilah berdiri candi utama yang menjadi pusat kompleks Candi Penataran.
Bangunan utama terdiri atas tiga teras dengan ornamen relief yang berbeda pada setiap tingkatnya.
Pada teras pertama terdapat relief kisah Ramayana yang dipahat mengelilingi dinding candi. Relief tersebut menjadi salah satu daya tarik utama karena menggambarkan cerita epik Hindu secara rinci.
Sementara pada teras kedua terdapat relief lain yang dibaca dengan cara pradaksina atau mengelilingi candi searah jarum jam.
Adapun teras ketiga memiliki bentuk bujur sangkar dengan hiasan relief naga dan singa bersayap yang menunjukkan tingginya kemampuan seni pahat masyarakat pada masa itu.
Di kawasan candi utama juga terdapat Arca Mahakala serta pahatan angka tahun 1269 Saka atau sekitar 1347 Masehi yang menjadi penanda pembangunan salah satu bagian kompleks tersebut.
Hingga kini, Candi Penataran tetap menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Kabupaten Blitar. Keindahan arsitektur, nilai sejarah, serta kekayaan relief yang dimiliki menjadikan kompleks percandian ini sebagai warisan budaya yang penting untuk terus dijaga dan dilestarikan
Editor : Regina Gavin Agata