BLITAR KAWENTAR – Ajaran ketuhanan Bung Karno menjadi salah satu fondasi penting dalam pemikiran kebangsaan Indonesia.
Bagi Presiden pertama Republik Indonesia itu, kehidupan beragama memiliki peran besar dalam membangun persatuan bangsa yang terdiri atas beragam suku, agama, budaya, dan kepercayaan.
Bung Karno memandang bahwa bangsa Indonesia sejak awal merupakan bangsa yang religius. Karena itu, negara yang merdeka harus dibangun di atas nilai-nilai ketuhanan yang mampu menyatukan seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang agama maupun keyakinan.
Konsep ajaran ketuhanan Bung Karno kemudian menjadi salah satu gagasan yang melandasi lahirnya sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
Hingga kini, pemikiran tersebut masih menjadi rujukan dalam memahami kehidupan berbangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati.
Dalam berbagai kesempatan, Bung Karno menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan nilai-nilai ketuhanan.
Dalam wawancaranya dengan Cindy Adams yang kemudian dibukukan, Bung Karno menyampaikan bahwa bangsa Indonesia dilahirkan untuk mengabdi kepada Tuhan.
Menurutnya, setiap warga negara bebas menempuh jalan kepercayaan masing-masing, tetapi seluruhnya tetap mengakui kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Bung Karno juga meyakini bahwa perjalanan panjang bangsa Indonesia melewati masa penjajahan tidak terlepas dari keyakinan kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan dan harapan.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa bagi Bung Karno, agama bukan sekadar urusan pribadi, melainkan juga menjadi sumber nilai dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pemikiran Bung Karno mengenai ketuhanan mencapai puncaknya saat menyampaikan pidato pada 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Dalam pidato yang kemudian dikenal sebagai pidato lahirnya Pancasila itu, Bung Karno mengusulkan konsep Ketuhanan yang berkebudayaan.
Menurutnya, masyarakat Indonesia harus menjalankan kehidupan beragama dengan penuh rasa hormat terhadap pemeluk agama lain.
Setiap orang bebas menjalankan keyakinannya tanpa saling memaksakan kehendak maupun merendahkan kepercayaan orang lain.
Bung Karno menilai bahwa kehidupan beragama yang dilandasi sikap saling menghargai akan memperkuat persatuan nasional di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, yang hingga kini menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain berbicara mengenai ketuhanan secara umum, Bung Karno juga banyak mengulas ajaran Islam dalam berbagai tulisannya.
Dalam buku Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, ia memandang Islam sebagai ajaran yang mendorong kemajuan, membela kaum tertindas, serta menolak penjajahan dan eksploitasi terhadap manusia.
Menurut Bung Karno, semangat Islam harus diwujudkan dalam perjuangan menghadirkan keadilan sosial, membangun pendidikan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebaliknya, ia mengkritik cara pandang keagamaan yang hanya terpaku pada tradisi tanpa mendorong perubahan sosial. Bung Karno berpandangan bahwa agama seharusnya menjadi kekuatan yang mampu membawa kemajuan bagi bangsa.
Pemikiran tersebut juga tercermin dalam berbagai karya tulisnya yang membahas hubungan antara Islam, kebangsaan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Membangun Smart City Kota Malang Melalui Transparansi Parkir Digital (QRIS)
Meski banyak membahas Islam, Bung Karno tidak membatasi pandangannya hanya pada satu agama.
Ia juga mempelajari berbagai ajaran teologi lain yang berkembang di Nusantara sebagai bagian dari upayanya memahami nilai-nilai ketuhanan secara lebih luas.
Bagi Bung Karno, keberagaman agama merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga bersama.
Karena itu, negara harus memberikan ruang yang sama kepada seluruh pemeluk agama untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.
Pemikiran tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia dibangun sebagai negara yang menghormati agama, namun tidak didasarkan pada satu agama tertentu.
Di tengah masyarakat Indonesia yang semakin majemuk, ajaran ketuhanan Bung Karno masih dinilai memiliki relevansi yang kuat.
Nilai toleransi, saling menghormati, serta penghargaan terhadap perbedaan menjadi modal penting dalam menjaga persatuan nasional.
Para akademisi maupun pemerhati sejarah menilai konsep ketuhanan yang dirumuskan Bung Karno berhasil menjadi jembatan antara nilai-nilai agama dan semangat kebangsaan.
Warisan pemikiran tersebut juga mengingatkan bahwa kehidupan beragama seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan penyebab perpecahan.
Dengan menjunjung tinggi nilai ketuhanan yang berkebudayaan, masyarakat Indonesia diharapkan mampu terus menjaga persatuan dalam keberagaman sebagaimana dicita-citakan oleh Bung Karno sejak awal kemerdekaan.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari