BLITAR KAWENTAR – Sosio nasionalisme Bung Karno merupakan salah satu gagasan besar yang menjadi fondasi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Konsep ini lahir dari pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia tersebut bahwa nasionalisme tidak boleh hanya dimaknai sebagai kecintaan terhadap tanah air, tetapi juga harus berpijak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Bagi Bung Karno, nasionalisme Indonesia memiliki karakter yang berbeda dibandingkan nasionalisme di negara-negara Barat.
Ia menilai nasionalisme Indonesia tumbuh dari penderitaan rakyat akibat penjajahan sehingga bertujuan membebaskan manusia dari penindasan, bukan untuk menguasai bangsa lain.
Pemikiran mengenai sosio nasionalisme Bung Karno hingga kini masih menjadi salah satu konsep yang banyak dipelajari dalam sejarah, politik, maupun filsafat kebangsaan Indonesia.
Gagasan tersebut dinilai tetap relevan dalam memperkuat persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan global.
Dalam artikel berjudul Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi yang ditulis pada 1932, Bung Karno menjelaskan bahwa nasionalisme Indonesia harus berlandaskan kemanusiaan.
Menurutnya, nasionalisme sejati bukanlah paham yang mengutamakan kepentingan suatu bangsa dengan mengorbankan bangsa lain.
Sebaliknya, nasionalisme harus menjadi sarana untuk menciptakan kehidupan yang damai, setara, dan saling menghormati antarbangsa.
Bung Karno bahkan menegaskan bahwa nasionalismenya adalah "nasionalisme kemanusiaan". Artinya, kecintaan terhadap tanah air harus dibangun di atas rasa cinta kepada sesama manusia.
Ia juga berpandangan bahwa seorang nasionalis harus memahami sejarah dunia, kondisi ekonomi internasional, serta perkembangan masyarakat agar tidak terjebak pada nasionalisme yang sempit.
Perbedaan paling mendasar antara sosio nasionalisme Bung Karno dan nasionalisme Barat dijelaskan dalam buku Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.
Dalam buku tersebut, Bung Karno menyebut nasionalisme Eropa lahir bersamaan dengan kepentingan perdagangan dan ekspansi ekonomi.
Bangsa-bangsa Eropa berlomba mencari bahan baku dan wilayah baru demi memperkuat perekonomian mereka.
Akibatnya, nasionalisme berkembang menjadi alat pembenaran kolonialisme dan imperialisme. Banyak negara di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin akhirnya mengalami penjajahan akibat semangat ekspansi tersebut.
Bung Karno menilai nasionalisme seperti itu pada akhirnya hanya akan melahirkan konflik dan penderitaan.
Sebaliknya, nasionalisme Indonesia lahir dari pengalaman dijajah selama ratusan tahun.
Oleh karena itu, tujuannya bukan untuk menguasai bangsa lain, melainkan memperjuangkan kemerdekaan, persamaan derajat, dan penghormatan terhadap hak-hak setiap manusia.
Sosio nasionalisme juga memiliki cita-cita menciptakan masyarakat yang bebas dari penindasan.
Bung Karno menginginkan Indonesia menjadi negara yang mampu menghapus kesenjangan sosial, kemiskinan, serta berbagai bentuk eksploitasi terhadap rakyat kecil.
Menurutnya, kemerdekaan tidak akan memiliki arti apabila masih ada kelompok masyarakat yang hidup dalam penderitaan akibat ketidakadilan ekonomi maupun sosial.
Karena itu, perjuangan nasional tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Perjuangan harus terus dilanjutkan melalui pembangunan yang berpihak kepada seluruh rakyat.
Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan konsep berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri.
Bung Karno meyakini bangsa Indonesia harus mampu membangun kekuatan ekonomi, politik, dan kebudayaan secara mandiri tanpa bergantung kepada bangsa lain.
Meski lahir hampir satu abad lalu, konsep sosio nasionalisme Bung Karno masih sering dibahas dalam berbagai forum akademik maupun kebangsaan.
Nilai kemanusiaan yang menjadi inti ajaran tersebut dianggap tetap relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi, meningkatnya konflik identitas, hingga persaingan antarnegara.
Semangat nasionalisme yang menghargai kemanusiaan juga dinilai mampu memperkuat persatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya.
Di sisi lain, konsep berdikari yang menjadi bagian dari sosio nasionalisme masih sering dijadikan inspirasi dalam membangun kemandirian ekonomi nasional agar Indonesia tidak mudah bergantung pada kekuatan asing.
Warisan pemikiran Bung Karno tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme bukan sekadar simbol atau slogan, melainkan sebuah komitmen untuk menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dengan demikian, sosio nasionalisme tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga tetap memiliki makna penting sebagai pedoman dalam membangun bangsa yang adil, mandiri, dan berkepribadian.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari