Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perjuangan Soekarno Raih Kemerdekaan Indonesia, Dari Aktivis Pergerakan hingga Kontroversi Kerja Sama dengan Jepang

Ratna Anggi Puspita Sari • Jumat, 26 Juni 2026 | 17:14 WIB
Perjuangan Soekarno menuju kemerdekaan ditempuh melalui semangat perjuangan, diplomasi, dan strategi politik demi Indonesia yang merdeka.
Perjuangan Soekarno menuju kemerdekaan ditempuh melalui semangat perjuangan, diplomasi, dan strategi politik demi Indonesia yang merdeka.

 

BLITAR KAWENTAR – Perjuangan Soekarno meraih kemerdekaan Indonesia tidak pernah lepas dari kontroversi. Di satu sisi, ia dikenang sebagai Proklamator sekaligus tokoh utama yang mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

 Namun di sisi lain, langkahnya bekerja sama dengan Jepang saat Perang Dunia II hingga mendukung program romusha masih menjadi perdebatan panjang dalam sejarah.

Meski demikian, perjalanan perjuangan Soekarno meraih kemerdekaan Indonesia dimulai jauh sebelum masa pendudukan Jepang.

Baca Juga: Jumlah Penduduk Kota Blitar Belum Capai Syarat, Penambahan Kursi DPRD dan Dapil Dipastikan Belum Bisa Terjadi

Sejak remaja, Bung Karno telah aktif dalam berbagai organisasi pergerakan, menyebarkan gagasan nasionalisme, hingga beberapa kali dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda karena aktivitas politiknya.

Perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil perjuangan singkat, melainkan buah dari strategi politik, pendidikan, organisasi, serta kemampuan Soekarno menyatukan berbagai kekuatan nasional.

Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Baca Juga: Geger Temuan 50 Kasus Baru HIV di Kota Blitar, Ketua Komisi I DPRD Agus Zunaidi Soroti Fenomena LGBT di Medsos yang Makin Berani!

Berkat latar belakang keluarganya, ia memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda.

Saat berusia sekitar 15 tahun, Soekarno tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Di rumah tokoh Sarekat Islam itu, ia bertemu banyak calon pemimpin bangsa seperti Musso, Alimin, Semaun, hingga Kartosuwiryo.

Lingkungan tersebut membentuk cara berpikir Soekarno. Ia mulai mempelajari nasionalisme, sosialisme, hingga berbagai pemikiran politik Barat yang kemudian dipadukan dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Setelah melanjutkan pendidikan di Bandung, Soekarno semakin aktif menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

 Pengalamannya bertemu petani bernama Marhaen melahirkan gagasan Marhaenisme, yakni konsep perjuangan rakyat kecil melawan kapitalisme dan imperialisme.

Pada 4 Juli 1927, Soekarno bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Baca Juga: Demo Mahasiswa di DPRD Kabupaten Blitar Sempat Ricuh, Evaluasi Program MBG dan RUU Perampasan Aset Jadi Sorotan

Melalui partai tersebut, ia menggalang kekuatan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan tanpa mengandalkan pemberontakan bersenjata.

PNI berkembang pesat hingga menjadi ancaman serius bagi pemerintah Hindia Belanda. Akibat aktivitas politiknya, Soekarno ditangkap pada Desember 1929 dan dipenjara di Bandung.

Dalam persidangan, ia menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat yang kemudian menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan nasional.

Baca Juga: Demo Mahasiswa di DPRD Kabupaten Blitar Sempat Ricuh, Evaluasi Program MBG dan RUU Perampasan Aset Jadi Sorotan

Setelah bebas dari penjara, Soekarno kembali aktif berpolitik hingga akhirnya dibuang pemerintah Belanda ke Ende, Flores, kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Di Ende, Soekarno banyak merenung mengenai masa depan Indonesia. Dalam masa pengasingan inilah ia mulai merumuskan gagasan mengenai dasar negara yang kemudian berkembang menjadi Pancasila.

Sementara di Bengkulu, Soekarno aktif mengajar di sekolah Muhammadiyah dan bertemu Fatmawati, yang kelak menjadi istrinya sekaligus penjahit Bendera Merah Putih.

Baca Juga: Suzuki Karimun 2026 Kembali Jadi Sorotan, City Car Legendaris Ini Tawarkan Kabin Lega, BBM Super Irit dan Harga Mulai Rp150 Jutaan

Ketika Jepang mengalahkan Belanda pada 1942, Soekarno menghadapi pilihan yang sangat sulit. Ia memutuskan bekerja sama dengan pemerintah militer Jepang.

Keputusan itu menuai kritik keras, terutama dari kelompok pemuda yang menganggap Jepang sama saja dengan penjajah Belanda.

Namun, Soekarno berpendapat bahwa perlawanan terbuka terhadap Jepang hanya akan menimbulkan korban lebih besar karena rakyat Indonesia belum memiliki kekuatan militer yang memadai.

Baca Juga: Jadwal Moto3 Belanda 2026 Lengkap: Veda Ega Pratama Tempel Brian Uriarte di Klasemen Rookie, Peluang Besar Naik Podium di Assen

Melalui kerja sama tersebut, Soekarno memanfaatkan berbagai organisasi bentukan Jepang, seperti Putera dan Pembela Tanah Air (PETA), untuk menanamkan semangat nasionalisme sekaligus mempersiapkan kader bangsa.

Meski harus mendukung program romusha, Soekarno mengakui bahwa keputusan tersebut merupakan pilihan yang sangat berat.

Dalam berbagai catatan, ia menyebut langkah itu sebagai konsekuensi yang harus diambil demi menjaga peluang Indonesia meraih kemerdekaan.

Baca Juga: Harga Honda Brio Bekas 2026 Turun Drastis, Mulai Rp95 Juta hingga Brio 2025 KM 37 Dijual Harga Second

Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, posisi Jepang semakin terdesak. Pada 1945 dibentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang kemudian dilanjutkan dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan gagasan mengenai dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, terjadi perbedaan pandangan antara golongan tua dan golongan muda mengenai waktu pelaksanaan proklamasi.

Baca Juga: Harga Honda Brio 2026 Mulai Rp183 Jutaan, DP Rp10 Juta dan Cicilan Rp3 Jutaan Jadi Buruan Pembeli

Peristiwa Rengasdengklok menjadi titik balik yang mempercepat proses kemerdekaan. Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno bersama Mohammad Hatta menyusun teks Proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda.

Tepat pukul 10.00 WIB pada 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Peristiwa tersebut menjadi puncak perjuangan panjang Bung Karno dalam mengantarkan Indonesia menuju negara merdeka.

 Meski perjalanan pemerintahannya kemudian diwarnai berbagai kontroversi, perannya sebagai Proklamator tetap menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#PNI #BPUPKI #Proklamasi 17 Agustus 1945 #kemerdekaan indonesia #Perjuangan Soekarno