BLITAR KAWENTAR – Program Read Aloud terus digencarkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Kabupaten Blitar sebagai salah satu upaya membangun budaya literasi sejak usia dini. Melalui metode membaca nyaring dan mendongeng, anak-anak diperkenalkan dengan dunia buku secara menyenangkan agar minat baca tumbuh sejak masa pertumbuhan emas (golden age).
Program Read Aloud menjadi salah satu strategi Dispussip Kabupaten Blitar untuk meningkatkan ketertarikan anak terhadap buku tanpa harus menunggu mereka mampu membaca secara mandiri. Kegiatan tersebut dikemas secara interaktif melalui cerita, ekspresi, dan komunikasi dua arah sehingga anak lebih mudah memahami isi buku sekaligus menikmati proses belajar.
Kepala Bidang Perpustakaan Dispussip Kabupaten Blitar, Wahyuni Dianasari, mengatakan pengenalan budaya membaca perlu dimulai sejak dini. Menurutnya, buku harus menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari anak agar kebiasaan membaca dapat terbentuk secara alami.
Baca Juga: Toko Cat Perdana Warna, Solusi Lengkap Kebutuhan Cat dan Material Bangunan di Blitar Raya
“Sasarannya adalah anak-anak usia dini. Melalui gerakan Read Aloud dan mendongeng ini, kita ingin memperkenalkan buku dengan cara yang tidak membosankan,” ujarnya.
Read Aloud Bangun Ketertarikan Anak pada Buku
Dalam pelaksanaannya, metode Read Aloud dilakukan dengan membacakan buku menggunakan intonasi yang jelas, ekspresi menarik, serta melibatkan anak dalam alur cerita. Pendekatan tersebut membuat anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga mengenal ilustrasi, memahami makna cerita, hingga memperkaya kosakata baru.
Menurut Wahyuni, kegiatan membaca nyaring terbukti mampu melatih kemampuan menyimak, meningkatkan konsentrasi, sekaligus menjadi fondasi penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa anak. Anak-anak juga diajak berinteraksi sehingga proses belajar berlangsung lebih aktif dan menyenangkan.
“Anak-anak dirangsang untuk menyukai cerita, visual buku, dan memahami kosakata baru lewat suara nyaring serta ekspresi yang dibawakan oleh pendamping,” katanya.
Ia menambahkan, manfaat Read Aloud tidak hanya sebatas mengenalkan buku. Aktivitas tersebut juga membantu anak belajar fokus, memahami isi cerita, serta membangun kedekatan emosional dengan buku sejak usia dini.
“Melalui Read Aloud, anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga belajar fokus, memahami isi cerita, dan membangun kedekatan dengan buku sejak usia dini,” jelasnya.
Mobil Perpusling Perluas Jangkauan Literasi
Untuk menjangkau lebih banyak anak di berbagai wilayah Kabupaten Blitar, Dispussip memanfaatkan layanan perpustakaan keliling melalui Mobil Jelajah Literasi (Mojali). Kendaraan tersebut membawa koleksi buku sekaligus menjadi media pelaksanaan kegiatan Read Aloud dan mendongeng di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Keberadaan Mojali dinilai efektif karena mampu menghadirkan layanan perpustakaan hingga ke daerah yang jauh dari fasilitas perpustakaan tetap. Dengan demikian, anak-anak tetap memiliki kesempatan mengenal buku dan mengikuti kegiatan literasi secara langsung.
Program ini juga menjadi salah satu bentuk pemerataan akses literasi agar seluruh anak di Kabupaten Blitar memperoleh kesempatan yang sama untuk menumbuhkan minat membaca sejak dini.
Baca Juga: Kuda Hitam Piala Dunia 2026 Jadi Ancaman Serius, Norwegia hingga Maroko Siap Guncang Tim Raksasa
Peran Orang Tua dan Guru Sangat Penting
Selain menghadirkan layanan perpustakaan keliling, Dispussip menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dan tenaga pendidik dalam membangun kebiasaan membaca. Kebiasaan sederhana membacakan buku di rumah maupun di sekolah diyakini mampu memberikan dampak besar terhadap perkembangan literasi anak.
Karena itu, Wahyuni berharap guru PAUD, TK, hingga para orang tua dapat menjadikan Read Aloud sebagai rutinitas yang dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, budaya membaca harus dimulai dari lingkungan terdekat anak agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kami berharap guru PAUD, TK, maupun orang tua dapat membiasakan membacakan buku kepada anak-anak. Kebiasaan sederhana ini menjadi investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan memiliki budaya literasi yang kuat,” pungkasnya.
Melalui penguatan program Read Aloud, layanan perpustakaan keliling, serta dukungan keluarga dan sekolah, Dispussip Kabupaten Blitar berharap budaya literasi semakin tumbuh di tengah masyarakat. Dengan fondasi membaca yang kuat sejak usia dini, diharapkan lahir generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, gemar belajar, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Editor : Regina Gavin Agata