Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kasus HIV Kota Blitar Bertambah 50 Orang, Puskesmas Sananwetan Jemput Bola hingga Datangi Kos dan Kafe Malam

Azahra Meilisani Salma • Senin, 29 Juni 2026 | 14:15 WIB
Petugas Puskesmas Sananwetan memberikan layanan tes HIV secara mobile kepada kelompok rentan sebagai upaya meningkatkan deteksi dini dan menekan penyebaran HIV di Kota Blitar.
Petugas Puskesmas Sananwetan memberikan layanan tes HIV secara mobile kepada kelompok rentan sebagai upaya meningkatkan deteksi dini dan menekan penyebaran HIV di Kota Blitar.

BLITAR KAWENTAR – Penanganan kasus HIV Kota Blitar kini dilakukan dengan strategi yang lebih agresif. Petugas kesehatan tidak lagi hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi turun langsung menemui kelompok rentan di berbagai lokasi. Langkah jemput bola ini diterapkan untuk meningkatkan deteksi dini sekaligus menekan penyebaran HIV di Kota Blitar.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan Kota Blitar mencatat terdapat 50 kasus baru HIV. Tingginya stigma dan diskriminasi membuat banyak kelompok rentan masih enggan memeriksakan kondisi kesehatannya. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan dalam menemukan kasus baru sehingga diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Blitar, Silvia Dewi Kusumawati, mengatakan pendekatan konvensional sudah tidak lagi efektif menjangkau populasi kunci. Menurutnya, kelompok tersebut memiliki mobilitas tinggi dan cenderung tertutup sehingga petugas kesehatan harus mengubah pola intervensi yang selama ini dilakukan.

Baca Juga: Hakim Danish Dihujat Media Ceko Usai “Bumerang Kesombongan” di Moto3 Brno 2026, Dani Pedrosa Ikut Beri Peringatan Keras!

"Populasi kunci ini pergerakannya sangat dinamis dan tertutup. Kita harus mengubah strategi intervensi, tidak bisa lagi sekadar menunggu bola di fasilitas kesehatan," ujarnya.

Perubahan strategi itu mulai diterapkan Puskesmas Sananwetan dengan mengembangkan pelayanan berbasis siklus hidup masyarakat sesuai regulasi Undang-Undang Kesehatan terbaru. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjawab perubahan perilaku sosial sekaligus meningkatkan akses layanan kesehatan bagi kelompok rentan.

Perawat Penyelia HIV dan IMS Puskesmas Sananwetan, Wahyu Seno Hadi, mengungkapkan kelompok seperti Lelaki Seks Lelaki (LSL), waria, hingga pekerja seks komersial memiliki jaringan pergaulan yang sangat tertutup. Karena itu, petugas tidak lagi hanya menunggu pasien datang ke puskesmas, tetapi aktif mendatangi lokasi tempat mereka biasa berkumpul.

Baca Juga: Korupsi Dam Kali Bentak dan APBDes Umbuldamar, Kejari Kabupaten Blitar Kejar Pengembalian Kerugian Negara hingga Miliaran Rupiah

"Kalau kami hanya pasif menunggu di puskesmas, mereka sangat sulit untuk datang. Akhirnya kami yang mengalah dengan menerapkan sistem mobile atau jemput bola," ujarnya.

Petugas kesehatan kini menyambangi berbagai lokasi, mulai dari kamar kos hingga kafe pada malam hari. Seluruh proses pemeriksaan dilakukan dengan menjaga kerahasiaan identitas maupun hasil tes agar masyarakat tidak takut menjalani pemeriksaan HIV. Langkah tersebut sekaligus mendukung target pemerintah untuk mengeliminasi HIV pada 2030.

"Kami datangi mereka di mana pun mereka merasa nyaman berkumpul, dan kami jamin penuh kerahasiaan identitas serta hasil tesnya," tegas Seno.

Baca Juga: Angka Pengangguran Kabupaten Blitar Masih 4,49 Persen, Disnaker Gelar Job Fair 2026 dengan 900 Lowongan Kerja

Puskesmas Sananwetan juga menggandeng sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang selama ini mendampingi kelompok minoritas. Melalui kolaborasi tersebut, edukasi mengenai pentingnya terapi antiretroviral (ARV) dapat diterima lebih baik karena disampaikan melalui komunitas yang telah dipercaya.

Menurut Seno, tantangan berikutnya adalah menjaga kepatuhan pasien dalam menjalani terapi seumur hidup. Tidak sedikit pasien yang menghentikan konsumsi ARV setelah kondisi tubuhnya kembali sehat, padahal pengobatan harus dilakukan secara rutin agar virus tetap terkendali.

"Banyak pasien yang fisiknya drop langsung pulih total setelah rutin minum ARV. Celakanya, begitu badannya merasa kembali sehat, mereka justru malas dan nekat menghentikan pengobatan," tambahnya.

Baca Juga: Lahan Pacuan Kuda di Talun Blitar Bakal Dibangun Sekolah Rakyat, Pemkab Ungkap Progresnya

Strategi jemput bola tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Kepala Puskesmas Sananwetan, Siti Julaikhah, menyebut jumlah kelompok rentan yang aktif mengakses layanan kesehatan meningkat dari 18 orang pada 2023 menjadi 118 orang pada 2025. Peningkatan itu menunjukkan bahwa pendekatan langsung ke komunitas mampu mengurangi ketakutan masyarakat terhadap stigma HIV.

"Harapan kami, kelompok rentan ini bisa terus membangun kesadaran mandiri untuk tes kesehatan. Bagi yang telanjur terkonfirmasi positif, kami minta tetap tertib dan disiplin berobat demi melindungi orang-orang di sekitar mereka," pungkasnya.

Editor : Azahra Meilisani Salma
#terapi ARV #HIV blitar #puskesmas sananwetan #dinkes kota blitar #hiv/aids