BLITAR KAWENTAR – Menjalani peran sebagai dosen, ibu rumah tangga, sekaligus aktivis sosial bukan perkara sederhana. Namun, bagi Putri Cinta Mei, setiap peran justru menjadi ruang pengabdian yang saling melengkapi.
Baginya, ilmu yang diperoleh di bangku pendidikan akan lebih bermakna ketika mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Perempuan berusia 31 tahun asal Dusun Jagoan, Desa Ponggok, Kabupaten Blitar, itu kini dikenal sebagai salah satu dosen muda di Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar.
Baca Juga: 340 ODHIV di Kabupaten Blitar Hilang Kontak, Dinkes Waspadai Risiko Penularan HIV Meningkat
Sejak mulai mengajar pada 2021, Putri tidak hanya mendidik mahasiswa di ruang kelas, tetapi juga aktif mendampingi perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan hukum.
Perjalanan Putri menjadi seorang dosen berawal dari kampus yang sama. Ia merupakan alumni Program Studi Ilmu Administrasi Negara Unisba Blitar.
Setelah menyelesaikan pendidikan strata satu, Putri sempat mengabdi sebagai tenaga kependidikan di almamaternya.
Di tengah kesibukan bekerja, ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya.
"Setelah lulus S-2, saya memberanikan diri melamar sebagai tenaga pendidik di program studi tempat saya kuliah dulu. Dari sanalah babak baru perjalanan ini dimulai," kenangnya.
Kesabaran dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada 2024, Putri resmi memperoleh Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) sebagai dosen tetap di Unisba Blitar.
Meski kini berprofesi sebagai akademisi, Putri mengaku menjadi dosen bukanlah cita-cita yang ia impikan sejak kecil.
Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, pandangannya berubah. Ia melihat ruang kelas sebagai tempat terbaik untuk menyebarkan semangat, nilai-nilai positif, sekaligus membangun karakter generasi muda.
"Menjadi dosen tidak sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Ada tanggung jawab besar dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," ujarnya.
Menurut Putri, ketiga pilar tersebut memberikan banyak pengalaman berharga. Melalui profesi yang dijalaninya, ia dapat terus belajar, melakukan penelitian, sekaligus hadir di tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan pengabdian.
Kesibukan Putri tidak berhenti setelah aktivitas perkuliahan usai. Di luar kampus, ia aktif bergabung dalam Lembaga SAPUAN, organisasi independen yang fokus pada pendampingan perempuan dan anak di wilayah Blitar Raya.
Melalui organisasi tersebut, Putri kerap mendampingi berbagai kasus yang melibatkan perempuan maupun anak.
Mulai dari kasus kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga pendampingan anak yang berhadapan dengan hukum (ABH).
Baginya, kehadiran pendamping menjadi bagian penting dalam memastikan korban memperoleh hak-haknya secara adil.
Selain aktif di Lembaga SAPUAN, Putri juga terlibat dalam sejumlah organisasi kepemudaan di Kabupaten Blitar.
Keterlibatannya menjadi bentuk komitmen untuk terus mendorong lahirnya generasi muda yang aktif, peduli, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Menjalani tiga peran sekaligus sebagai dosen, ibu rumah tangga, dan aktivis sosial tentu membutuhkan energi, komitmen, serta kemampuan mengatur waktu yang baik.
Bagi Putri, kunci menjaga keseimbangan tersebut terletak pada manajemen waktu yang disiplin dan komunikasi yang terbuka bersama keluarga.
Baca Juga: Lahan Pacuan Kuda di Talun Blitar Bakal Dibangun Sekolah Rakyat, Pemkab Ungkap Progresnya
"Kuncinya adalah manajemen waktu yang baik dan komunikasi yang klop dengan keluarga. Di rumah, kami membangun saling pengertian tentang pembagian tugas dan peran. Dukungan penuh dari keluarga inilah yang membuat roda keseimbangan hidup saya tetap berputar harmonis," tuturnya.
Dengan dukungan keluarga, Putri mampu menjalankan seluruh aktivitasnya tanpa harus mengorbankan salah satu peran.
Ia berharap dapat terus memberikan manfaat, baik melalui dunia akademik maupun aktivitas sosial yang dijalaninya.
Bagi Putri, pengabdian bukan hanya dilakukan di ruang kelas. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan kepedulian terhadap sesama, maka pendidikan akan memiliki makna yang jauh lebih luas, yakni menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. (jar/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari