BLITAR KAWENTAR – Aliansi SPPG Blitar Raya menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Dukungan tersebut disampaikan melalui apel yang diikuti relawan, mitra, serta pemasok yang terlibat dalam penyelenggaraan program MBG di Kota dan Kabupaten Blitar.
Koordinator Aliansi SPPG Blitar Raya, Bambang Kaspo, mengatakan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Baca Juga: 340 ODHIV di Kabupaten Blitar Hilang Kontak, Dinkes Waspadai Risiko Penularan HIV Meningkat
Menurutnya, program tersebut mampu menyerap banyak tenaga kerja sekaligus menggerakkan berbagai sektor usaha lokal.
"Program ini bukan hanya memberikan makan bergizi kepada jutaan anak setiap hari, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Satu dapur bisa mempekerjakan sekitar 50 orang," ujarnya kepada Radar Blitar.
Saat ini, kata Bambang, terdapat sekitar 160 dapur MBG yang beroperasi di wilayah Blitar Raya.
Dengan jumlah tersebut, ribuan tenaga kerja terlibat dalam operasional setiap hari, mulai dari tenaga pengolah makanan, petugas distribusi, hingga tenaga pendukung lainnya.
Selain membuka lapangan pekerjaan, Bambang menilai Program Makan Bergizi Gratis turut memberikan manfaat besar bagi pelaku usaha lokal.
Kebutuhan bahan pangan setiap dapur dipasok dari berbagai sektor, mulai petani, peternak, nelayan hingga pelaku UMKM.
Menurutnya, setiap dapur membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari. Kondisi tersebut menciptakan permintaan yang stabil bagi para pemasok lokal sehingga roda perekonomian masyarakat ikut bergerak.
"Bayangkan satu dapur membutuhkan beras satu sampai dua kuintal setiap hari. Belum kebutuhan telur, sayur, daging, dan bahan pangan lainnya. Banyak sektor yang ikut bergerak karena adanya program ini," katanya.
Bambang menambahkan, satu dapur MBG juga dapat melibatkan sekitar 15 pemasok dari berbagai bidang usaha.
Hal itu dinilai menjadi peluang bagi pelaku usaha kecil untuk ikut berkembang bersama program pemerintah tersebut.
Meski memberikan dampak positif, Bambang mengungkapkan selama masa libur sekolah distribusi Program Makan Bergizi Gratis dihentikan sementara.
Kebijakan tersebut mengikuti surat edaran pemerintah pusat yang mengatur penghentian layanan selama sekitar tiga pekan.
Menurutnya, tidak seluruh personel dapur diliburkan. Sejumlah tenaga inti seperti kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan petugas keamanan tetap menjalankan tugas untuk memastikan operasional siap kembali saat program dilanjutkan.
Sementara itu, relawan serta tenaga operasional lainnya mengikuti masa libur sesuai kebijakan yang berlaku.
"Kami mengikuti kebijakan pemerintah. Kami melihat masa penghentian sementara ini juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan efisiensi pelaksanaan program," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga membantah anggapan bahwa Program Makan Bergizi Gratis hanya menguntungkan kelompok pemodal besar.
Menurutnya, banyak dapur MBG di Blitar Raya dibangun melalui skema gotong royong sejumlah mitra yang mengumpulkan modal bersama sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
"Tidak semuanya pengusaha besar. Banyak yang patungan untuk membangun dapur. Bahkan satu dapur bisa melibatkan sekitar 15 pemasok dari berbagai sektor usaha," tegasnya.
Aliansi SPPG Blitar Raya berharap Program Makan Bergizi Gratis terus berjalan secara berkelanjutan.
Selain membantu pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, program tersebut dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah.(bud/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari