BLITAR KAWENTAR – Makam Bung Karno Blitar masih menjadi salah satu destinasi wisata sejarah favorit di Jawa Timur yang tak pernah sepi pengunjung. Kompleks pemakaman Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, ini tidak hanya menjadi lokasi ziarah, tetapi juga pusat edukasi sejarah yang menyimpan ribuan koleksi berharga mengenai perjalanan hidup sang Proklamator.
Berlokasi di Jalan Ir. Soekarno Nomor 152, Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, kawasan ini hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Alun-Alun Kota Blitar atau sekitar delapan menit perjalanan menggunakan kendaraan. Kemudahan akses membuat Makam Bung Karno Blitar selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.
Pengunjung yang datang dapat memanfaatkan area parkir yang cukup luas dengan tarif parkir Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil. Sementara rombongan bus dapat memarkir kendaraan di lokasi khusus yang berjarak sekitar satu kilometer dari kawasan makam, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan becak atau berjalan kaki.
Memasuki kompleks dari pintu barat, wisatawan akan disambut patung Bung Karno sebelum menuju Museum Bung Karno. Menariknya, museum ini dapat dikunjungi secara gratis.
Museum tersebut menyimpan sekitar 2.200 koleksi memorabilia yang berkaitan dengan kehidupan dan perjuangan Bung Karno. Berbagai benda bersejarah dipamerkan, mulai dari pakaian, koper pribadi, uang seri Bung Karno, lukisan, foto dokumentasi, hingga replika naskah Proklamasi.
Tidak hanya itu, tersedia pula Rumah Pintar Pemilu yang menyajikan sejarah perkembangan pemilu di Indonesia sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2024. Pengunjung juga dapat melihat miniatur tempat pemungutan suara, dokumentasi perjalanan demokrasi Indonesia, serta profil anggota Komisi Pemilihan Umum.
Museum ini juga menghadirkan kisah perjalanan hidup Bung Karno melalui berbagai kota yang pernah menjadi tempat tinggal maupun lokasi pengasingannya, seperti Jombang, Mojokerto, Kediri, Bengkulu, Ende, hingga Berastagi.
Salah satu daya tarik museum adalah koleksi benda pribadi Bung Karno, seperti peci, kacamata hitam, baju safari, jam tangan, pulpen, parfum favorit, hingga meja kerja yang pernah digunakan sang Proklamator.
Selain itu, terdapat pula benda pusaka berupa Keris Kiai Sekar Jagat dan Gong Kiai Jimat yang menjadi bagian dari koleksi museum. Pengunjung juga dapat menyaksikan lukisan Bung Karno yang dikenal unik karena bagian dadanya dibuat menyerupai detak jantung.
Bagi pelajar maupun masyarakat umum, museum ini menjadi sarana edukasi sejarah yang memberikan gambaran lengkap mengenai perjalanan hidup, perjuangan, hingga pemikiran Bung Karno.
Kompleks Makam Bung Karno Blitar memiliki luas sekitar 1,8 hektare dan terbagi menjadi tiga area utama, yaitu halaman, teras, serta pendopo yang mengadopsi filosofi kehidupan dalam budaya Jawa.
Untuk memasuki area makam, pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp4.000 per orang. Tiket tersebut juga berlaku untuk mengunjungi Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno yang lokasinya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari kompleks makam.
Di dalam kawasan makam berdiri Pendopo Astono Mulyo yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Bung Karno bersama kedua orang tuanya, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.
Di sisi lain kompleks juga terdapat Masjid Raden Soekemi Sosrodihardjo, relief perjuangan Bung Karno, kolam ikan, area amfiteater, hingga Gong Perdamaian Dunia yang dihiasi simbol berbagai agama dan bendera dari lebih dari 200 negara.
Setelah selesai berziarah, pengunjung diarahkan melewati pusat oleh-oleh yang menjual berbagai produk UMKM khas Blitar, mulai dari batik, kerajinan tangan, gantungan kunci, makanan khas, hingga camilan lokal.
Keberadaan museum, perpustakaan, kawasan makam, dan berbagai fasilitas pendukung menjadikan kompleks ini bukan sekadar tempat ziarah, tetapi juga destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah perjuangan bangsa kepada generasi muda.
Tak heran jika Makam Bung Karno Blitar selalu menjadi tujuan wisata sejarah yang ramai dikunjungi, baik oleh masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara yang ingin mengenal lebih dekat sosok Presiden pertama Republik Indonesia.
Editor : Azahra Meilisani Salma