BLITAR KAWENTAR – Sejarah Alun-alun Kota Blitar menyimpan kisah panjang yang menjadi bagian penting dari perkembangan kota sejak masa Hindia Belanda. Bersanding dengan Masjid Agung Kota Blitar, kawasan ini telah mengalami perubahan fungsi dari pusat pemerintahan dan arena tradisi masa kolonial menjadi ruang publik modern yang menjadi kebanggaan masyarakat.
Alun-alun Kota Blitar bukan sekadar tempat berkumpul. Di balik wajahnya yang kini hijau dan ramai aktivitas warga, tersimpan jejak sejarah yang bermula setelah letusan dahsyat Gunung Kelud pada pertengahan abad ke-19. Peristiwa tersebut mengubah tata kota sekaligus melahirkan kawasan Alun-alun Kota Blitar yang dikenal hingga sekarang.
Dalam tayangan edukasi sejarah yang dibawakan pegiat budaya Kabupaten Blitar, dijelaskan bahwa pusat pemerintahan Blitar awalnya berada di kawasan Pakunden, dekat aliran sungai. Namun letusan besar Gunung Kelud menghancurkan sebagian wilayah, termasuk pendopo bupati dan masjid, sehingga pemerintah kolonial memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi baru.
Alun-alun Baru Dibangun Setelah Letusan Gunung Kelud
Pembangunan alun-alun baru diprakarsai oleh Bupati Blitar pertama, Raden Tumenggung Aryo Hadinegoro, sekitar tahun 1875. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan sekaligus ruang terbuka yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Pada masa Hindia Belanda, fungsi alun-alun jauh berbeda dengan saat ini. Selain menjadi pusat administrasi pemerintahan, kawasan tersebut juga dikenal sebagai lokasi pelaksanaan tradisi rampogan macan.
Rampogan macan merupakan pertunjukan yang mempertemukan manusia dengan harimau dalam sebuah arena terbuka. Tradisi ini muncul sebagai respons terhadap banyaknya harimau yang memasuki permukiman warga. Prajurit yang berhasil menaklukkan harimau akan memperoleh hadiah maupun kenaikan pangkat.
Tradisi tersebut berlangsung cukup lama hingga akhirnya dihentikan pada 1910 setelah pemerintah Hindia Belanda memberlakukan aturan perlindungan satwa.
Berubah Menjadi Ruang Publik Modern
Setelah tradisi rampogan macan berakhir, Alun-alun Kota Blitar beralih fungsi menjadi tempat penyelenggaraan upacara resmi, lokasi masyarakat menghadap bupati, hingga pusat aktivitas sosial warga.
Kini alun-alun menjadi ruang terbuka hijau terbesar di pusat Kota Blitar. Masyarakat memanfaatkannya untuk berolahraga, bersantai, bermain bersama keluarga, hingga menikmati suasana kota.
Revitalisasi yang dilakukan pada akhir 2023 hingga awal 2024 semakin mempercantik kawasan ini. Berbagai fasilitas baru seperti Monumen Titik Nol, ruang ekspresi, siluet Gunung Kelud, air mancur, hingga jogging track modern menjadikan alun-alun sebagai salah satu destinasi favorit masyarakat maupun wisatawan.
Masjid Agung Menjadi Penanda Sejarah Kota
Di sisi barat alun-alun berdiri Masjid Agung Kota Blitar yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan kawasan tersebut. Masjid ini diperkirakan mulai berdiri pada akhir abad ke-19 setelah pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi baru.
Sejak awal keberadaannya, Masjid Agung menjadi pusat ibadah sekaligus pusat penyebaran syiar Islam bagi masyarakat Blitar. Berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan Al-Qur'an, hingga aktivitas sosial rutin diselenggarakan di kompleks masjid.
Arsitekturnya memadukan unsur tradisional Jawa dengan sentuhan modern sehingga tetap mempertahankan nilai historis sekaligus menyesuaikan kebutuhan zaman. Menara yang menjulang serta kubah megah menjadi salah satu ikon Kota Blitar yang mudah dikenali.
Dalam filosofi tata kota Jawa, keberadaan alun-alun dan masjid memang tidak dapat dipisahkan. Keduanya menjadi simbol keseimbangan antara pemerintahan, masyarakat, dan nilai-nilai spiritual.
Menjaga Warisan Sejarah Blitar
Hingga kini Alun-alun Kota Blitar dan Masjid Agung tetap menjadi pusat aktivitas masyarakat. Dari pagi hingga malam, kawasan tersebut selalu ramai dikunjungi warga untuk berolahraga, beribadah, maupun sekadar menikmati suasana kota.
Perubahan fungsi dari arena rampogan macan menjadi ruang publik modern menunjukkan bagaimana kawasan ini terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai sejarahnya.
Sebagai salah satu ikon Kota Blitar, keberadaan alun-alun dan Masjid Agung menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun melalui bangunan fisik, tetapi juga oleh kisah-kisah sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Regina Gavin Agata