Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengapa Soekarno Bekerja Sama dengan Jepang? Ini Kisah Perjuangannya Menuju Kemerdekaan Indonesia

Ratna Anggi Puspita Sari • Selasa, 30 Juni 2026 | 07:25 WIB
Perjalanan Soekarno menuju kemerdekaan Indonesia penuh perjuangan dan kontroversi.
Perjalanan Soekarno menuju kemerdekaan Indonesia penuh perjuangan dan kontroversi.

BLITAR KAWENTAR – Perjuangan Soekarno meraih kemerdekaan Indonesia menjadi salah satu kisah paling penting dalam sejarah bangsa.

Sosok yang dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan itu tidak hanya dikenang karena membacakan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945, tetapi juga karena perjalanan panjangnya melawan kolonialisme sejak usia muda.

Di balik keberhasilannya memimpin Indonesia menuju kemerdekaan, perjalanan Soekarno meraih kemerdekaan Indonesia juga diwarnai berbagai kontroversi.

Baca Juga: Keahlian Awak Perahu Tambangan di Sungai Brantas Bakal Ditingkatkan, Dishub Blitar Siapkan Pelatihan Keselamatan Pelayaran Gratis

 Salah satunya adalah keputusan bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang selama Perang Dunia II. Kebijakan tersebut hingga kini masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan.

Meski demikian, banyak pihak menilai langkah yang ditempuh Soekarno merupakan strategi politik untuk memanfaatkan situasi internasional demi mempercepat lahirnya negara Indonesia merdeka.

Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Berbeda dengan kebanyakan pribumi saat itu, Soekarno memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda.

Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026 Hari Ini, DR Kongo Bikin Kejutan, Argentina Sempurna, Babak 32 Besar Resmi Terbentuk

Saat menempuh pendidikan di Surabaya, Soekarno tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam yang dikenal sebagai guru para pemimpin bangsa.

 Dari rumah itulah Soekarno banyak berdiskusi dengan para aktivis pergerakan dan mulai mengenal gagasan nasionalisme, sosialisme, hingga anti-kolonialisme.

Pengalaman tersebut membentuk karakter Soekarno sebagai orator muda yang lantang mengkritik pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Baca Juga: Top Skor Piala Dunia 2026 Terbaru, Lionel Messi Masih Teratas, Bagan 32 Besar Resmi Terbentuk dan Jadwal Babak Gugur Siap Dimulai

Setelah melanjutkan pendidikan di Bandung, Soekarno semakin aktif dalam dunia pergerakan. Bersama sejumlah tokoh nasional, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927.

Melalui PNI, Soekarno menyerukan perjuangan nonkooperatif terhadap pemerintah kolonial. Ia juga menggalang persatuan berbagai organisasi kebangsaan yang kemudian melahirkan Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda pada 1928.

Aktivitas politik tersebut membuat pemerintah Hindia Belanda menangkap Soekarno pada akhir 1929.

Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026 Hari Ini, DR Kongo Bikin Kejutan, Argentina Sempurna, Jepang Lolos, Berikut Klasemen Terbaru dan Tim ke Babak 32 Besar

Saat menjalani persidangan, ia menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat yang kemudian menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan nasional.

Setelah bebas dari penjara, perjuangan Soekarno tidak berhenti. Pemerintah kolonial kembali menangkap dan mengasingkannya ke Ende, Flores, kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Selama di Bengkulu, Soekarno aktif mengajar dan bertemu Fatmawati yang kelak menjadi ibu negara pertama Indonesia.

Baca Juga: Lionel Messi Dicadangkan Lawan Yordania, Bursa Sepatu Emas Piala Dunia 2026 Memanas usai Dembélé Tempel Ketat

Situasi berubah drastis ketika Jepang mengalahkan Belanda pada 1942. Pemerintah pendudukan Jepang kemudian memanfaatkan pengaruh Soekarno untuk menggalang dukungan rakyat Indonesia dalam menghadapi Perang Pasifik.

Keputusan Soekarno bekerja sama dengan Jepang menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam perjalanan hidupnya.

Melalui organisasi Putera, Soekarno bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur mengajak masyarakat mendukung berbagai program pemerintah Jepang.

Baca Juga: Nissan Leaf 2026 Resmi Tampil sebagai SUV Listrik Modern, Usung Fitur Keselamatan Lengkap dan Fast Charging yang Siap Saingi Rival

 Salah satunya adalah pengerahan tenaga kerja romusha yang kemudian menimbulkan banyak korban jiwa.

Namun menurut berbagai catatan sejarah, Soekarno menganggap kerja sama tersebut sebagai pilihan yang paling mungkin dilakukan saat itu.

Ia meyakini perlawanan terbuka terhadap Jepang hanya akan menimbulkan korban yang jauh lebih besar, sementara hubungan baik dengan pemerintah pendudukan dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Nissan Leaf Bekas Semakin Menarik, Ini Alasan Model 2022 Jadi Buruan dan Wajib Dicek Sebelum Dibeli

Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, Jepang mulai memberikan ruang kepada tokoh-tokoh Indonesia untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Soekarno dipercaya memimpin Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Soekarno memperkenalkan konsep dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Baca Juga: Harga Hyundai Ioniq Bekas Kini Setara LCGC, Mobil Listrik Rp100 Jutaan dengan Jarak Tempuh 300 Km Ini Jadi Buruan

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, golongan muda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa campur tangan Jepang.

 Peristiwa Rengasdengklok pun terjadi sebelum akhirnya Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Keberhasilan tersebut mengakhiri perjuangan panjang bangsa Indonesia melawan penjajahan sekaligus menempatkan Soekarno sebagai Proklamator Kemerdekaan.

Baca Juga: Beli Mobil Listrik Bekas Untung atau Buntung? Ini Alasan MG4 EV Bekas Seharga Rp280 Juta Mulai Jadi Buruan Konsumen

Meski perjalanan politiknya pada tahun-tahun berikutnya dipenuhi kontroversi, peran Soekarno dalam memperjuangkan lahirnya Republik Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa.

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#PNI #Proklamasi 17 Agustus 1945 #kemerdekaan indonesia #soekarno #Perjuangan Soekarno