BLITAR KAWENTAR – Benarkah Soekarno memiliki kesaktian? Pertanyaan tersebut masih kerap menjadi perbincangan masyarakat hingga kini.
Selain dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno juga lekat dengan berbagai kisah mistis yang berkembang di tengah masyarakat.
Berbagai cerita menyebut Bung Karno memiliki benda pusaka hingga ilmu kesaktian yang membuatnya selamat dari berulang kali percobaan pembunuhan. Namun, hingga kini tidak ada bukti sejarah yang dapat memastikan kebenaran cerita tersebut.
Baca Juga: Toko Cat Perdana Warna, Solusi Lengkap Kebutuhan Cat dan Material Bangunan di Blitar Raya
Sebagian besar kisah mengenai kesaktian Soekarno berasal dari cerita tutur dan kepercayaan masyarakat.
Di sisi lain, fakta sejarah menunjukkan Soekarno memang dikenal sebagai sosok yang mencintai budaya Nusantara. Ia mengoleksi sejumlah keris, menghargai benda-benda pusaka sebagai warisan budaya, serta beberapa kali dikabarkan melakukan tirakat di sejumlah tempat.
Selama memimpin Indonesia, Soekarno beberapa kali dikabarkan menjadi target percobaan pembunuhan.
Sejumlah sumber menyebut terdapat puluhan upaya pembunuhan, mulai dari tahap perencanaan hingga eksekusi, meski angka pastinya masih menjadi perdebatan.
Dari peristiwa tersebut kemudian muncul anggapan bahwa Bung Karno memiliki kemampuan supranatural yang membuatnya selalu lolos dari maut.
Salah satu cerita yang paling populer menyebut Soekarno menguasai Ajian Lembu Sekilan, ilmu yang dalam cerita rakyat dipercaya mampu melindungi pemiliknya dari serangan musuh.
Meski demikian, tidak ada dokumen sejarah yang membuktikan bahwa Soekarno benar-benar memiliki ajian tersebut.
Selain kisah kesaktian, masyarakat juga mengenal berbagai cerita mengenai benda pusaka milik Soekarno. Salah satunya adalah tongkat komando yang hampir selalu dibawanya saat menghadiri acara resmi.
Tongkat tersebut disebut terbuat dari kayu pujangkala dan menurut cerita rakyat memiliki kekuatan spiritual. Bahkan beredar cerita bahwa di dalam tongkat itu terdapat keris kecil yang diyakini memiliki tuah tertentu.
Selain tongkat komando, nama Bung Karno juga dikaitkan dengan pusaka wesi kuning, keris peninggalan leluhur, hingga mustika merah delima yang konon diperoleh dari tokoh legendaris dalam cerita rakyat.
Namun seluruh kisah tersebut belum pernah dibuktikan secara historis dan lebih banyak berkembang sebagai bagian dari folklor masyarakat.
Di sisi lain, beberapa sumber justru menyebut Soekarno lebih mengagumi keris sebagai karya seni dan warisan budaya Indonesia daripada mempercayai kekuatan gaib yang dikaitkan dengan benda tersebut.
Terlepas dari berbagai cerita mistis, Soekarno memiliki kemampuan yang benar-benar diakui sejarah. Ia dikenal sebagai orator ulung yang mampu membangkitkan semangat rakyat melalui pidato-pidatonya.
Selain itu, Bung Karno juga termasuk seorang poliglot yang menguasai banyak bahasa, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, Arab, Prancis, Jepang, Jawa, Sunda, Bali, dan Melayu.
Kemampuan tersebut membuatnya mampu berkomunikasi langsung dengan banyak pemimpin dunia tanpa selalu bergantung kepada penerjemah.
Karisma, kecerdasan, serta kemampuan diplomasi inilah yang kemudian menjadikan Soekarno dihormati di berbagai negara. Namanya bahkan diabadikan menjadi nama jalan di sejumlah negara seperti Mesir, Pakistan, Maroko, dan Turki.
Di luar berbagai kisah yang berkembang, warisan terbesar Soekarno adalah gagasan dan kontribusinya bagi bangsa Indonesia.
Ia menjadi salah satu tokoh utama Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan dipercaya menjadi presiden pertama Republik Indonesia.
Soekarno juga dikenal sebagai penggagas konsep dasar negara yang kemudian berkembang menjadi Pancasila. Gagasan tersebut disampaikan dalam sidang BPUPKI sebelum akhirnya disempurnakan dan disahkan pada 18 Agustus 1945.
Hingga kini, kisah mengenai kesaktian dan benda pusaka Bung Karno masih menjadi bagian dari cerita yang hidup di masyarakat.
Namun, yang tidak terbantahkan adalah jasa, kepemimpinan, serta pemikiran Soekarno yang memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah Indonesia menuju kemerdekaan dan pembentukan dasar negara.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari