BLITAR KAWENTAR – Perjuangan Soekarno menuju kemerdekaan Indonesia tidak pernah lepas dari perdebatan. Di satu sisi, ia dikenang sebagai Proklamator yang membebaskan bangsa dari penjajahan.
Namun di sisi lain, keputusan bekerja sama dengan Jepang hingga mendukung kebijakan Romusha membuat namanya terus menjadi bahan diskusi para sejarawan.
Meski demikian, perjuangan Soekarno menunjukkan perjalanan panjang yang penuh pengorbanan, strategi, dan dilema politik.
Langkah-langkah yang diambil Bung Karno tidak selalu populer, tetapi diyakini sebagai bagian dari upaya mempersiapkan Indonesia menuju kemerdekaan.
Sejak muda, perjuangan Soekarno telah dimulai melalui pendidikan, organisasi, hingga perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Sosok yang lahir pada 6 Juni 1902 di Peneleh, Surabaya, itu tumbuh menjadi tokoh nasional yang mampu menyatukan berbagai kekuatan politik demi cita-cita Indonesia merdeka.
Soekarno lahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.
Berasal dari keluarga priyayi membuatnya memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, sesuatu yang sulit didapatkan masyarakat pribumi saat itu.
Saat tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya, pemikirannya berkembang pesat.
Ia banyak berdiskusi dengan tokoh-tokoh pergerakan serta mempelajari berbagai ideologi seperti nasionalisme, sosialisme, hingga marxisme. Dari sanalah kemampuan pidato Bung Karno mulai terasah.
Melanjutkan pendidikan di Bandung, Soekarno semakin aktif menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme.
Pengalamannya bertemu petani bernama Marhaen melahirkan gagasan Marhaenisme, sebuah konsep yang berpihak kepada rakyat kecil tanpa mengadopsi komunisme secara utuh.
Pada 4 Juli 1927, Soekarno bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Organisasi tersebut menjadi kendaraan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui persatuan bangsa.
Popularitas Bung Karno meningkat setelah aktif berpidato dan menulis di berbagai media. Aktivitas itu membuat pemerintah Hindia Belanda menganggapnya sebagai ancaman serius.
Puncaknya terjadi pada Desember 1929 ketika Soekarno ditangkap dan dipenjara. Dalam persidangan, ia menyampaikan pleidoi berjudul Indonesia Menggugat yang kemudian menjadi salah satu pidato paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan bangsa.
Setelah bebas dari penjara, Soekarno kembali aktif berpolitik. Namun Belanda kembali mengasingkannya ke Ende, Flores, lalu dipindahkan ke Bengkulu.
Selama masa pengasingan, ia banyak merenungkan konsep dasar negara yang kelak berkembang menjadi Pancasila.
Di Bengkulu, Soekarno aktif mengajar di sekolah Muhammadiyah dan bertemu Fatmawati, perempuan yang kemudian menjadi istrinya sekaligus penjahit Bendera Merah Putih.
Baca Juga: Feda Ega Pratama Tampil Agresif di Moto3 Assen 2026, Crash Usai Duel Sengit Tikungan 4 Jadi Sorotan
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Soekarno menghadapi pilihan sulit. Ia memutuskan bekerja sama dengan pemerintah militer Jepang bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur.
Keputusan tersebut mendapat penolakan dari kalangan pemuda seperti Sutan Sjahrir.
Salah satu keputusan paling kontroversial Soekarno adalah mendukung propaganda Romusha.
Program kerja paksa itu mengirim ratusan ribu rakyat Indonesia ke berbagai wilayah untuk kepentingan perang Jepang.
Dalam berbagai kesempatan, Bung Karno mengakui keputusan tersebut sangat berat.
Namun ia menilai perlawanan terbuka terhadap Jepang hanya akan menimbulkan korban yang lebih besar karena rakyat Indonesia belum memiliki kekuatan militer yang memadai.
Di balik kerja sama itu, Soekarno memanfaatkan peluang untuk membangun fondasi bangsa.
Jepang kemudian mengizinkan pembentukan PETA sebagai cikal bakal kekuatan militer Indonesia dan membentuk BPUPKI yang menjadi wadah penyusunan dasar negara.
Setelah Jepang semakin terdesak dalam Perang Pasifik, kesempatan menuju kemerdekaan semakin terbuka.
Pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidato mengenai dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Situasi berubah drastis ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.
Golongan muda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa campur tangan Jepang.
Peristiwa Rengasdengklok menjadi titik balik yang akhirnya mempercepat proses tersebut.
Pada pagi 17 Agustus 1945, Soekarno bersama Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Momentum itu menandai lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus menjadi puncak dari perjuangan panjang Bung Karno.
Meski berhasil mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan, perjalanan Soekarno tidak berhenti di sana.
Kepemimpinannya setelah proklamasi masih menyisakan berbagai kontroversi yang hingga kini terus menjadi bahan kajian sejarah.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari