BLITAR KAWENTAR – Asal-usul Lodoyo Blitar tak hanya dikenal melalui catatan sejarah, tetapi juga diwariskan lewat tradisi dan benda pusaka yang masih dijaga hingga kini. Salah satu peninggalan budaya yang paling dikenal masyarakat adalah Gong Kyai Pradah, pusaka sakral yang dipercaya memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Lodaya dan masih menjadi bagian dari ritual adat setiap tahunnya.
Keberadaan Gong Kyai Pradah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan budaya Kabupaten Blitar.
Pusaka tersebut disimpan di kawasan yang diyakini sebagai pusat atau ibu kota Lodaya, sekaligus menjadi lokasi pelaksanaan berbagai tradisi budaya yang telah berlangsung turun-temurun.
Baca Juga: Benarkah Soekarno Memiliki Kesaktian? Ini Deretan Mitos, Pusaka, dan Fakta Sejarah Sang Proklamator
Melalui penelusuran sejarah yang dilakukan kreator konten Norman dalam kanal YouTube Blitar Api, masyarakat diajak mengenal kisah di balik Gong Kyai Pradah beserta nilai budaya yang masih dipertahankan hingga sekarang. Penjelasan tersebut memperlihatkan bagaimana warisan leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Gong Kyai Pradah Diyakini Menjadi Pusaka Raja Lodaya
Menurut penuturan narasumber dalam video tersebut, Gong Kyai Pradah dipercaya sebagai pusaka sakral yang berkaitan dengan Raja Lodaya. Benda bersejarah itu diyakini bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan simbol spiritual yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah masyarakat setempat.
Karena dianggap memiliki nilai sakral, Gong Kyai Pradah dirawat secara khusus dan tidak digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Keberadaannya hanya ditampilkan dalam momen-momen adat tertentu yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Baca Juga: Sejarah Makam Aryo Blitar, Sosok yang Diyakini Cikal Bakal Berdirinya Kota Blitar Penuh Misteri
Hingga kini, masyarakat masih menjaga berbagai tradisi yang berkaitan dengan pusaka tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan budaya lokal.
Tradisi Jamasan Setiap Muludan Masih Dilestarikan
Salah satu tradisi yang masih dipertahankan adalah prosesi jamasan atau memandikan Gong Kyai Pradah. Ritual tersebut dilaksanakan setiap datangnya bulan Mulud dalam penanggalan Jawa dan menjadi agenda budaya yang selalu dinantikan masyarakat.
Prosesi jamasan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap benda pusaka sekaligus wujud pelestarian tradisi leluhur. Masyarakat percaya ritual tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam serta menjadi bagian dari identitas budaya Lodoyo.
Tradisi ini juga menjadi salah satu kekayaan budaya Kabupaten Blitar yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Dua Gong yang Dipercaya Saling Berhubungan
Di lokasi penyimpanan Gong Kyai Pradah terdapat dua simbol yang dipercaya memiliki keterkaitan satu sama lain. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, gong yang berada di Lodoyo dipercaya sebagai gong laki-laki.
Sementara itu, pasangan gong perempuan disebut berada di wilayah Solo. Kepercayaan masyarakat menyebutkan bahwa ketika Gong Kyai Pradah ditabuh dalam prosesi adat, gaung suaranya dipercaya dapat terdengar hingga ke Solo sebagai simbol adanya hubungan spiritual antara keduanya.
Cerita tersebut telah menjadi bagian dari folklore masyarakat dan terus diceritakan secara turun-temurun. Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, kisah itu menjadi bagian penting dari warisan budaya yang memperkaya sejarah Lodoyo.
Menjadi Simbol Pelestarian Budaya Lokal
Selain memiliki nilai sejarah, Gong Kyai Pradah juga menjadi simbol penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Lodoyo. Keberadaannya mengingatkan masyarakat akan pentingnya melestarikan tradisi, menghormati leluhur, serta menjaga peninggalan sejarah agar tidak hilang ditelan zaman.
Melalui konten yang dibuat Norman, masyarakat diajak untuk mengenal sejarah daerahnya sendiri sekaligus memahami makna di balik tradisi yang masih dijalankan hingga sekarang.
Ia berharap generasi muda semakin peduli terhadap sejarah lokal dan ikut menjaga warisan budaya yang menjadi identitas Kabupaten Blitar.
Dengan semakin banyaknya upaya mengenalkan sejarah dan budaya daerah melalui media digital, diharapkan nilai-nilai kearifan lokal seperti tradisi Gong Kyai Pradah dapat terus lestari dan dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia.
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan