BLITAR KAWENTAR – Sejarah Kota Blitar menyimpan perjalanan panjang yang membentang sejak masa Kerajaan Majapahit, era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga menjadi bagian penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Kota yang kini dikenal sebagai Kota Proklamator ini bukan hanya memiliki nilai historis tinggi, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi masyarakat.
Selain menyandang julukan Kota Proklamator karena menjadi tempat peristirahatan terakhir Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, Blitar juga dikenal sebagai Kota Patria dan Kota Lahar. Julukan tersebut mencerminkan karakter masyarakatnya yang memiliki semangat perjuangan tinggi sekaligus kondisi geografis yang berada di kaki Gunung Kelud.
Secara geografis, Kota Blitar merupakan wilayah administratif terkecil kedua di Jawa Timur setelah Kota Mojokerto dengan luas sekitar 32,58 kilometer persegi. Kota ini berjarak sekitar 160 kilometer dari Surabaya dan seluruh wilayahnya dikelilingi Kabupaten Blitar. Administrasinya terbagi menjadi tiga kecamatan, yakni Sukorejo, Kepanjenkidul, dan Sananwetan yang terdiri atas 21 kelurahan.
Berawal dari Masa Kerajaan Majapahit
Sejarah Kota Blitar diyakini bermula pada masa Kerajaan Majapahit. Kala itu wilayah Blitar dikuasai oleh bangsa Tartar yang datang dari Asia Timur.
Untuk merebut kembali wilayah tersebut, Kerajaan Majapahit mengirim seorang utusan bernama Nila Suwarna. Berkat keberhasilannya mengusir bangsa Tartar, ia kemudian memperoleh gelar Adipati Ario Blitar I dan dipercaya memimpin wilayah yang telah berhasil dibebaskan.
Konon, nama "Blitar" berasal dari makna "kembali pulangnya bangsa Tartar", sebagai penanda berakhirnya penguasaan bangsa tersebut di wilayah itu. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Adipati Ario Blitar II atau Sengguruh sebelum akhirnya digantikan Adipati Ario Blitar III, Joko Kandung, setelah terjadinya pergolakan internal.
Baca Juga: Benarkah Soekarno Memiliki Kesaktian? Ini Deretan Mitos, Pusaka, dan Fakta Sejarah Sang Proklamator
Memasuki Masa Pemerintahan Belanda
Perjalanan sejarah Blitar memasuki babak baru ketika Kadipaten Blitar jatuh ke tangan VOC atau Belanda pada tahun 1723. Peristiwa itu terjadi setelah Raja Amangkurat dari Kartasura menyerahkan wilayah tersebut kepada Belanda sebagai balas jasa atas bantuan memenangkan perang saudara.
Perubahan besar kembali terjadi pada 1 April 1906. Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Blitar sebagai Gemeente atau Kota Praja melalui peraturan hukum kolonial. Pada masa itu, jabatan burgemeester atau wali kota masih dirangkap oleh Residen Kediri sehingga pemerintahan kota belum berdiri secara mandiri seperti sekarang.
Menjadi Saksi Perlawanan PETA
Salah satu peristiwa paling bersejarah di Kota Blitar terjadi pada masa pendudukan Jepang. Saat itu nama wilayah berubah menjadi Blitar Shi.
Pada 14 Februari 1945, Sudanco Supriyadi memimpin pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) melawan pasukan Jepang. Perlawanan tersebut tercatat sebagai salah satu gerakan terbesar terhadap pendudukan Jepang di Indonesia dan menjadi inspirasi lahirnya semangat perjuangan menuju kemerdekaan.
Dalam momentum tersebut, Sang Saka Merah Putih juga dikibarkan oleh Partoharjono di seberang asrama PETA. Kini lokasi bersejarah itu berada di kawasan Taman Makam Pahlawan Raden Wijaya atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Monumen Potlot.
Menjadi Kota Blitar Setelah Indonesia Merdeka
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, masyarakat Blitar menyatakan bergabung dan tunduk kepada pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemerintah kemudian menetapkan perubahan nomenklatur melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1945 dengan mengubah nama resmi Blitar Shi menjadi Kota Blitar. Sejak saat itu, Kota Blitar terus berkembang sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, sekaligus kota wisata sejarah yang memiliki banyak situs penting peninggalan masa lampau.
Kini, sejarah panjang tersebut masih dapat ditelusuri melalui berbagai destinasi wisata sejarah di Kota Blitar, seperti Istana Gebang, Makam Bung Karno, Museum Bung Karno, Monumen PETA, hingga berbagai situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Seluruhnya menjadi bukti bahwa Kota Blitar memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Editor : Regina Gavin Agata