Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Harga Telur Ayam di Blitar Anjlok hingga Rp 15.600 per Kg, Peternak Turun ke Jalan Jual Langsung ke Warga Pangkas Tengkulak

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 30 Juni 2026 | 10:39 WIB
Peternak menjual telur ayam ras langsung kepada masyarakat
Peternak menjual telur ayam ras langsung kepada masyarakat

 

BLITAR KAWENTAR – Anjloknya harga telur ayam di Blitar membuat para peternak mikro dan kecil mengambil langkah yang tak biasa.

 Mereka turun langsung ke masyarakat untuk menjual hasil produksinya tanpa melalui perantara.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap panjangnya rantai distribusi sekaligus upaya membantu masyarakat memperoleh telur dengan harga lebih terjangkau.

Baca Juga: Perjuangan Soekarno Menuju Kemerdekaan Indonesia: Dari Tuduhan Kolaborator Jepang hingga Berhasil Memproklamasikan Kemerdekaan

Pemandangan tersebut terlihat di depan Kantor Bupati Blitar, Senin (29/6). Belasan kendaraan pikap yang membawa ratusan kilogram telur ayam diserbu warga.

Telur dijual langsung oleh peternak dengan harga Rp20 ribu per kilogram, lebih murah dibanding harga di pasar yang masih berkisar Rp24 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Ketua Peternak Mikro Kecil Blitar Raya, Suyanto, mengatakan gerakan penjualan langsung merupakan ikhtiar peternak untuk bertahan di tengah merosotnya harga telur di tingkat kandang.

Baca Juga: Benarkah Soekarno Memiliki Kesaktian? Ini Deretan Mitos, Pusaka, dan Fakta Sejarah Sang Proklamator

Dalam beberapa hari terakhir, harga telur yang diterima peternak hanya berkisar Rp15.600 hingga Rp16.200 per kilogram, jauh di bawah harga yang dibayar konsumen.

"Ini kegiatan peternak untuk mendekat kepada masyarakat. Karena beberapa hari terakhir, harga telur di tingkat peternak turun sampai Rp15.600 hingga Rp16.200 per kilogram, sementara di pasar masih dijual Rp24 ribu sampai Rp25 ribu. Jarak harga ini terlalu jauh," ujarnya.

Menurut Suyanto, penjualan langsung menjadi solusi agar peternak memperoleh harga yang lebih layak, sementara masyarakat tetap mendapatkan telur dengan harga lebih murah dibandingkan di pasaran.

Melalui cara tersebut, peternak tidak hanya bergantung pada tengkulak atau perantara yang selama ini menguasai jalur distribusi.

 Mereka juga mulai belajar memasarkan produknya secara mandiri kepada konsumen.

Gerakan ini telah berlangsung sekitar sepekan dan dilakukan secara serentak oleh peternak di berbagai daerah, seperti Kabupaten Blitar, Kediri, Tulungagung, hingga Malang.

Baca Juga: Tinjau KDKMP di Blitar, Asrenum Panglima TNI: UMKM hingga Telur Peternak Siap Masuk Rantai Pasok

Suyanto mengungkapkan, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Harga telur di tingkat peternak yang sebelumnya berada di kisaran Rp15 ribuan kini mulai merangkak naik menjadi sekitar Rp17.300 per kilogram.

"Alhamdulillah, setelah satu minggu bergerak bersama, harga telur di kandang sudah naik menjadi sekitar Rp17.300 per kilogram," jelasnya.

Dalam aksi penjualan langsung itu, sekitar 10 armada peternak diterjunkan di wilayah Blitar.

Baca Juga: Warung Bambu Barokah Blitar Jadi Tempat Nongkrong Favorit, Sajikan Kuliner dengan Terapi Ikan hingga Omah Kelinci

Masing-masing kendaraan membawa antara dua hingga tiga kuintal telur untuk dijual langsung kepada masyarakat.

Suyanto menilai, salah satu penyebab utama besarnya selisih harga antara tingkat peternak dan konsumen adalah peran perantara atau middleman yang mengambil margin keuntungan terlalu besar.

Menurutnya, alasan yang kerap disampaikan mengenai kondisi kelebihan pasokan atau oversupply tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan.

Baca Juga: Harga Toyota Calya 2026 Jadi Sorotan, MPV 7 Penumpang Ini Tetap Diburu Berkat Harga Terjangkau dan Fitur yang Semakin Lengkap

 Sebab, meski harga di pasar tetap tinggi, permintaan masyarakat masih cukup baik.

"Permasalahannya ada di middleman. Mereka selalu mengatakan terjadi oversupply, tetapi faktanya di tingkat konsumen harga Rp24 ribu sampai Rp25 ribu tetap laku. Seperti yang kami jual sekarang juga habis," tegasnya.

Selain persoalan distribusi, Suyanto menyebut anjloknya harga telur juga dipengaruhi oleh kondisi kelebihan produksi secara nasional.

Baca Juga: Harga Toyota Calya 2026 Terungkap, MPV Murah Favorit Keluarga Masih Ramah di Kantong, Simak Prediksi Banderol dan Fiturnya

Saat ini, produksi telur diperkirakan telah melampaui kebutuhan pasar sekitar 20 persen.

Karena itu, para peternak berharap pemerintah dapat melakukan pengaturan atau pembatasan budidaya ayam petelur agar keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar dapat terjaga.

"Kami berharap ada pembatasan budidaya karena produksi saat ini sudah berlebih sekitar 20 persen," katanya.

Baca Juga: Review Jaecoo J5, SUV Listrik Rp450 Jutaan dengan Jarak Tempuh 500 Km, Fitur Premium dan Siap Diajak Bertualang

Di Kabupaten Blitar sendiri, populasi ayam petelur mencapai sekitar 39 juta ekor dengan kapasitas produksi sekitar 1.500 ton telur setiap hari.

Jumlah tersebut menjadikan Blitar sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia.

Namun, besarnya produksi belum diimbangi dengan penyerapan pasar yang optimal.

Baca Juga: Daftar Lengkap Skuad Persib Bandung 2026/2027, Deretan Bintang Bertahan hingga Rumor Transfer Mariano Peralta Bikin Bobotoh Penasaran

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang selama ini ikut menyerap produksi telur, hanya mampu menyerap sekitar tiga persen dari total produksi ketika berjalan penuh.

Menurut Suyanto, penghentian sementara distribusi MBG selama masa libur sekolah turut memperparah kondisi pasar.

Bersamaan dengan tingginya populasi ayam petelur dan besarnya margin distribusi, kondisi tersebut menyebabkan harga telur terus tertekan.

Baca Juga: ASEAN Shopee Cup 2026/2027 Resmi Bergulir! Persib Bandung dan Borneo FC Hadapi Grup Neraka, Ini Jadwal dan Format Lengkap

"Penyebabnya ada tiga, yakni berhentinya sementara serapan MBG saat libur sekolah, over-populasi ayam petelur, dan margin yang terlalu tinggi di tingkat perantara," pungkasnya.(jar/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#Harga Telur Blitar #Peternak Telur Blitar #Oversupply telur #Tengkulak telur #harga telur ayam