Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Obral Ayam Afkir Rp 100 Ribu per 4 Ekor demi Bisa Beli Pakan

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 30 Juni 2026 | 10:55 WIB
Kurangi Beban Produksi, Obral Ayam Afkir
Kurangi Beban Produksi, Obral Ayam Afkir

 

BLITAR KAWENTAR – Anjloknya harga telur ayam di Blitar memaksa peternak mencari berbagai cara agar usaha mereka tetap bertahan.

Selain menjual telur langsung kepada masyarakat, sebagian peternak kini mulai mengobral ayam afkir atau ayam petelur yang sudah tidak produktif untuk memperoleh tambahan modal membeli pakan.

Langkah tersebut dilakukan karena harga telur di tingkat peternak masih berada di bawah biaya produksi.

Baca Juga: Harga Telur Ayam di Blitar Anjlok hingga Rp 15.600 per Kg, Peternak Turun ke Jalan Jual Langsung ke Warga Pangkas Tengkulak

 Kondisi itu membuat arus kas peternak terganggu sehingga kebutuhan operasional harian, terutama pembelian pakan, menjadi semakin berat.

Salah satu peternak ayam petelur asal Kecamatan Nglegok, Bambang, mengaku terpaksa menjual ayam afkir dengan harga murah agar tetap memiliki dana untuk menjalankan usaha peternakannya.

"Kami sekarang kesulitan membeli pakan. Jadi, ayam afkir yang sudah tidak produktif, kami jual Rp100 ribu untuk empat ekor. Itu lebih baik daripada tetap dipelihara, sementara harga telur di kandang hanya sekitar Rp16 ribu sampai Rp17 ribu per kilogram," ujarnya.

Baca Juga: Perjuangan Soekarno Menuju Kemerdekaan Indonesia: Dari Tuduhan Kolaborator Jepang hingga Berhasil Memproklamasikan Kemerdekaan

Menurut Bambang, hasil penjualan ayam afkir langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembelian pakan setiap hari.

 Langkah tersebut menjadi pilihan terakhir agar peternakan tetap dapat beroperasi di tengah tekanan harga telur yang belum kunjung membaik.

Biaya pakan menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur. Ketika harga jual telur berada di bawah biaya produksi, peternak terpaksa mencari sumber pendapatan lain agar kebutuhan pakan tetap terpenuhi.

"Kalau tidak dengan cara ini, kami sulit bertahan," katanya.

Saat ini Bambang memiliki populasi sekitar 5.000 ekor ayam petelur. Namun, untuk mengurangi beban biaya produksi, ia telah melakukan afkir terhadap sekitar 20 persen populasi atau sekitar 1.000 ekor ayam.

Pengurangan populasi tersebut dinilai mampu menekan kebutuhan pakan sekaligus menghasilkan tambahan modal dari penjualan ayam yang sudah tidak lagi produktif.

Baca Juga: Benarkah Soekarno Memiliki Kesaktian? Ini Deretan Mitos, Pusaka, dan Fakta Sejarah Sang Proklamator

"Sudah sekitar 20 persen yang kami afkir atau kurang lebih 1.000 ekor. Ini bagian dari strategi bertahan. Intinya untuk beli pakan," ungkapnya.

Meski berat, langkah tersebut dianggap sebagai solusi sementara hingga harga telur kembali membaik dan memberikan keuntungan yang layak bagi peternak.

Selain mengurangi populasi ayam, Bambang juga mulai memasarkan telur secara langsung kepada masyarakat.

Baca Juga: Angkringan Pak Jo Klutuk Blitar Tawarkan Nuansa Jawa Klasik, Makan Ditemani Pemandangan Sawah di Kanigoro

Cara ini dilakukan untuk memangkas rantai distribusi sehingga peternak memperoleh harga jual yang lebih tinggi dibandingkan menjual kepada pengepul.

Menurutnya, harga telur di tingkat kandang saat ini hanya berkisar Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram.

 Padahal, jika dijual langsung kepada konsumen, telur masih bisa dipasarkan dengan harga sekitar Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram.

Baca Juga: Es Pleret Blitar Jadi Kuliner Legendaris, Minuman Tradisional Rp6 Ribu yang Masih Diburu Pecinta Jajanan Tempo Dulu

"Kami juga jual telur sendiri. Paling tidak dengan harga Rp20 ribu itu masih bisa menutup biaya pakan. Kalau hanya mengandalkan harga kandang Rp16 ribu, kerugiannya terlalu besar," ujarnya.

Strategi tersebut juga memberikan keuntungan bagi masyarakat karena harga yang diterima konsumen tetap lebih murah dibandingkan harga di pasar tradisional maupun toko modern.

Bambang menilai disparitas harga antara tingkat peternak dan harga eceran masih terlalu lebar.

Baca Juga: Sejarah Bupati Blitar Era Hindia Belanda, Dari Perjanjian Sepreh hingga Berakhirnya Kekuasaan Kolonial Jepang

 Saat peternak hanya menerima Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram, harga di pasar masih bertahan di kisaran Rp25 ribu per kilogram.

Menurutnya, selisih harga tersebut menunjukkan rantai distribusi yang masih panjang sehingga keuntungan lebih banyak dinikmati oleh pihak perantara dibandingkan peternak.

Karena itu, ia berharap penjualan langsung kepada masyarakat dapat menjadi salah satu solusi untuk memperpendek jalur distribusi sekaligus meningkatkan pendapatan peternak.

Baca Juga: Harga Toyota Calya 2026 Jadi Sorotan, MPV 7 Penumpang Ini Tetap Diburu Berkat Harga Terjangkau dan Fitur yang Semakin Lengkap

"Makanya kami berusaha langsung bertemu konsumen supaya selisih harganya tidak terlalu jauh," pungkasnya.

Kondisi yang dialami peternak di Blitar menjadi gambaran tekanan yang sedang dihadapi sektor peternakan ayam petelur.

 Di tengah harga telur yang belum pulih dan biaya produksi yang tetap tinggi, berbagai strategi bertahan dilakukan, mulai dari menjual ayam afkir hingga memasarkan telur langsung kepada konsumen demi menjaga keberlangsungan usaha.(jar/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#Harga Telur Blitar #Ayam afkir #Harga pakan ternak #Telur ayam Blitar #peternak ayam petelur