Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Masa-masa terakhir Soekarno menjadi babak paling pilu dalam perjalanan hidup Sang Proklamator.

Azahra Meilisani Salma • Selasa, 30 Juni 2026 | 16:27 WIB
Masa-masa terakhir Soekarno menjadi babak paling pilu dalam perjalanan hidup Sang Proklamator.
Masa-masa terakhir Soekarno menjadi babak paling pilu dalam perjalanan hidup Sang Proklamator.

BLITAR KAWENTAR – Perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tidak hanya dipenuhi kisah perjuangan menuju kemerdekaan. Babak akhir kehidupannya justru menjadi salah satu periode paling menyedihkan dalam sejarah bangsa. Setelah terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar, kekuasaan Soekarno perlahan beralih ke tangan Soeharto hingga akhirnya sang proklamator kehilangan jabatan, kebebasan, bahkan harus menjalani sisa hidupnya dalam pengasingan.

Peristiwa tersebut bermula setelah meletusnya Gerakan 30 September. Sepekan setelah enam jenderal Angkatan Darat terbunuh, Soekarno menggelar sidang Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Dalam rapat itu, perwakilan PKI, Nyoto dan Lukman, menyatakan partainya tidak terlibat dalam peristiwa G30S dan menyebutnya sebagai persoalan internal Angkatan Darat. Sikap Soekarno yang tetap tenang dan santai saat sidang yang disiarkan TVRI itu kemudian memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.

Ratna Sari Dewi, istri Soekarno, bahkan sempat mengirim surat karena khawatir sikap tenang sang presiden akan disalahartikan. Soekarno kemudian menjelaskan bahwa senyumnya di hadapan publik merupakan upaya menunjukkan kepada dunia bahwa situasi negara masih terkendali. Namun penjelasan tersebut tidak mampu menghentikan berkembangnya dugaan bahwa dirinya mengetahui lebih dahulu peristiwa G30S.

Baca Juga: Perjuangan Soekarno Menuju Kemerdekaan Indonesia: Dari Tuduhan Kolaborator Jepang hingga Berhasil Memproklamasikan Kemerdekaan

Pasca-G30S, posisi politik Soekarno terus melemah. Setelah Supersemar diterbitkan pada 11 Maret 1966, Soeharto segera mengambil sejumlah langkah penting, mulai dari membubarkan PKI hingga menangkap sejumlah menteri yang dianggap dekat dengan Soekarno. Perlahan, hampir seluruh kewenangan presiden berpindah ke tangan Soeharto.

Soekarno masih berusaha mempertahankan posisinya melalui pidato pertanggungjawaban Nawaksara pada Juni 1966 dan Pelengkap Nawaksara pada Januari 1967. Namun kedua pidato tersebut ditolak oleh MPRS. Upaya itu menjadi perjuangan terakhir Soekarno untuk mempertahankan kepemimpinannya.

Puncaknya terjadi pada 12 Maret 1967 ketika MPRS secara resmi mencabut mandat Soekarno sebagai presiden dan mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Sejak saat itu, perjalanan politik Bung Karno praktis berakhir.

Baca Juga: Benarkah Soekarno Memiliki Kesaktian? Ini Deretan Mitos, Pusaka, dan Fakta Sejarah Sang Proklamator

Setelah kehilangan jabatan, Soekarno bersama keluarganya diminta meninggalkan Istana Merdeka dan Istana Bogor. Berbeda dengan masa ketika ia memasuki istana sebagai pemimpin negara, kali ini Bung Karno keluar hanya membawa pakaian sederhana, beberapa barang pribadi, obat-obatan, dan bendera Merah Putih.

Statusnya kemudian berubah menjadi tahanan pemerintahan Orde Baru. Awalnya ia ditempatkan di Batu Tulis, Bogor, sebelum dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta. Selama menjalani masa penahanan, akses Soekarno terhadap dunia luar dibatasi secara ketat. Anggota keluarga pun harus memperoleh izin khusus untuk dapat menjenguknya.

Pada masa itu, sebagian besar istri Soekarno tidak lagi berada di sisinya. Ratna Sari Dewi tinggal di Jepang demi alasan keamanan, sementara Fatmawati telah lama berpisah meski masih berstatus istri secara resmi. Hanya Hartini yang tetap mendampingi hingga akhir hayatnya.

Baca Juga: Mengapa Soekarno Bekerja Sama dengan Jepang? Ini Kisah Perjuangannya Menuju Kemerdekaan Indonesia

Penahanan berkepanjangan berdampak besar terhadap kondisi kesehatan Soekarno. Ia diketahui menderita penyakit ginjal kronis, gangguan jantung, hipertensi, rematik, hingga katarak. Kondisi fisik yang terus menurun juga memengaruhi kesehatan mentalnya. Bung Karno disebut lebih banyak termenung dan mengalami depresi.

Momen yang sedikit menghiburnya terjadi ketika ia diizinkan menjadi wali nikah putrinya, Rahmawati. Namun masyarakat yang melihat kondisi Bung Karno saat itu dibuat prihatin karena sang proklamator tampak sangat lemah dan tetap dikawal ketat oleh aparat bersenjata.

Pada 6 Juni 1970, Soekarno merayakan ulang tahunnya yang ke-69 bersama keluarga. Perayaan sederhana itu menjadi ulang tahun terakhirnya. Lima hari kemudian, kondisinya memburuk dan ia dirawat di RSPAD Gatot Soebroto.

Baca Juga: Mengapa Soekarno Lengser? Krisis Ekonomi, G30S hingga Supersemar yang Mengakhiri Kekuasaannya

Di rumah sakit, Soekarno menerima kunjungan dua sosok penting dalam hidupnya, yakni Mohammad Hatta dan Ratna Sari Dewi bersama putrinya, Kartika Sari Dewi. Pertemuan dengan Hatta berlangsung penuh haru karena kedua proklamator itu hanya bisa saling menangis setelah sekian lama berpisah jalan.

Tak lama setelah menerima kunjungan tersebut, kondisi Soekarno semakin kritis hingga akhirnya wafat pada 21 Juni 1970. Permintaan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Bogor tidak dikabulkan. Pemerintah saat itu memutuskan Bung Karno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, yang hingga kini menjadi tempat peristirahatan terakhir sang proklamator.

Editor : Azahra Meilisani Salma
#soekarno #Supersemar #G30S #soeharto #sejarah indonesia