BLITAR KAWENTAR – Kepulangan jemaah haji Kota Blitar selalu identik dengan air zamzam, kurma, atau kacang Arab. Namun, ada pemandangan berbeda saat rombongan jemaah haji tiba di Balai Kota Koesoemo Wicitro. Sepasang suami istri memilih membawa oleh-oleh tak biasa berupa dua boneka unta dari Madinah untuk kedua anak mereka yang telah menanti selama 40 hari.
Momen unik itu menjadi perhatian saat 161 jemaah haji Kota Blitar yang tergabung dalam Kloter 106 kembali ke tanah air. Di tengah haru pertemuan dengan keluarga, boneka unta berwarna kuning yang dibawa pasangan tersebut justru mencuri perhatian karena menjadi simbol kasih sayang kepada buah hati mereka.
Pasangan itu adalah Muhammad Choirul Anam dan Riza Mufarohah, warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan. Mereka mengaku sengaja memilih boneka unta sebagai buah tangan karena ingin mengenalkan ciri khas Timur Tengah kepada anak-anak mereka sekaligus menjadi pengobat rindu setelah berpisah lebih dari satu bulan.
Penantian Belasan Tahun Menuju Tanah Suci
Bagi Choirul, perjalanan menuju Baitullah merupakan hasil perjuangan panjang. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu telah mendaftarkan diri untuk berhaji sejak 2012. Kesabarannya akhirnya terbayar ketika sang istri yang baru mendaftar pada 2019 bisa ikut berangkat melalui jalur penggabungan mahram.
Kesempatan menunaikan ibadah haji bersama di usia yang masih relatif muda menjadi pengalaman yang sangat disyukuri. Menurutnya, kesempatan tersebut merupakan nikmat besar yang telah lama dinantikan keluarga mereka.
Tantangan Fisik Selama Ibadah Haji
Meski usia masih produktif, Choirul mengakui ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima. Aktivitas berjalan kaki setiap hari menuju Masjidil Haram membuat stamina benar-benar diuji.
Ia memperkirakan setiap hari harus berjalan sedikitnya enam kilometer, mulai dari terminal bus hingga memasuki area masjid. Kondisi itu terasa semakin berat ketika melihat perjuangan para jemaah lanjut usia yang tetap berusaha menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan penuh semangat.
Boneka Unta Jadi Simbol Rindu
Sementara itu, Riza mengaku tantangan terbesar justru datang dari sisi emosional. Selama berada di Tanah Suci, pikirannya hampir tak pernah lepas dari kedua anaknya yang masih kecil. Anak pertama mereka baru berusia enam tahun, sedangkan anak kedua masih berusia tujuh bulan.
Kerinduan itulah yang membuatnya memilih berburu boneka unta saat berada di Madinah. Menurutnya, oleh-oleh tersebut berbeda dari barang yang biasa dibawa pulang jemaah haji.
"Di Blitar kan tidak ada boneka unta seperti ini. Biar anak-anak tahu oleh-oleh khas dari tempat ibu dan bapaknya beribadah," ujarnya.
Baca Juga: Mengapa Soekarno Lengser? Krisis Ekonomi, G30S hingga Supersemar yang Mengakhiri Kekuasaannya
Oleh-Oleh yang Sedang Tren di Madinah
Riza mengungkapkan boneka unta ternyata menjadi salah satu oleh-oleh yang sedang populer di kalangan jemaah dari berbagai negara. Produk itu dijual dalam berbagai ukuran dengan harga yang relatif terjangkau.
Boneka ukuran kecil dibanderol sekitar 10 riyal atau kurang lebih Rp50 ribu, sedangkan ukuran sedang sekitar 20 riyal atau setara Rp100 ribu. Bahkan, ia sempat melihat seorang jemaah membeli delapan boneka sekaligus untuk dibawa pulang sebagai buah tangan bagi keluarga di Indonesia.
Sesampainya di rumah, kedua boneka unta itu langsung dipeluk erat oleh anak-anak mereka. Bagi Choirul dan Riza, boneka tersebut bukan sekadar mainan, melainkan menjadi simbol perjalanan spiritual sekaligus bukti cinta kepada keluarga yang setia menunggu kepulangan mereka dari Tanah Suci.
Kisah sederhana itu memperlihatkan bahwa nilai sebuah oleh-oleh tidak selalu terletak pada harganya, melainkan pada makna dan cerita yang menyertainya. Di balik boneka unta yang tampak sederhana, tersimpan kerinduan, perjuangan, serta kenangan ibadah haji yang akan terus dikenang oleh seluruh anggota keluarga.
Editor : Regina Gavin Agata