BLITAR KAWENTAR – Ikan Dewa di Candi Rambut Monte kembali menjadi perbincangan karena kisah mistis dan nilai sejarah yang melekat pada keberadaannya.
Kolam patirtaan yang berada di kawasan wisata sejarah Rambut Monte, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, dipercaya menjadi habitat ikan-ikan sakral yang oleh masyarakat disebut ikan Sengkaring atau Ikan Dewa.
Kepercayaan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun. Warga meyakini ikan-ikan berukuran besar itu bukan sekadar penghuni kolam biasa, melainkan jelmaan prajurit yang dikutuk sekaligus dipercaya menjadi penjaga kawasan suci peninggalan Kerajaan Majapahit.
Baca Juga: Sebulan Lebih Bekerja, Gaji Pegawai KKMP Bendo Belum Jelas, DPRD Kota Blitar Buka Ruang Aduan
Hal itu diungkapkan oleh juru pelihara situs, Sukarti, saat menceritakan sejarah dan berbagai tradisi yang masih dijaga hingga sekarang.
Menurutnya, nama resmi ikan tersebut dari dinas perikanan adalah hiu tawar, tetapi masyarakat lebih mengenalnya sebagai Ikan Dewa di Candi Rambut Monte karena nilai spiritual yang melekat.
Sukarti menjelaskan, keberadaan ikan-ikan itu tidak dapat dipisahkan dari kolam patirtaan yang berada tepat di kompleks Candi Rambut Monte.
Sejak dahulu masyarakat mempercayai ikan tersebut bertugas menjaga kesucian sumber mata air dan kawasan candi.
Karena dianggap memiliki peran sakral, siapa pun dilarang menangkap, melukai, maupun mengganggu ikan yang hidup di dalam kolam.
Masyarakat percaya, pelanggaran terhadap larangan tersebut dapat membawa kesialan.
Bahkan beredar cerita turun-temurun mengenai orang yang mengambil ikan untuk dimasak kemudian mengalami musibah hingga meninggal dunia.
Meski demikian, cerita tersebut berkembang sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah.
Pengunjung yang datang ke kawasan Rambut Monte biasanya diajak memberi makan ikan sebagai bentuk penghormatan terhadap penjaga patirtaan.
Makanan yang diberikan bukan sembarang pakan. Warga menggunakan roti tawar, kacang atom, maupun beras kekelan, yakni nasi yang dimasak hingga padat dan keras.
Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari ritual selamatan yang rutin dilakukan masyarakat sekitar.
Menariknya, kegiatan itu tidak hanya diikuti umat Hindu, tetapi juga warga dari berbagai latar belakang agama sebagai bentuk pelestarian budaya lokal yang telah berlangsung sejak lama.
Selain itu, setiap pelaksanaan ritual Bersih Desa juga dilakukan penyembelihan kambing kendit.
Dagingnya dimasak untuk acara selamatan bersama, sedangkan kepala dan kulit kambing yang masih mentah diberikan kepada ikan-ikan di kolam patirtaan.
Selain cerita mengenai ikan sakral, kawasan Rambut Monte juga dikenal dengan berbagai pengalaman mistis yang dialami sebagian pengunjung.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Obral Ayam Afkir Rp 100 Ribu per 4 Ekor demi Bisa Beli Pakan
Sukarti mengaku dirinya jarang mengalami kejadian ganjil. Namun, sejumlah tamu pernah mengaku merasakan sensasi seolah dipanggul seseorang atau melihat sosok misterius melintas di sekitar kawasan candi.
Ada pula kepercayaan bahwa orang yang melempar batu ke kolam atau sengaja menyakiti ikan akan mengalami sakit maupun musibah.
Jika hal tersebut terjadi, masyarakat biasanya menyarankan pelaku untuk meminta maaf melalui ritual sederhana dengan membawa sesaji berupa cok bakal maupun bunga sebagai simbol penghormatan kepada penjaga tempat.
Baca Juga: Warung Mbok Rip Blitar Jadi Buruan Pecinta Pedas, Sego Kikil Legendaris Sejak 1991 Bikin Ketagihan
Kepercayaan tersebut masih dipegang sebagian masyarakat sebagai bentuk etika saat berkunjung ke kawasan yang dianggap sakral.
Di balik cerita mistisnya, Candi Rambut Monte merupakan salah satu situs sejarah penting di Kabupaten Blitar.
Nama Rambut Monte berasal dari bentuk kepala kala pada bangunan candi yang memiliki ukiran menyerupai rambut bergelombang.
Baca Juga: Pantai Pudak Blitar, Surga Tersembunyi di Jalur JLS dengan Pasir Putih dan View Mirip Bali
Situs yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit itu dahulu digunakan sebagai tempat pemujaan.
Hingga kini masih ditemukan berbagai peninggalan arkeologi seperti kepala naga, kepala kala, serta padmasana yang sebelumnya dipercaya menjadi tempat arca dewa sebelum mengalami kerusakan.
Keberadaan situs ini menjadi bukti tingginya nilai sejarah sekaligus budaya yang terus dijaga oleh masyarakat sekitar.
Masyarakat juga memiliki tata krama khusus bagi wisatawan yang datang ke kawasan sumber mata air Rambut Monte.
Sebelum memasuki area candi, pengunjung biasanya dianjurkan mencuci muka atau mandi di aliran sungai sebagai bentuk penyucian diri.
Sukarti juga menceritakan pengalaman sejumlah pengunjung yang mengaku mengalami gangguan sinyal perangkat elektronik, termasuk drone yang tiba-tiba kehilangan kendali saat diterbangkan di sekitar kawasan patirtaan.
Fenomena tersebut kemudian dikaitkan dengan energi spiritual yang dipercaya berada di sumber mata air Rambut Monte.
Bahkan muncul keyakinan bahwa sumber air tersebut memiliki hubungan dengan Laut Selatan.
Meski demikian, seluruh cerita mengenai energi gaib dan khasiat tirta lebih merupakan bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Menguak Sisi Gelap Soekarno, Kebijakan Politik yang Mengubah Arah Demokrasi Indonesia
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, keberadaan Ikan Dewa di Candi Rambut Monte telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Kabupaten Blitar.
Selain menawarkan nilai sejarah peninggalan Majapahit, kawasan ini juga menyimpan kearifan lokal yang terus dijaga sebagai warisan leluhur sekaligus daya tarik wisata budaya.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari