BLITAR KAWENTAR – Patirtaan Candi Penataran menjadi salah satu bagian penting dari kompleks Situs Candi Penataran di Kabupaten Blitar yang menyimpan nilai sejarah sekaligus arsitektur tinggi peninggalan masa Kerajaan Majapahit.
Meski tidak setenar candi induknya, kawasan patirtaan ini memiliki fungsi penting sebagai tempat penyucian diri sebelum memasuki area utama pemujaan.
Keberadaan Patirtaan Candi Penataran masih menarik perhatian wisatawan karena menyuguhkan suasana yang teduh, kolam air jernih, serta deretan relief batu yang menggambarkan kehidupan satwa pada masa lampau.
Baca Juga: Sebulan Lebih Bekerja, Gaji Pegawai KKMP Bendo Belum Jelas, DPRD Kota Blitar Buka Ruang Aduan
Lokasinya berada di sisi kompleks candi dan dapat dicapai melalui jalan setapak yang menurun dari area utama.
Dalam penelusuran di kawasan tersebut, tampak sejumlah bangunan candi pendamping yang kini sebagian besar hanya menyisakan pondasi dan susunan batu andesit.
Meski demikian, sisa-sisa struktur bangunan tersebut masih memperlihatkan besarnya kompleks percandian yang dibangun berabad-abad silam.
Kolam patirtaan dipercaya berfungsi sebagai tempat mandi atau bersuci sebelum umat memasuki candi induk untuk melaksanakan ritual keagamaan.
Fungsi tersebut sesuai dengan konsep patirtaan dalam tradisi Hindu yang menjadikan air sebagai simbol penyucian lahir dan batin sebelum melakukan pemujaan.
Di sekitar kolam, pengunjung dapat menikmati suasana yang masih asri dengan pepohonan rindang.
Beberapa jenis pohon yang tumbuh di kawasan itu antara lain pohon pakel, pohon mojo, serta pohon beringin yang menambah kesejukan area situs.
Pohon mojo menjadi salah satu tanaman yang cukup menarik perhatian. Buahnya dikenal memiliki cita rasa khas dan masih dapat dijumpai di lingkungan kompleks candi sebagai bagian dari pelestarian vegetasi lokal.
Seorang warga yang ditemui di lokasi menceritakan bahwa kondisi kawasan Patirtaan Candi Penataran telah mengalami banyak perubahan dibandingkan beberapa dekade lalu.
Menurutnya, sekitar tahun 1970-an hingga awal 1990-an, area kolam belum ditata seperti sekarang.
Saat itu belum terdapat pagar permanen maupun jalur wisata yang memadai sehingga suasananya masih sangat alami.
Penataan mulai dilakukan secara bertahap sekitar tahun 1990 hingga awal 2000-an sebagai bagian dari upaya pelestarian kawasan cagar budaya sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Kini, kolam patirtaan telah dilengkapi akses jalan, pagar pengaman, serta area yang lebih tertata tanpa menghilangkan karakter sejarahnya.
Salah satu daya tarik utama Patirtaan Candi Penataran adalah keberadaan relief-relief batu yang menghiasi dinding di sekeliling kolam.
Relief tersebut menggambarkan berbagai jenis satwa seperti monyet, kerbau, sapi, rusa, babi hutan, anjing, buaya, kadal hingga berbagai jenis burung.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Obral Ayam Afkir Rp 100 Ribu per 4 Ekor demi Bisa Beli Pakan
Keberagaman relief ini menunjukkan tingginya kemampuan seni pahat masyarakat pada masa Majapahit sekaligus menggambarkan kedekatan kehidupan manusia dengan alam.
Selain relief, di sekitar patirtaan juga tersusun tumpukan batu andesit yang diduga merupakan bagian dari struktur bangunan candi yang sedang disimpan untuk kepentingan konservasi maupun restorasi.
Kolam patirtaan kini juga dihuni berbagai jenis ikan yang menambah daya tarik wisata.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Obral Ayam Afkir Rp 100 Ribu per 4 Ekor demi Bisa Beli Pakan
Pengunjung dapat melihat ikan koi, gurami, lele berukuran besar hingga beberapa jenis ikan lainnya berenang di air yang jernih.
Keberadaan ikan tersebut membuat suasana kawasan semakin hidup dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung bersama keluarga.
Air kolam yang bersumber dari mata air alami juga terasa sejuk, menciptakan suasana tenang yang berbeda dibandingkan area wisata lainnya.
Di beberapa sudut kolam juga terlihat sesaji yang diletakkan oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai budaya dan spiritual yang masih dijaga hingga sekarang.
Patirtaan merupakan satu kesatuan dengan Kompleks Candi Penataran yang sejak lama dikenal sebagai salah satu situs peninggalan Hindu terbesar di Jawa Timur.
Keberadaan kolam ini memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lampau memperhatikan aspek spiritual sebelum menjalankan prosesi keagamaan di candi utama.
Baca Juga: Pantai Pudak Blitar, Surga Tersembunyi di Jalur JLS dengan Pasir Putih dan View Mirip Bali
Meski sebagian fungsi aslinya telah berubah menjadi objek wisata sejarah, Patirtaan Candi Penataran tetap menjadi saksi perkembangan peradaban Majapahit yang kaya akan nilai budaya, seni arsitektur, dan filosofi kehidupan.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Candi Penataran, menyusuri kawasan patirtaan menjadi pengalaman tersendiri.
Selain menikmati suasana alam yang sejuk, pengunjung juga dapat mempelajari jejak sejarah yang masih terpelihara melalui relief, struktur batu, serta tata ruang kompleks percandian yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari