BLITAR KAWENTAR – Pantai Pasetran Gondomayit di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar dikenal bukan hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang lekat dengan tradisi spiritual masyarakat.
Kawasan yang berada di pesisir selatan Kabupaten Blitar ini kerap didatangi peziarah dari berbagai daerah yang ingin berdoa, bertafakur, maupun mengenal sejarah petilasan yang dipercaya berada di lokasi tersebut.
Keberadaan Pantai Pasetran Gondomayit Blitar menjadi daya tarik tersendiri karena menyimpan beragam cerita turun-temurun.
Salah satunya mengenai asal-usul nama "Pasetran" yang diyakini berasal dari kata yang bermakna tempat menyucikan diri atau lokasi bertapa dan bermeditasi pada masa lampau.
Hal tersebut disampaikan juru kunci Pantai Pasetran Gondomayit, Edi Subagio atau yang akrab disapa Pak Bagio.
Menurutnya, penamaan kawasan itu diwariskan secara lisan dari generasi sebelumnya dan masih dipercaya hingga kini oleh masyarakat sekitar.
Baca Juga: Analisis Pengelolaan Pasar Kebalen dan Dampaknya terhadap Kemacetan Transportasi Umum
Pak Bagio menjelaskan, istilah Pasetran merujuk pada tempat untuk menyucikan diri, bertapa, atau mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui laku spiritual.
Sementara itu, nama Gondomayit berkembang karena kawasan tersebut sejak dahulu identik dengan penggunaan wewangian, bunga, minyak, maupun kemenyan yang biasa dipakai oleh para pelaku tirakat.
Aroma tersebut kemudian melahirkan berbagai kisah mistis yang berkembang di tengah masyarakat hingga akhirnya nama Gondomayit melekat pada kawasan pantai tersebut.
Menurutnya, berbagai cerita mengenai tokoh-tokoh spiritual maupun kaitannya dengan sosok dalam pewayangan merupakan bagian dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu lokasi yang paling sering dikunjungi ialah petilasan yang dipercaya berkaitan dengan sosok Mbah Denden.
Dalam cerita masyarakat, Mbah Denden dikenal sebagai tokoh yang dahulu melakukan tirakat dan semedi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Benarkah Soekarno Memiliki Kesaktian? Ini Deretan Mitos, Pusaka, dan Fakta Sejarah Sang Proklamator
Bahkan beredar kisah bahwa beliau pernah menghilang ketika menjalani laku spiritual hingga akhirnya meninggal dunia.
Meski makamnya berada di tempat lain, lokasi yang diyakini menjadi tempat bertapa kemudian dijadikan petilasan dan hingga kini masih didatangi peziarah.
Pak Bagio mengatakan, pengunjung datang dengan berbagai tujuan, mulai dari berdoa, mencari ketenangan batin, hingga wisata religi.
Menurut Pak Bagio, peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Jawa Timur, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatera.
Bahkan, tidak sedikit tamu yang datang dari luar negeri, terutama Malaysia dan Singapura.
Masing-masing membawa keyakinan dan tradisinya sendiri. Sebagian membawa bunga telon, bunga melati, sedap malam, dupa, minyak wangi, kopi, teh, susu, buah-buahan, maupun perlengkapan lain sesuai tradisi yang mereka yakini.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Obral Ayam Afkir Rp 100 Ribu per 4 Ekor demi Bisa Beli Pakan
Pak Bagio menegaskan dirinya tidak pernah mewajibkan jenis sesaji tertentu. Semua perlengkapan yang dibawa merupakan inisiatif para peziarah sesuai keyakinan masing-masing.
Selain berziarah, sebagian pengunjung datang dengan harapan memperoleh ketenangan maupun kesembuhan dari penyakit.
Pak Bagio mengaku pernah mendampingi orang-orang yang datang karena mengalami stroke maupun persoalan yang mereka yakini berkaitan dengan gangguan nonmedis.
Baca Juga: Warung Mbok Rip Blitar Jadi Buruan Pecinta Pedas, Sego Kikil Legendaris Sejak 1991 Bikin Ketagihan
Namun, ia menegaskan bahwa segala bentuk kesembuhan tetap berasal dari izin Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam kondisi tertentu, ada pula peziarah yang melakukan ritual mandi di laut. Menurutnya, hal tersebut bukan aturan baku, melainkan dilakukan apabila peziarah merasa memperoleh petunjuk sesuai keyakinannya.
Pantai Pasetran Gondomayit juga menjadi tempat yang dikunjungi masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.
Bagi umat Islam, sebagian peziarah melaksanakan kegiatan seperti tahlil, yasinan, hingga tawasul yang dipimpin tokoh agama.
Di sisi lain, pengunjung dari latar belakang budaya dan kepercayaan lain juga melakukan doa sesuai tradisi masing-masing.
Pak Bagio mengatakan dirinya menghormati seluruh pengunjung selama kegiatan yang dilakukan tidak mengganggu ketertiban maupun kelestarian kawasan.
Baca Juga: Pantai Pudak Blitar, Surga Tersembunyi di Jalur JLS dengan Pasir Putih dan View Mirip Bali
Menurut Pak Bagio, jumlah peziarah biasanya meningkat pada Bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Pada periode tersebut, banyak masyarakat datang untuk berdoa maupun melakukan laku spiritual yang berlangsung selama beberapa hari, bahkan hingga tujuh hari.
Meski demikian, ia menegaskan tidak ada ketentuan khusus mengenai hari terbaik untuk berkunjung.
Setiap orang dipersilakan datang kapan saja dengan tetap menjaga sopan santun serta menghormati nilai budaya yang berkembang di kawasan tersebut.
Di balik berbagai cerita spiritual yang berkembang, Pantai Pasetran Gondomayit tetap menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan religi di Kabupaten Blitar.
Keindahan panorama pesisir selatan berpadu dengan sejarah serta tradisi masyarakat menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun peziarah yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya lokal.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari