Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mitos Gunung Pegat Blitar, Benarkah Pasangan yang Berkunjung Bisa Putus? Ini Asal-usul Legenda yang Melegenda

Ratna Anggi Puspita Sari • Selasa, 30 Juni 2026 | 16:51 WIB
Gunung Pegat
Gunung Pegat

 

BLITAR KAWENTAR – Mitos Gunung Pegat Blitar hingga kini masih menjadi cerita yang melekat di tengah masyarakat.

Bukit yang berada di Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar ini tak hanya menawarkan panorama alam yang indah, tetapi juga menyimpan legenda yang dipercaya secara turun-temurun.

Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Gunung Pegat Blitar semakin ramai dikunjungi wisatawan.

Baca Juga: Bus Sekolah Gratis di Kabupaten Blitar Nyaris Penuh, Dishub Usulkan Tambahan Armada ke Kemenhub demi Layani Ribuan Pelajar

 Namun di balik keindahan alamnya, tersimpan sebuah mitos yang menyebutkan bahwa pasangan kekasih atau pengantin baru yang datang ke lokasi tersebut dipercaya akan mengalami perpisahan.

Dalam bahasa Jawa, kata "pegat" berarti putus atau berpisah. Nama itulah yang kemudian menjadi asal mula munculnya berbagai cerita yang berkembang di masyarakat hingga sekarang.

Meski demikian, kisah tersebut merupakan bagian dari legenda rakyat yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu kekayaan budaya lisan masyarakat Blitar.

Baca Juga: PAD Kota Blitar Turun, DPRD Desak Pemkot Tuntaskan Akar Persoalan agar Tak Terus Berulang

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, asal-usul Gunung Pegat berkaitan dengan tiga tokoh pewayangan yang sangat dikenal, yakni Semar, Petruk, dan Gareng.

Konon, ketiganya mendapat tugas untuk memikul batu dari sebuah gunung dan harus menyelesaikan pekerjaan tersebut sebelum matahari terbit.

Mereka diwanti-wanti agar tidak menghentikan perjalanan hingga tugas selesai.

 Namun, ketika perjalanan hampir mencapai tujuan, alat pikul yang digunakan tiba-tiba patah tepat saat ayam mulai berkokok menandakan datangnya pagi.

Pada saat itulah dipercaya terjadi peristiwa besar yang menyebabkan gunung terbelah menjadi dua bagian sehingga memisahkan ketiga tokoh tersebut.

Peristiwa itu kemudian diyakini menjadi asal-usul penamaan Gunung Pegat.

Baca Juga: Dampak Kenaikan BBM Pertamax, DPRD Kota Blitar Pangkas Perjalanan Dinas 50 Persen dan Perketat Kunjungan Luar Daerah

Legenda tersebut berlanjut dengan kisah sumpah yang diucapkan oleh para tokoh pewayangan.

Konon, siapa pun pasangan atau pengantin baru yang melewati belahan gunung tersebut dipercaya tidak akan memiliki hubungan yang langgeng dan akhirnya mengalami perpisahan atau pegatan.

Cerita inilah yang kemudian berkembang luas di masyarakat dan menjadi mitos yang paling terkenal mengenai Gunung Pegat.

Baca Juga: Analisis Pengelolaan Pasar Kebalen dan Dampaknya terhadap Kemacetan Transportasi Umum

Selama bertahun-tahun, tidak sedikit pasangan yang memilih menghindari lokasi tersebut karena khawatir mitos tersebut akan menjadi kenyataan.

Namun, banyak pula masyarakat yang menganggap cerita itu sebagai bagian dari folklore atau cerita rakyat yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Terlepas dari mitos yang berkembang, Gunung Pegat kini justru menjadi salah satu destinasi wisata alam yang cukup diminati di Kabupaten Blitar.

Baca Juga: Sebulan Lebih Bekerja, Gaji Pegawai KKMP Bendo Belum Jelas, DPRD Kota Blitar Buka Ruang Aduan

Keindahan perbukitan, udara yang sejuk, serta panorama alam yang masih alami menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Banyak pengunjung datang untuk menikmati pemandangan, berswafoto, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman.

Keberadaan mitos tersebut bahkan menjadi nilai tambah yang membuat wisatawan penasaran untuk mengetahui langsung cerita di balik nama Gunung Pegat.

Baca Juga: Program MBG Disorot, GMB Desak Evaluasi Total Usai Temukan Dugaan Monopoli hingga Gaji Karyawan Belum Dibayar

Seiring perkembangan zaman, kepercayaan masyarakat terhadap mitos Gunung Pegat mulai mengalami perubahan.

Generasi muda cenderung memandang cerita tersebut sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan, bukan sebagai sesuatu yang harus dipercaya secara mutlak.

Meski begitu, legenda Gunung Pegat tetap menjadi identitas budaya lokal yang memperkaya khazanah cerita rakyat di Kabupaten Blitar.

Baca Juga: Jemaah Haji Kabupaten Blitar Tiba dengan Selamat, Polisi Kawal Kepulangan hingga Penjemputan Berjalan Tertib

Cerita mengenai Semar, Petruk, dan Gareng yang dikaitkan dengan terbentuknya Gunung Pegat terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari sejarah lisan masyarakat.

Keberadaan Gunung Pegat bukan hanya menyimpan pesona wisata alam, tetapi juga merepresentasikan kekayaan cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.

Legenda tersebut mengajarkan bahwa setiap daerah memiliki kisah, nilai, dan filosofi yang diwariskan oleh para leluhur.

Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Blitar Terkendala Status LP2B, Pemkab Siapkan Perubahan Lahan 6,5 Hektare demi Penuhi Syarat Kementerian

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos mengenai pasangan yang akan berpisah setelah berkunjung ke Gunung Pegat, cerita tersebut telah menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Blitar.

Bagi wisatawan, Gunung Pegat tetap menawarkan keindahan alam yang layak dinikmati sekaligus menjadi tempat untuk mengenal lebih dekat cerita rakyat yang telah hidup selama bertahun-tahun.

 Dengan demikian, kawasan ini tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga ruang untuk melestarikan warisan budaya lisan yang menjadi kekayaan masyarakat Blitar.

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#Gunung Pegat Blitar #Mitos Gunung Pegat #Legenda Gunung Pegat #Cerita Rakyat Blitar #wisata blitar