MURAH MERIAH: Peternak terjun langsung untuk menjual hasil produksi kepada masyarakat, di depan kantor Bupati Blitar, Senin (29/6).
BLITAR KAWENTAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar terus bergerak menyelamatkan nasib peternak ayam petelur yang tengah menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga telur di tingkat peternak.
Selain mendorong peningkatan konsumsi telur di lingkungan aparatur sipil negara (ASN), pemerintah juga membuka pasar baru melalui kerja sama antardaerah agar produksi telur asal Kabupaten Blitar dapat terserap lebih luas.
Langkah tersebut dilakukan menyusul turunnya harga telur yang belum juga membaik, sementara biaya produksi, terutama harga pakan, terus mengalami kenaikan.
Kondisi ini membuat margin keuntungan peternak semakin menipis, bahkan tidak sedikit yang mengaku merugi.
Bupati Blitar Rijanto mengatakan, persoalan rendahnya harga telur bukan hanya dialami Kabupaten Blitar, melainkan telah menjadi persoalan nasional.
Namun, sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia, dampaknya sangat terasa bagi perekonomian masyarakat Blitar.
Menurut Rijanto, Kabupaten Blitar selama ini menyuplai sekitar 30 persen kebutuhan telur nasional. Karena itu, ketika harga telur jatuh, ribuan peternak di wilayahnya ikut terdampak.
"Ini persoalan yang cukup sulit dan dirasakan tidak hanya di Blitar, tetapi secara nasional. Apalagi, Blitar merupakan pemasok sekitar 30 persen kebutuhan telur nasional," ujarnya.
Dia menjelaskan, kondisi peternak saat ini semakin terjepit karena harga jual telur di tingkat kandang terus mengalami penurunan. Sebaliknya, harga pakan ayam justru terus meningkat sehingga biaya produksi semakin besar.
Situasi tersebut membuat pemerintah daerah harus turun tangan untuk membantu mencarikan solusi agar usaha peternak tetap berjalan dan tidak mengalami kerugian berkepanjangan.
Sebagai upaya jangka pendek, Pemkab Blitar terus melakukan evaluasi kondisi pasar melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Hasil evaluasi itu kemudian menjadi dasar dalam menentukan langkah-langkah strategis membantu peternak.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Obral Ayam Afkir Rp 100 Ribu per 4 Ekor demi Bisa Beli Pakan
Salah satunya melalui surat edaran yang diterbitkan Bupati dan Wakil Bupati Blitar agar seluruh ASN membeli telur langsung dari peternak lokal.
"Kami mengimbau seluruh ASN untuk membeli telur dari peternak. Kami juga mengajak masyarakat agar setiap hari mengonsumsi telur karena telur sangat penting bagi kebutuhan gizi," ungkap Rijanto.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan permintaan telur di pasar lokal sehingga dapat membantu menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.
Tak hanya mengandalkan peningkatan konsumsi di dalam daerah, Pemkab Blitar juga memperluas jaringan pemasaran melalui kerja sama antardaerah.
Langkah konkret telah dilakukan dengan menjalin kerja sama bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Sekitar sepekan lalu, Bupati Rijanto bersama Wakil Bupati dan jajaran TPID Kabupaten Blitar membawa perwakilan koperasi peternak untuk bertemu langsung dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pelaku usaha perdagangan telur di Kota Tasikmalaya.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang dinilai cukup menggembirakan bagi peternak.
"Alhamdulillah disambut baik oleh Wali Kota Tasikmalaya. Kami mempertemukan pengelola SPPG dengan peternak dan akhirnya sudah ada kesepakatan. Telur dari Blitar akan diserap di Tasikmalaya," jelasnya.
Selain memasok kebutuhan SPPG, para peternak juga dipertemukan dengan pedagang telur di sejumlah pasar di Kota Tasikmalaya untuk memperluas jaringan distribusi.
Keberhasilan kerja sama dengan Tasikmalaya menjadi langkah awal bagi Pemkab Blitar untuk membuka pasar baru di berbagai daerah lainnya.
Rijanto menyebut komunikasi dengan sejumlah pemerintah daerah telah dilakukan.
Beberapa wilayah yang menjadi target berikutnya antara lain DKI Jakarta, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Sumenep, hingga Kota Bekasi.
Menurutnya, kerja sama tersebut nantinya akan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) agar penyerapan telur dari Blitar berlangsung secara berkelanjutan.
"Kami menargetkan kerja sama serupa dengan DKI Jakarta, Nganjuk, Sumenep hingga Bekasi. Komunikasi sudah kami lakukan dan nanti akan diperkuat dengan nota kesepahaman atau MoU," pungkasnya.
Pemkab Blitar berharap strategi membuka pasar antardaerah mampu menjadi solusi jangka menengah dalam menjaga stabilitas harga telur.
Dengan pasar yang semakin luas, produksi telur dari peternak Blitar diharapkan terserap lebih optimal sehingga kesejahteraan peternak dapat kembali meningkat di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.(jar/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari