BLITAR KAWENTAR – Harga bahan pokok di Kabupaten Blitar mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah liburnya sementara operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sehingga permintaan bahan pangan dalam jumlah besar ikut berkurang.
Penurunan harga bahan pokok di Kabupaten Blitar memang belum tergolong signifikan. Namun, kondisi ini mulai dirasakan pada sejumlah komoditas utama seperti telur, daging ayam, cabai, hingga bawang merah. Berkurangnya kebutuhan pasokan untuk dapur MBG membuat distribusi bahan pangan ke pasar tradisional kembali lebih longgar.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar memastikan perkembangan harga tersebut terus dipantau setiap hari. Selain menjaga stabilitas harga di pasar, pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga apabila aktivitas dapur MBG kembali berjalan normal.
Sekretaris Disperindag Kabupaten Blitar, Murlina, mengatakan hasil pemantauan harian menunjukkan beberapa komoditas mengalami penurunan dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Komoditas yang mengalami penurunan antara lain telur ayam, daging ayam, cabai merah, hingga bawang merah. Penurunan harga tersebut bertepatan dengan liburnya operasional dapur MBG yang selama ini menyerap bahan pangan dalam jumlah cukup besar.
"Dari pantauan tim kami di lapangan, saat ini harga-harga komoditas seperti telur, daging ayam, cabai, hingga bawang merah posisinya terpantau mulai bergerak turun. Kondisi ini bertepatan dengan momen dapur MBG yang saat ini sedang libur," ujarnya.
Menurutnya, berkurangnya permintaan dalam jumlah besar membuat pasokan di pasar menjadi lebih stabil sehingga harga beberapa komoditas perlahan mengalami penyesuaian.
Penurunan harga paling terlihat terjadi pada kelompok bumbu dapur. Salah satunya bawang merah yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan, kini kembali turun menjadi sekitar Rp33 ribu per kilogram.
Sementara itu, harga cabai merah besar juga menunjukkan tren serupa. Sebelumnya komoditas tersebut dijual pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, namun kini turun menjadi sekitar Rp33 ribu per kilogram.
Adapun cabai rawit relatif stabil di kisaran Rp40 ribu per kilogram setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan sekitar Rp5 ribu dari harga tertingginya.
Meski belum kembali ke level yang jauh lebih rendah, kondisi tersebut dinilai cukup membantu masyarakat karena tekanan harga pangan mulai berkurang.
Murlina menilai penurunan harga bahan pokok meski tidak terlalu besar tetap memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga pangan di Kabupaten Blitar.
Harga yang lebih terkendali membuat daya beli masyarakat dapat terjaga. Selain itu, kondisi tersebut juga membantu pemerintah daerah dalam mengendalikan laju inflasi yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan pangan.
"Penurunannya memang belum terlalu besar, tetapi kondisi ini cukup membantu menjaga stabilitas harga di pasar serta meringankan beban belanja masyarakat," jelasnya.
Ia berharap kondisi harga tetap stabil sehingga masyarakat tidak mengalami lonjakan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski saat ini harga cenderung menurun, Disperindag Kabupaten Blitar tetap meningkatkan pengawasan terhadap perkembangan harga di seluruh pasar tradisional.
Pemantauan dilakukan melalui aplikasi Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siska Perbapo). Melalui sistem tersebut, petugas di setiap pasar diminta memperbarui data harga setiap hari sebelum pukul 12.00 WIB.
Data yang masuk kemudian menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memantau perubahan harga secara cepat sekaligus menentukan langkah apabila terjadi gejolak di pasar.
Menurut Murlina, pemantauan rutin menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pasokan maupun harga bahan pokok. Dengan data yang diperbarui setiap hari, pemerintah dapat segera mengambil kebijakan apabila ditemukan kenaikan harga yang tidak wajar.
"Melalui pemantauan harian tersebut, kami dapat mengetahui perkembangan harga secara cepat. Sehingga apabila terjadi lonjakan yang tidak wajar, pemerintah dapat segera menyiapkan langkah intervensi, termasuk operasi pasar apabila diperlukan," pungkasnya.
Ke depan, Disperindag berharap harga bahan pokok tetap berada dalam kondisi stabil meski aktivitas dapur MBG nantinya kembali berjalan. Pengawasan secara berkala akan terus dilakukan agar ketersediaan pasokan tetap terjaga dan masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang wajar.
Editor : Azahra Meilisani Salma