BLITAR KAWENTAR – Tingginya angka kasus diabetes melitus (DM) di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, mendorong Poltekkes Kemenkes Malang Program Studi D-3 Keperawatan Kampus Blitar menggelar program pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, warga tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai pencegahan diabetes, tetapi juga dilatih melakukan deteksi dini penyakit serta membuat ramuan herbal sebagai upaya menjaga kesehatan.
Program yang berlangsung selama lima kali pertemuan itu menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian dunia pendidikan terhadap persoalan kesehatan masyarakat.
Fokus utama kegiatan adalah meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya pola hidup sehat sekaligus memperkuat kemampuan kader kesehatan dalam mendampingi masyarakat melakukan pencegahan diabetes melitus sejak dini.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak awal hingga akhir pelaksanaan kegiatan.
Selain warga umum, kader posyandu, bidan desa, hingga perangkat desa turut aktif mengikuti setiap materi yang diberikan oleh tim dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang.
Kepala Desa Karangrejo, Imam Rohadi, mengatakan kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
Menurutnya, angka penderita diabetes di wilayahnya masih cukup tinggi, bahkan sudah ditemukan pada kelompok usia produktif.
"Alhamdulillah, selama lima kali kegiatan ini warga sangat antusias. Ilmu yang diberikan sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Karangrejo, khususnya terkait pola hidup sehat dan bagaimana meminimalisasi penyakit diabetes melitus," ujarnya.
Baca Juga: Kenaikan Gaji ASN 2026 Masih Abu-Abu, MenPAN-RB Ungkap Nasib Gaji PNS dan PPPK Bergantung APBN
Imam menjelaskan, tingginya angka diabetes dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola makan yang kurang sehat, gaya hidup masyarakat, hingga pola pikir dalam menjaga kesehatan.
Bahkan, penyakit tersebut kini tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut.
"Ada yang masih muda, usia sekitar 30 tahun, sudah terkena diabetes. Memang tidak banyak, tetapi ada. Karena itu edukasi seperti ini sangat penting agar masyarakat lebih sadar menjaga kesehatannya," katanya.
Baca Juga: Gaji ASN 2026 Belum Naik? MenPAN RB Beberkan Alasan PNS dan PPPK Masih Harus Bersabar
Selama ini, lanjut Imam, pelayanan kesehatan bagi penderita diabetes telah rutin dilakukan melalui puskesmas maupun puskesmas pembantu (pustu).
Namun, program yang dibawa Poltekkes Kemenkes Malang memberikan nilai tambah karena lebih menitikberatkan pada edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
"Masyarakat tidak hanya mendapatkan terapi dan pengobatan, tetapi juga memahami bagaimana mencegah penyakit melalui perubahan pola hidup. Antusiasme warga juga sangat tinggi mengikuti seluruh rangkaian kegiatan," tambahnya.
Bidan Desa Karangrejo sekaligus petugas Pustu Karangrejo, Ulfa Rosida A.Md.Keb., mengaku sangat terbantu dengan hadirnya program pengabdian masyarakat tersebut.
Menurutnya, jumlah penderita diabetes di wilayah kerjanya memang cukup tinggi sehingga edukasi kesehatan menjadi kebutuhan yang sangat penting.
"Kami sangat berterima kasih karena kegiatan ini sangat bermanfaat. Di sini penderita diabetes memang cukup banyak.
Baca Juga: Viral Gaji Pensiunan Naik Juli 2026, Benarkah Presiden Sudah Umumkan? Ini Fakta Resminya
Kemungkinan dipengaruhi kondisi wilayah yang dingin, tingkat pengetahuan masyarakat yang masih kurang, dan berbagai faktor lainnya," ujarnya.
Selain memberikan materi mengenai diabetes melitus dan hipertensi, tim Poltekkes Kemenkes Malang juga mengenalkan pemanfaatan tanaman herbal sebagai pendamping pola hidup sehat.
Peserta mendapatkan pelatihan membuat minuman herbal yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu upaya pencegahan diabetes.
"Kami mendapatkan tambahan pengetahuan, mulai cara memberikan edukasi kepada masyarakat hingga pembelajaran membuat herbal untuk pencegahan diabetes. Edukasi ini sangat bermanfaat sekali," katanya.
Ulfa berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan di Desa Karangrejo sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh pengetahuan mengenai pencegahan penyakit tidak menular.
Program pengabdian masyarakat juga memberikan manfaat besar bagi para kader kesehatan desa. Salah satunya dirasakan Kader Posyandu Desa Karangrejo, Yusti Hartokah.
Ia menyampaikan apresiasi atas ilmu maupun bantuan peralatan yang diberikan kepada kader selama pelaksanaan program berlangsung.
"Kami sebagai kader sangat berterima kasih atas program ini. Mudah-mudahan seluruh ilmu dan alat yang diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal," ujarnya.
Selama lima kali pertemuan, para kader memperoleh materi mengenai pengenalan diabetes melitus, hipertensi, deteksi dini faktor risiko penyakit, hingga praktik membuat minuman herbal.
"Kami belajar tentang diabetes, hipertensi, dan cara membuat minuman herbal. Sesuai hasil survei, memang di daerah kami banyak penderita diabetes," katanya.
Bekal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kader dalam mendampingi masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan.
Dengan pengetahuan yang semakin baik, kader dapat menjadi ujung tombak edukasi kesehatan di lingkungan masing-masing.
Yusti berharap ilmu yang telah diperoleh tidak berhenti setelah program selesai, tetapi terus diterapkan bersama masyarakat sehingga mampu menekan angka penderita diabetes di Desa Karangrejo.
"Harapan kami, setidaknya ke depan jumlah penderita diabetes bisa berkurang sehingga masyarakat semakin sehat dan sadar pentingnya melakukan pencegahan sejak dini," pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari