BLITAR KAWENTAR – Sebanyak 358 pasien tuberkulosis (TB) aktif di Kota Blitar saat ini masih menjalani pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar mengingatkan seluruh pasien agar disiplin menjalani terapi hingga tuntas guna mencegah munculnya Tuberkulosis Resistan Obat (TBRO) yang penanganannya jauh lebih rumit.
Dinkes menegaskan, kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat setiap hari menjadi kunci utama keberhasilan pengobatan. Sebaliknya, pasien yang menghentikan terapi sebelum dinyatakan sembuh berisiko mengalami TBRO, yakni kondisi ketika bakteri penyebab tuberkulosis menjadi kebal terhadap obat lini pertama.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Blitar, Silvia Dewi Kusumawati, mengatakan seluruh pasien TB yang terdata saat ini terus mendapatkan pendampingan dan pemantauan secara berkala dari tenaga kesehatan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Motor Listrik, Indomobil E-Motor Tirano Tampil Beda dengan Desain Adventure Futuristik
Silvia menjelaskan, sebanyak 358 pasien TB aktif tersebut menjalani pengobatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, rumah sakit, hingga praktik dokter mandiri.
Menurutnya, seluruh pasien dipastikan memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar, termasuk pemantauan rutin untuk memastikan pengobatan berjalan dengan baik. Pasien yang menjalani terapi juga berasal dari berbagai kelompok usia, tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
"Semua pasien TB yang terdata dipastikan mendapatkan perawatan dan pemantauan rutin dari tenaga kesehatan. Mereka tidak hanya orang dewasa, tetapi juga ada pasien anak-anak," ujarnya.
Pengawasan tersebut dilakukan agar pasien tetap disiplin menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga medis. Selain itu, keluarga pasien juga dilibatkan dalam proses pendampingan agar dapat memberikan dukungan selama masa terapi berlangsung.
Silvia menjelaskan, pengobatan tuberkulosis berbeda dengan penyakit infeksi lainnya karena membutuhkan waktu yang relatif lama. Selama menjalani terapi, pasien wajib mengonsumsi obat setiap hari sesuai jadwal yang telah ditentukan serta menerapkan pola hidup sehat.
Kedisiplinan pasien menjadi faktor penting untuk membunuh bakteri penyebab TB secara menyeluruh. Jika pengobatan dihentikan di tengah jalan, bakteri berpotensi bertahan hidup dan berkembang menjadi kebal terhadap obat yang digunakan.
Akibatnya, pasien harus menjalani pengobatan dengan jenis obat yang lebih banyak, durasi terapi lebih panjang, serta membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan pengobatan TB biasa.
Baca Juga: Indomobil E-Motor Tirano: Motor Listrik Adventure dengan Fitur CarPlay, Pesaing Serius X-Ride?
"Kalau pengobatan terputus sebelum waktunya, bakteri bisa menjadi kebal terhadap obat. Akibatnya pengobatan menjadi lebih lama, lebih berat, dan membutuhkan biaya yang lebih besar," jelas Silvia.
Hingga saat ini, Dinas Kesehatan Kota Blitar mencatat terdapat tiga kasus TB Resistan Obat (TBRO). Kasus tersebut terjadi akibat pasien tidak menuntaskan pengobatan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
TBRO merupakan salah satu tantangan dalam pengendalian tuberkulosis karena proses penyembuhannya jauh lebih kompleks dibandingkan TB biasa. Selain membutuhkan waktu lebih lama, pasien juga harus menjalani terapi dengan pengawasan yang lebih ketat.
Baca Juga: Buruan Sikat! Ini Daftar Motor Listrik yang Makin Murah Berkat Subsidi Rp5 Juta Juni 2026
Untuk mencegah bertambahnya kasus TBRO, Dinkes terus memberikan edukasi kepada pasien maupun keluarga mengenai pentingnya menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan. Pendampingan dan kontrol rutin juga dilakukan oleh tenaga kesehatan agar pasien tidak menghentikan terapi secara sepihak.
Silvia berharap seluruh pasien TB tetap mematuhi anjuran tenaga medis hingga dinyatakan sembuh. Dengan kepatuhan tersebut, risiko penularan penyakit dapat ditekan sekaligus mencegah munculnya kasus TB yang resistan terhadap obat.
"Kami terus mengingatkan pasien agar tidak putus obat. Karena ketika sudah masuk kategori TBRO, penanganannya jauh lebih kompleks dibanding TB biasa," pungkasnya.
Editor : Azahra Meilisani Salma