Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Blitar, Siti Anni Makrifah, mengungkapkan bahwa wilayah Kabupaten Blitar memiliki karakteristik geografis yang cukup menantang. Sebagian besar wilayah berada di kawasan pegunungan sehingga membutuhkan waktu lebih lama bagi petugas sensus untuk menjangkau seluruh responden.
Akibat kondisi tersebut, progres Sensus Ekonomi Kabupaten Blitar belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Meski demikian, BPS tetap optimistis capaian pendataan akan meningkat dalam beberapa pekan mendatang seiring semakin terbiasanya petugas di lapangan.
"Seharusnya target kami Sensus Ekonomi sudah mencapai 22 persen, tetapi capaian di Kabupaten Blitar saat ini masih sekitar 16 sampai 18 persen. Karena ada beberapa kendala," ujar Anni.
Baca Juga: Rapel Gaji Pensiunan 6 Bulan Cair 1 Juli 2026? Ini Fakta Resmi dari PT Taspen yang Wajib Diketahui
Wilayah Kabupaten Blitar yang didominasi daerah perbukitan dan pegunungan membuat mobilitas petugas sensus menjadi lebih sulit dibandingkan daerah perkotaan. Selain membutuhkan waktu tempuh lebih panjang, beberapa lokasi juga memiliki akses yang terbatas.
Tak hanya itu, pelaksanaan sensus tahun ini juga menggunakan aplikasi baru yang mengharuskan seluruh petugas melakukan penyesuaian. Proses adaptasi terhadap sistem digital tersebut memerlukan waktu agar petugas mampu mengoperasikan aplikasi secara optimal saat melakukan pendataan.
Menurut Anni, penyempurnaan aplikasi juga masih terus dilakukan sehingga petugas harus menyesuaikan diri dengan berbagai pembaruan sistem selama pelaksanaan sensus berlangsung.
Selain faktor teknis, aktivitas masyarakat di pedesaan turut memengaruhi kelancaran pendataan. Saat ini sebagian besar warga di sejumlah kecamatan sedang memasuki musim panen tebu sehingga mereka lebih banyak menghabiskan waktu di lahan pertanian sejak pagi.
Kondisi itu membuat petugas kesulitan menemui responden apabila datang terlalu pagi. Karena itu, jadwal pendataan harus disesuaikan dengan aktivitas masyarakat agar proses wawancara dapat berjalan efektif.
"Untuk kecamatan-kecamatan di wilayah pedesaan, sebelum pukul 12 siang, masyarakat cukup sulit ditemui karena sedang musim tebu. Biasanya baru bisa ditemui setelah pukul 12 hingga pukul 14.00," jelasnya.
Penyesuaian waktu kunjungan menjadi salah satu strategi yang kini diterapkan petugas agar jumlah responden yang berhasil didata terus meningkat setiap harinya.
Pelaksanaan sensus juga sempat terkendala gangguan jaringan internet dan pemadaman listrik yang terjadi beberapa waktu lalu. Padahal seluruh proses input data dilakukan secara digital menggunakan aplikasi yang telah disiapkan BPS.
Gangguan tersebut menyebabkan proses pelaporan dari lapangan menjadi kurang optimal. Namun, seiring membaiknya kondisi jaringan dan pasokan listrik, pelaksanaan pendataan mulai kembali berjalan normal.
BPS juga terus melakukan evaluasi terhadap sistem aplikasi agar petugas dapat bekerja lebih cepat dan efisien dalam menginput data hasil sensus.
Meski menghadapi berbagai tantangan, BPS Kabupaten Blitar tetap optimistis target pelaksanaan Sensus Ekonomi dapat tercapai pada akhir bulan. Pengalaman petugas yang semakin meningkat, penyempurnaan aplikasi, serta strategi pendataan yang lebih efektif diyakini mampu mempercepat capaian di lapangan.
Anni berharap seluruh kendala yang selama ini dihadapi dapat segera teratasi sehingga proses pendataan berjalan lebih lancar. Dukungan masyarakat juga diharapkan dapat membantu petugas memperoleh data yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi.
"Semoga kondisi listrik sudah aman, teman-teman sudah terbiasa dengan konsep dan definisinya untuk sosialisasi ke masyarakat, aplikasi juga semakin mantap, serta petugas sensus sudah memiliki strategi prioritas di lapangan. Harapan kami, target pada akhir bulan ini bisa tercapai," pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : Azahra Meilisani Salma