
BLITAR KAWENTAR – Di tengah derasnya arus industri musik yang semakin kompetitif, banyak musisi memilih mengikuti selera pasar agar karya mereka mudah diterima publik. Namun, keputusan berbeda justru diambil drummer Hammerhead Blitar, Ramseyna Rifano. Musisi yang akrab disapa Fano itu memilih tetap setia pada idealisme bermusik meski harus berjalan di jalur independen.
Bagi drummer Hammerhead Blitar tersebut, musik bukan sekadar komoditas hiburan yang harus terus menyesuaikan tren. Musik adalah identitas yang mencerminkan karakter sekaligus akar musikal yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Pilihan untuk mempertahankan idealisme itulah yang hingga kini terus dipegang Fano. Meski genre yang diusung tidak termasuk musik populer dengan pasar yang luas, dia tetap yakin bahwa kualitas karya akan menemukan pendengarnya sendiri.
Fano menjelaskan bahwa sejak awal dirinya memang tidak pernah memiliki keinginan membuat karya hanya demi mengikuti permintaan pasar. Baginya, konsistensi terhadap karakter musik jauh lebih penting dibanding mengejar popularitas sesaat.
"Saya bermusik sesuai idealisme, dari segi kualitas musiknya. Alasannya karena itu menguatkan karakter dari root atau akar musikku saat ini, yaitu di genre heavy blues, rock, dan stoner rock," ujarnya.
Genre heavy blues, rock, hingga stoner rock memang dikenal memiliki karakter musik yang kuat dengan segmentasi pendengar yang lebih spesifik dibanding genre pop atau musik komersial lainnya. Namun justru di situlah Fano menemukan identitasnya sebagai seorang musisi.
Menurutnya, seorang musisi seharusnya memiliki ciri khas yang membedakan dirinya dari karya-karya lain. Karakter tersebut dibangun melalui proses panjang, pengalaman bermusik, hingga eksplorasi berbagai referensi yang akhirnya membentuk warna musik tersendiri.
Di tengah perkembangan industri musik digital yang sangat cepat, banyak musisi memilih menyesuaikan gaya bermusik agar mudah diterima algoritma platform streaming maupun media sosial.
Namun Fano mengaku tidak ingin langkah kreatifnya ditentukan oleh tren yang terus berubah. Ia lebih memilih menghasilkan karya yang benar-benar sesuai dengan keyakinannya sebagai musisi.
Keputusan tersebut bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan musik. Sebaliknya, dia tetap mengikuti dinamika industri, tetapi tidak menjadikannya sebagai dasar utama dalam menciptakan lagu maupun menentukan arah musikal Hammerhead.
Baca Juga: Skor TKM Jadi Dasar Evaluasi, Dispussip Kabupaten Blitar Gencarkan Program Literasi
Bagi Fano, mengikuti tren hanya akan membuat karakter musik kehilangan identitas. Karena itu, ia memilih tetap konsisten mempertahankan akar musik yang selama ini diyakininya.
Fano menyadari bahwa keputusan mempertahankan idealisme tentu memiliki konsekuensi. Musik dengan nuansa heavy blues dan stoner rock memiliki pasar yang tidak sebesar genre populer.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya mengubah arah bermusik. Justru ia ingin memperkenalkan warna musik yang diyakininya kepada masyarakat dan membuka ruang bagi penikmat musik dengan selera serupa.
Baca Juga: Daftar 7 bansos Juli 2026, PKH Juli 2026, BPNT Tahap 3, PIP 2026, Bantuan Beras 10 Kg
"Kalau dibilang mengikuti pasar, ya tidak. Saya justru ingin membuka pasar dengan selera musik saya sendiri. Jadi, laku atau tidak, ya ini musik saya," tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa baginya, keberhasilan seorang musisi tidak hanya diukur dari jumlah pendengar ataupun popularitas, tetapi juga dari konsistensi menjaga kualitas karya dan identitas musikal.
Di tengah derasnya persaingan industri musik saat ini, sikap seperti yang ditunjukkan Fano menjadi gambaran bahwa masih ada musisi yang memilih mempertahankan prinsip dibanding mengejar tren sesaat. Dengan tetap berada di jalur independen, drummer Hammerhead Blitar itu berharap karya-karyanya mampu menemukan pendengar yang benar-benar menghargai proses, karakter, dan kualitas musik yang ia bangun sejak awal.(jar/c1/sub)
Editor : Brilian Syifa Almasih