BLITAR KAWENTAR – Musik mellow maupun musik cadas sering kali dipandang bertolak belakang. Musik mellow kerap dianggap identik dengan kesedihan, sedangkan musik cadas kerap mendapat stigma sebagai musik penuh kemarahan. Namun, bagi sebagian anak muda, kedua genre tersebut justru memiliki manfaat yang sama, yakni membantu menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, hingga meningkatkan produktivitas.
Bagi Shellia Arum Amanda, musik mellow bukan sekadar alunan lagu bertempo lambat. Perempuan 28 tahun asal Kelurahan Kademangan, Kecamatan Kademangan, itu menganggap musik sebagai media untuk memahami dan mengekspresikan perasaan. Menurutnya, lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat musik mellow terasa lebih bermakna.
Shellia mengatakan, musik mellow justru menjadi teman terbaik ketika suasana hati sedang tidak stabil. Alih-alih membuat seseorang semakin larut dalam kesedihan, lagu-lagu bernuansa syahdu mampu memberikan ketenangan sekaligus menjadi penyemangat menjalani aktivitas harian.
Shellia mengaku hampir setiap hari mendengarkan lagu-lagu bergenre mellow maupun indie, terutama saat sedang bekerja atau melakukan perjalanan.
Baginya, musik dengan tempo yang lebih tenang mampu membantu menjaga fokus tanpa mengganggu konsentrasi. Selain itu, lirik yang menyentuh sering kali menjadi pengingat berbagai pengalaman hidup yang pernah dilalui.
"Kalau pas di perjalanan atau lagi ada kerjaan, musik mellow justru bisa jadi 'bensin' untuk produktivitas sehari-hari," tuturnya.
Ia menilai anggapan bahwa musik mellow selalu identik dengan kegalauan tidak sepenuhnya benar. Justru, ketika didengarkan dalam kondisi yang tepat, musik dapat membantu seseorang mengelola emosi sehingga pikiran menjadi lebih tenang.
Fenomena tersebut juga semakin banyak ditemui di kalangan generasi muda yang menjadikan playlist musik sebagai teman belajar, bekerja, hingga menemani perjalanan jauh.
Di sisi lain, pengalaman berbeda dirasakan M. Daffa H., penikmat musik cadas asal Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul.
Baca Juga: Skor TKM Jadi Dasar Evaluasi, Dispussip Kabupaten Blitar Gencarkan Program Literasi
Bagi Daffa, dentuman gitar distorsi dan tempo cepat bukanlah sumber kemarahan, melainkan media untuk menyalurkan emosi secara positif.
Saat menghadapi tekanan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari, ia memilih mendengarkan musik cadas sebagai cara mengurangi stres.
"Kalau lagi stres atau capek, dengerin musik cadas bikin pikiran jadi lebih lega," ujarnya.Menurutnya, sensasi katarsis yang muncul setelah mendengarkan musik keras membuat beban pikiran terasa lebih ringan. Karena itu, ia tidak sepakat apabila musik cadas selalu dikaitkan dengan perilaku negatif.
Baca Juga: Daftar 7 bansos Juli 2026, PKH Juli 2026, BPNT Tahap 3, PIP 2026, Bantuan Beras 10 Kg
Selain menikmati musiknya, Daffa juga aktif mengikuti berbagai pertunjukan musik cadas. Ia menilai suasana konser memiliki daya tarik tersendiri karena mampu mempertemukan banyak orang dengan latar belakang berbeda.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika berada di area moshpit. Meski terlihat keras dari luar, suasana di dalamnya justru dipenuhi rasa saling menghormati antarpenonton.
"Di dalam moshpit, sekat-sekat asing seketika runtuh. Semua orang menyatu menikmati musik yang sama, melahirkan rasa kebersamaan yang solid meski baru pertama kali bersua," katanya.
Baca Juga: Daftar 7 Bansos Juli 2026 Mulai Disalurkan, PKH, BPNT hingga Bantuan Pendidikan Siap Cair
Menurut Daffa, solidaritas yang tumbuh dalam komunitas musik menjadi alasan banyak orang tetap setia mengikuti berbagai acara musik cadas.
Baik Shellia maupun Daffa sepakat bahwa setiap genre musik memiliki fungsi berbeda sesuai kebutuhan pendengarnya.
Musik mellow dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penenang ketika emosi sedang tidak stabil. Sebaliknya, musik cadas mampu menjadi sarana pelepas tekanan tanpa harus berujung pada tindakan negatif.
Baca Juga: PKH dan BPNT Tahap 3 Juli 2026 Masuki Tahap Baru, Status Sejumlah KPM Berubah, Dana Kapan Cair?
Daffa pun berharap masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata para penikmat musik keras. Baginya, karakter seseorang tidak ditentukan oleh genre musik yang didengarkan.
"Musik cadas nggak selalu identik sama hal negatif. Yang penting tetap tahu batasan dan bersikap baik," pungkasnya.
Pandangan kedua anak muda tersebut menunjukkan bahwa musik pada dasarnya merupakan media ekspresi yang mampu menghadirkan manfaat psikologis bagi pendengarnya. Baik musik mellow maupun musik cadas sama-sama memiliki ruang di hati para pencinta musik, selama dinikmati secara positif dan mampu memberikan energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino