BLITAR– KAWENTAR media sosial kini menjadi salah satu faktor yang membentuk selera musik Generasi Z. Jika dulu pendengar cenderung setia pada satu genre, kini Gen Z dapat dengan mudah menikmati musik elektronik seperti Phonk, EDM, hingga karya-karya musisi seperti Hindia dalam waktu yang bersamaan berkat rekomendasi dari platform digital.
Fenomena tersebut terlihat dari semakin cairnya preferensi musik anak muda. Musik beraliran elektronik dengan beat cepat banyak dipilih saat berolahraga, belajar, hingga mengedit konten karena mampu meningkatkan energi dan fokus. Di sisi lain, lagu-lagu bernuansa reflektif juga menjadi pilihan ketika mereka ingin menenangkan diri atau menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.
Perubahan pola konsumsi musik ini tidak lepas dari peran algoritma media sosial di platform seperti TikTok dan Instagram. Konten yang muncul secara acak berdasarkan minat pengguna membuat seseorang dapat menemukan berbagai jenis musik tanpa harus mencarinya secara khusus.
Influencer musik Kholid Alawil Mubarok menjelaskan, musik elektronik menjadi ruang bagi Generasi Z untuk melepaskan energi sekaligus mengikuti ritme kehidupan yang semakin cepat. Beat yang agresif dinilai mampu membantu meningkatkan fokus, membangun semangat, dan menjadi mekanisme coping terhadap padatnya aktivitas.
Menurutnya, tidak sedikit anak muda yang memilih mendengarkan musik Phonk, EDM, atau jedag-jedug ketika beraktivitas. Irama yang dinamis membuat mereka merasa lebih produktif dan termotivasi menyelesaikan pekerjaan maupun kegiatan sehari-hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa musik tidak lagi sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari cara Generasi Z mengelola emosi dan menjaga produktivitas di tengah mobilitas yang tinggi.
Baca Juga: Skor TKM Jadi Dasar Evaluasi, Dispussip Kabupaten Blitar Gencarkan Program Literasi
Di sisi lain, karya-karya Hindia menawarkan pengalaman yang berbeda. Lagu-lagunya justru menjadi ruang refleksi yang lebih tenang bagi pendengar yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup.
Kholid menilai lirik dalam lagu seperti Secukupnya maupun Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya mengajak pendengar menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Pesan tersebut membuat banyak anak muda merasa lebih dekat dengan karya-karya Hindia karena mampu mewakili keresahan yang mereka alami.
"Sebaliknya, karya-karya Hindia menawarkan ruang yang lebih sunyi. Lirik-lirik seperti dalam Secukupnya atau Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya mengajak pendengarnya menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana dan kegagalan bukanlah aib," ujar Kholid.
Baca Juga: 7 Bansos Cair Juli 2026 Siap Disalurkan, PKH, BPNT hingga KIP Kuliah Berpotensi Masuk Bersamaan
Menurut Kholid, perubahan selera musik tersebut tidak lepas dari sistem algoritma media sosial yang terus mempelajari kebiasaan pengguna. TikTok maupun Instagram tidak lagi mengelompokkan pengguna berdasarkan satu genre musik tertentu.
Seseorang bisa menemukan lagu Phonk melalui video olahraga atau otomotif, kemudian beberapa saat kemudian menemukan lagu Hindia melalui video sinematik yang membahas keresahan hidup. Pola rekomendasi seperti inilah yang membuat pengalaman mendengarkan musik menjadi semakin beragam.
"Algoritma membuat pengalaman mendengarkan musik menjadi semakin cair," jelasnya.
Pada akhirnya, Generasi Z tidak lagi mencari musik hanya berdasarkan genre. Mereka lebih memilih lagu yang terasa relevan dengan situasi yang sedang dihadapi. Musik elektronik membantu menghadapi dunia luar yang penuh tekanan, sementara karya-karya Hindia menjadi teman untuk berdamai dengan diri sendiri. (kho/c1/sub)
Editor : Cecilia Dzakira Pasha