BLITAR KAWENTAR – Selera musik Gen Z mengalami perubahan besar dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu seseorang identik dengan satu aliran musik tertentu, kini anak muda justru menikmati berbagai genre sekaligus dalam satu daftar putar. Perubahan ini tidak lepas dari perkembangan internet, media sosial, serta platform streaming yang membuat akses terhadap musik menjadi semakin luas.
Fenomena selera musik Gen Z yang semakin terbuka dinilai sebagai dampak langsung dari rekomendasi algoritma pada layanan streaming digital. Anak muda kini dapat menemukan lagu-lagu baru hanya melalui sistem rekomendasi yang disesuaikan dengan kebiasaan mereka mendengarkan musik. Akibatnya, batas antar-genre yang dulu begitu kuat kini semakin memudar.
Pengamat musik Herry Sic menilai perubahan pola konsumsi musik tersebut menjadi salah satu ciri utama generasi muda saat ini. Menurutnya, keberagaman referensi membuat Gen Z tidak lagi membatasi diri hanya pada satu jenis musik. Dalam satu playlist, mereka bisa menikmati K-pop, jazz, hiphop, dangdut koplo, hingga musik ekstrem tanpa merasa harus memilih identitas musikal tertentu.
Baca Juga: Algoritma Media Sosial Ubah Selera Musik Gen Z, dari Phonk hingga Hindia Kini Dinikmati Bersamaan
Perubahan terbesar terjadi karena kemudahan akses terhadap jutaan lagu melalui platform digital. Jika pada masa lalu radio, televisi, atau toko kaset menjadi sumber utama mengenal musik baru, kini layanan streaming mengambil alih peran tersebut.
Algoritma yang diterapkan platform digital terus mempelajari kebiasaan pengguna. Dari riwayat lagu yang diputar, sistem akan memberikan rekomendasi musik lain yang dianggap sesuai dengan selera pendengar. Proses ini membuat pengguna terus menemukan genre baru tanpa harus mencarinya secara manual.
Kondisi tersebut menciptakan pola konsumsi musik yang jauh lebih fleksibel. Tidak ada lagi batas yang tegas antara penggemar pop, rock, metal, atau genre lainnya. Seseorang dapat menikmati berbagai warna musik dalam waktu yang sama tanpa merasa keluar dari identitas tertentu.
Meski memiliki referensi musik yang semakin luas, keterbukaan tersebut tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang lebih mendalam terhadap setiap genre.
Menurut Herry Sic, banyak anak muda mengenal beragam jenis musik, tetapi belum tentu memahami sejarah, karakter, maupun perkembangan masing-masing genre. Mereka lebih banyak mengenal lagu-lagu yang sedang populer karena muncul di media sosial atau rekomendasi platform digital.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kecepatan akses informasi memang memperluas wawasan musik, tetapi belum tentu menghasilkan kedalaman pengetahuan mengenai budaya dan perjalanan sebuah genre.
Perubahan selera pendengar juga berdampak terhadap industri musik Indonesia. Salah satu transformasi paling besar terjadi pada sistem distribusi karya musik.
Jika sebelumnya label rekaman menjadi jalur utama agar lagu dapat didengar masyarakat luas, kini musisi independen memiliki kesempatan yang jauh lebih besar. Platform digital memungkinkan karya mereka dipublikasikan langsung kepada pendengar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perusahaan rekaman.
Model distribusi seperti ini membuka ruang kompetisi yang lebih luas. Musisi dapat membangun basis penggemar sendiri melalui layanan streaming maupun media sosial, sementara algoritma membantu mempertemukan karya mereka dengan calon pendengar yang memiliki minat serupa.
Di sisi lain, perubahan tersebut juga mengubah cara lagu menjadi populer. Kini popularitas tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh radio atau televisi, melainkan oleh algoritma digital yang terus mempelajari kebiasaan pengguna dalam menikmati musik.
Menurut Herry Sic, kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah menghapus banyak sekat yang sebelumnya membedakan selera musik antar-komunitas. Generasi Z tumbuh dalam ekosistem digital yang memungkinkan mereka mengakses hampir seluruh genre musik hanya melalui satu perangkat, sehingga preferensi mereka menjadi jauh lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. *(bud/c1/sub)*
Editor : Brilian Syifa Almasih